JawaPos.com - Baru-baru ini, ditemukan kalau celah keamanan PHP2Shell menjadi ancaman serius bagi pengelola situs web dan server karena memungkinkan peretas menjalankan kode berbahaya dari jarak jauh tanpa harus memiliki akun atau kata sandi.
Praktisi keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya, mengingatkan bahwa kerentanan ini perlu segera ditangani melalui pembaruan PHP, terutama pada server yang masih menggunakan versi lama.
PHP2Shell menjadi perhatian dunia keamanan siber karena kerentanan yang ditemukan berada di inti mesin pemrosesan bahasa pemrograman PHP.
"Temuan ini juga menandai perkembangan baru dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi celah keamanan yang sulit ditemukan melalui pemeriksaan konvensional," kata Alfons kepada JawaPos.com.
Baca Juga: 500 Supermarket di Prancis Diserang Hacker, Freezer Panas hingga 50 Derajat
PHP selama ini menjadi salah satu komponen penting dalam ekosistem internet.
Jika Windows dikenal sebagai sistem operasi yang digunakan pada banyak komputer, PHP bekerja di balik layar untuk menjalankan berbagai fungsi situs web dan aplikasi, termasuk layanan berbasis intranet.
Besarnya ketergantungan terhadap PHP membuat kerentanan pada komponen ini berpotensi menimbulkan dampak luas.
Terlebih, server yang terhubung dengan sistem internal perusahaan atau lembaga pemerintahan dapat menjadi pintu masuk untuk menyerang infrastruktur digital lainnya.
Dua Celah Buka Jalan Bagi Peretas
PHP2Shell merujuk pada rangkaian kerentanan yang dalam materi ini diidentifikasi sebagai CVE-2026-109618 dan CVE-2026-109619. Keduanya disebut memiliki tingkat keparahan kritis, dengan skor 9,2 dari 10.
Celah pertama, CVE-2026-109618, berkaitan dengan manipulasi memori. Penyerang dapat mengirimkan permintaan yang dirancang khusus untuk memicu kondisi kesalahan pada pemrosesan memori.
Baca Juga: AI Canggih kini Bisa Jalankan Serangan Siber, Biaya jadi Senjata Baru Hacker
Apabila berhasil dieksploitasi, kondisi tersebut dapat merusak mekanisme perlindungan dan membuka peluang untuk menyisipkan kode berbahaya.
Celah kedua, CVE-2026-109619, berkaitan dengan eksekusi kode jarak jauh atau remote code execution (RCE).
Kemampuan ini memungkinkan penyerang menjalankan perintah pada server yang terdampak tanpa harus mengaksesnya secara fisik.
Risiko RCE tidak berhenti pada gangguan situs web. Jika penyerang memperoleh kendali yang memadai, server dapat digunakan untuk mengakses data, mengubah informasi, menghapus berkas, atau menjadi titik awal untuk menyerang sistem lain yang terhubung ke jaringan.
Hal yang membuat ancaman ini semakin serius adalah potensi eksploitasi tanpa autentikasi. Dalam kondisi yang rentan, penyerang tidak harus memiliki nama pengguna maupun kata sandi untuk mencoba mengambil alih server.
Baca Juga: Hacker Demak Raup Rp 300 Juta dari Retas dan Jual Website untuk Iklan Judol
Versi PHP mana yang perlu diperbarui?
Pengelola situs web perlu memeriksa versi PHP yang digunakan pada server, termasuk sistem internal yang tidak dapat diakses secara langsung dari internet.
Berdasarkan informasi versi dalam materi yang disampaikan, versi PHP yang perlu mendapat perhatian meliputi PHP 8.2.34, 8.3.35, 8.4.26, dan 8.5.11 beserta versi sebelumnya yang terdampak. Versi perbaikan yang dicantumkan adalah PHP 8.2.35, 8.3.36, 8.4.27, dan 8.5.12.
PHP 5.x, 7.x, serta PHP 8.0 dan 8.1 versi awal juga menjadi perhatian karena sejumlah cabang tersebut sudah tidak memperoleh dukungan keamanan reguler.
Sistem yang masih menggunakannya menghadapi risiko tambahan ketika ditemukan kerentanan baru.
Baca Juga: Mau Konversi Motor Bensin Jadi Motor Listrik? United E-Motor Sediakan Bengkel Pelaksana
Meski demikian, administrator tidak sebaiknya hanya mengandalkan nomor versi dari daftar tersebut.
Status kerentanan dan ketersediaan patch perlu diverifikasi melalui pengumuman resmi PHP untuk memastikan versi yang dipakai benar-benar sudah mendapatkan perbaikan.
Segera Lakukan Pembaruan
Memperbarui PHP bukan sekadar mengganti perangkat lunak. Pada sistem yang sudah lama berjalan, perubahan versi dapat menyebabkan ketidakcocokan dengan kode aplikasi, pustaka, atau komponen lain yang menjadi penopang layanan.
Akibatnya, pengelola sistem harus melakukan pengujian, memperbaiki kode yang tidak kompatibel, serta memastikan layanan tetap berfungsi setelah pembaruan.
Baca Juga: Meta Diminta Bertanggung Jawab atas Konten Karhutla yang Dihapus
Proses tersebut bisa memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan pembuatan skrip serangan otomatis.
Kesenjangan waktu inilah yang menjadi persoalan utama dalam penanganan kerentanan kritis.
Begitu informasi teknis dan metode eksploitasi beredar, penyerang dapat berupaya mengotomatisasi serangan, sedangkan tim teknologi informasi harus memastikan perbaikan tidak menimbulkan gangguan yang lebih besar.
Karena itu, pengelola server perlu memprioritaskan aset yang dapat diakses dari internet, membatasi akses ke layanan yang rentan, memantau aktivitas mencurigakan, serta menyiapkan pembaruan melalui prosedur pengujian yang memadai.
Untuk sistem yang belum dapat diperbarui, pembatasan akses jaringan dan isolasi sementara dapat menjadi langkah mitigasi. Namun, langkah tersebut bukan pengganti patch keamanan.
PHP2Shell memperlihatkan bahwa komponen perangkat lunak yang bekerja di balik layar dapat menjadi titik lemah bagi keseluruhan infrastruktur digital.
Tanpa inventarisasi sistem dan pembaruan keamanan yang konsisten, satu server yang tertinggal dapat membuka jalan bagi serangan yang lebih luas.