JawaPos.com — Pesona Desa Wisata Penglipuran seperti tak pernah kehilangan daya tariknya, apalagi setelah perayaan Nyepi 2026 berlalu. Momentum libur Lebaran langsung memantik lonjakan wisatawan yang datang silih berganti setiap hari.
Suasana desa yang dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia itu mendadak jauh lebih ramai dari biasanya.
Jalan-jalan rapi yang sebelumnya hening saat Nyepi kini dipenuhi langkah kaki wisatawan yang penasaran ingin merasakan langsung atmosfer khas Bali.
Baca Juga: Geger! Mayat Perempuan Berdaster Merah Ditemukan di Sawah Pasuruan, Identitas Masih Misterius
Data kunjungan terbaru menunjukkan peningkatan signifikan sejak pertengahan Maret 2026. Lonjakan itu seakan menjadi bukti jika Penglipuran tetap menjadi destinasi favorit, bahkan di tengah banyaknya pilihan wisata lain di Bali.
Manager Daya Tarik Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, mencatat grafik kunjungan mulai merangkak naik sejak 17 Maret. Namun, puncak keramaian benar-benar terasa setelah Hari Raya Nyepi usai.
Pada 20 Maret, jumlah pengunjung tercatat sebanyak 2.644 orang. Angka tersebut kemudian melonjak drastis hanya dalam hitungan hari berikutnya.
Tanggal 21 Maret, jumlah wisatawan mencapai 4.111 orang. Sehari berselang, tepatnya 22 Maret, jumlah itu kembali meningkat menjadi 4.387 pengunjung.
Lonjakan ini bukan sekadar angka, tetapi juga mencerminkan tingginya minat wisatawan terhadap pengalaman wisata berbasis budaya.
Penglipuran menawarkan sesuatu yang sulit ditemukan di tempat lain, yakni harmoni antara manusia, alam, dan tradisi.
"Mayoritas masih didominasi wisatawan domestik dari kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya," jelas Sumiarsa, Senin (23/3/2026).
Pernyataan itu sekaligus menegaskan dominasi pelancong lokal selama musim libur Lebaran tahun ini.
Fenomena ini juga menunjukkan adanya pergeseran tren wisata masyarakat Indonesia. Banyak wisatawan kini lebih tertarik pada destinasi yang menawarkan ketenangan sekaligus nilai budaya yang kuat.
Tak hanya sekadar berjalan-jalan, wisatawan yang datang ke Penglipuran biasanya ingin merasakan langsung kehidupan masyarakat setempat.
Rumah-rumah tradisional yang tertata rapi menjadi daya tarik utama yang sulit dilewatkan.
Selain itu, kebersihan desa yang selalu terjaga menjadi nilai lebih yang membuat wisatawan betah berlama-lama. Bahkan, banyak pengunjung yang menjadikan Penglipuran sebagai lokasi foto favorit selama liburan Lebaran.
Hingga saat ini, total kunjungan selama bulan Maret telah menembus angka 23.811 orang. Angka tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah seiring masih berlangsungnya masa libur Lebaran.
Pihak pengelola pun tak tinggal diam menghadapi lonjakan ini. Berbagai persiapan telah dilakukan untuk memastikan kenyamanan wisatawan tetap terjaga.
Mulai dari pengaturan arus kunjungan hingga penyediaan atraksi budaya, semua disiapkan secara matang. Tujuannya agar pengalaman wisata di Penglipuran tetap berkesan meski dalam kondisi ramai.
Beragam suguhan budaya juga disiapkan untuk menyambut para pelancong. Mulai dari pertunjukan seni hingga interaksi langsung dengan masyarakat lokal menjadi daya tarik tambahan yang memperkaya pengalaman wisata.
Bagi wisatawan, momen ini menjadi kesempatan langka untuk melihat sisi lain Bali yang lebih autentik. Tidak hanya pantai dan hiburan modern, tetapi juga kearifan lokal yang masih terjaga dengan baik.
Kondisi ini sekaligus menjadi angin segar bagi sektor pariwisata Bali. Setelah sempat mengalami berbagai tantangan, lonjakan wisatawan saat libur Lebaran menjadi sinyal positif pemulihan.
Penglipuran pun kembali membuktikan dirinya sebagai destinasi unggulan yang mampu bertahan di tengah perubahan zaman. Keunikan dan konsistensi dalam menjaga budaya menjadi kunci utama daya tariknya.
Baca Juga: Ditinggal Berlebaran, Rumah Warga di Kembangan Jakbar Kebakaran
Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin jumlah kunjungan akan melampaui target yang telah ditetapkan. Apalagi, minat wisatawan terhadap wisata berbasis budaya diprediksi akan terus meningkat.
Di tengah hiruk pikuk destinasi wisata modern, Penglipuran hadir sebagai oase yang menawarkan ketenangan. Sebuah tempat di mana tradisi tetap hidup dan menjadi daya tarik utama bagi siapa saja yang datang.
Libur Lebaran 2026 pun menjadi saksi bagaimana desa kecil ini mampu menyedot perhatian ribuan wisatawan setiap harinya. Sebuah bukti nyata jika pesona budaya tak pernah lekang oleh waktu.