← Beranda
Kapasitas Pusat Data Indonesia Ditargetkan 2.000 MW pada 2029, Pasokan Listrik Jadi Tantangan
Dimas Choirul• Rabu, 14 Oktober 2026 | 06.50 WIB
Ilustrasi pusat data. (Istimewa).

 

JawaPos.com – Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan kapasitas pusat data Indonesia mencapai 2.000 megawatt (MW) pada 2029.

Target tersebut menuntut kesiapan infrastruktur kelistrikan untuk menopang pertumbuhan industri pusat data, terutama seiring meningkatnya kebutuhan komputasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kebutuhan listrik menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan infrastruktur pusat data. Peningkatan kapasitas komputasi, khususnya untuk kebutuhan AI, mendorong kebutuhan daya yang lebih besar sekaligus menuntut sistem kelistrikan yang mampu menjaga keandalan pasokan.

"Pasokan listrik kini menjadi tantangan terbesar dalam membangun infrastruktur AI," kata Strategic Segment Director Asia Pasifik CHINT Paul Lee dalam keterangannya, Selasa (13/10).

Baca Juga: Suasana Gedung Merah Putih KPK Sepi Pasca OTT Dugaan Korupsi BNPB

Tantangan tersebut turut menjadi pembahasan dalam ajang Data Centre World Asia 2026 di Singapura pada 13 Oktober 2026. Dalam kegiatan itu, CHINT memperkenalkan Power Pod, sistem kelistrikan modular yang mengintegrasikan sejumlah perangkat dalam satu unit dan menjalani perakitan serta pengujian di pabrik sebelum dikirim ke lokasi proyek.

Perusahaan tersebut mengklaim sistem modular itu dapat memangkas waktu pemasangan hingga 60 persen dibandingkan metode perakitan langsung di lokasi proyek. Pemasangan unit di lokasi disebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu minggu.

Melalui pendekatan tersebut, sebagian pekerjaan integrasi dan pengujian dilakukan sebelum peralatan dikirim. Meski demikian, waktu pemasangan aktual tetap bergantung pada kesiapan lokasi, kebutuhan proyek, dan integrasi dengan infrastruktur yang sudah tersedia.

Power Pod menggunakan kontainer tertutup yang dapat ditempatkan di luar ruangan. Sistem ini menggabungkan perangkat switchgear, transformator, proteksi sirkuit, serta sejumlah perangkat pendukung, termasuk pendingin dan proteksi kebakaran.

CHINT menyebut unit tersebut tersedia dalam konfigurasi berkapasitas 500 kilowatt (kW) hingga 4.000 kW. Rentang kapasitas itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan daya dengan skala berbeda, termasuk pada lingkungan komputasi berkepadatan tinggi.

Selain sistem modular, perusahaan tersebut mengembangkan Solid-State Transformer (SST), teknologi transformator yang berpotensi digunakan dalam arsitektur kelistrikan arus searah atau direct current (DC).

Teknologi tersebut juga berkaitan dengan pengembangan sistem distribusi listrik berbasis high-voltage direct current (HVDC) untuk pusat data. Penggunaan arsitektur DC berpotensi mengurangi tahapan konversi daya sehingga kehilangan energi dalam proses tersebut dapat ditekan. Namun, penerapannya tetap bergantung pada desain sistem, efisiensi peralatan, dan kebutuhan operasional pusat data.

Di tengah target peningkatan kapasitas pusat data Indonesia, ketersediaan pasokan listrik yang andal menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhitungkan. Pertumbuhan industri ini tidak hanya membutuhkan penambahan kapasitas pusat data, tetapi juga kesiapan jaringan dan sistem kelistrikan untuk menopang kebutuhan daya yang terus meningkat.

EDITOR: Sabik Aji Taufan