JawaPos.com - Meta kembali mengejar ambisi lama Mark Zuckerberg untuk membangun platform teknologi yang menjadi pintu masuk utama aktivitas digital. Kali ini, senjatanya bukan jejaring sosial, realitas virtual, atau kacamata pintar, melainkan Muse, agen kecerdasan buatan (AI) personal yang dapat menjalankan berbagai tugas daring atas nama pengguna.
Muse langsung mencatat momentum besar. Aplikasi itu menempati posisi teratas App Store dan pada Senin (21/9) dan masih menjadi aplikasi gratis yang paling banyak diunduh, mengungguli ChatGPT. Saham Meta juga melonjak 11 persen pada hari yang sama, mendekati rekor yang dicapai musim panas lalu. Pergerakan itu menunjukkan besarnya perhatian pasar terhadap peluang Muse menjadi penghubung baru antara konsumen dan bisnis.
Dilansir dari Business Insider, Selasa (22/9/2026), peluang itu berangkat dari kemungkinan Muse menjadi cara utama pengguna menyelesaikan aktivitas daring. Jika jutaan orang mengandalkannya untuk berbelanja, memesan perjalanan, mengatur janji, membandingkan produk, hingga mengelola langganan, perusahaan akan memiliki alasan kuat untuk memastikan layanan mereka tersedia melalui Muse.
Bagi Zuckerberg, arah ini melanjutkan pencarian platform yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Meta telah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk membangun platform komputasi berikutnya melalui realitas virtual dan kemudian kacamata pintar. Perubahan kebijakan Apple pada 2021 yang membatasi kemampuan Meta melacak pengguna lintas aplikasi juga memperlihatkan betapa besar kekuatan pemilik platform terhadap perusahaan yang bergantung padanya.
Baca Juga: Google Danai Pembangkit Nuklir Georgia untuk Menambah Daya bagi Lonjakan Kebutuhan Data Center
Kini Muse menawarkan jalur berbeda dengan membuka akses bagi pengembang melalui sistem connector. Layanan perjalanan dapat digunakan untuk memesan penerbangan, aplikasi kalender mengatur jadwal, sedangkan layanan surat elektronik dapat mengirim pesan. Pengembang mengajukan connector kepada Meta untuk diperiksa sebelum tersedia bagi pengguna.
Meta menjelaskan, "Kami akan meninjau connector Anda berdasarkan persyaratan fungsional, keamanan, dan hukum, serta melakukan pengujian menyeluruh dari awal hingga akhir." Setelah disetujui, connector dapat ditemukan di Muse dan dipertimbangkan untuk penempatan unggulan.
Daya tarik ekosistem itu mulai terlihat dari keterlibatan Shopify dan Stripe. Shopify mengumumkan dukungan belanja melalui Muse menggunakan Shop Pay, sementara Stripe menyediakan teknologi pembayaran agar Muse dapat menyelesaikan transaksi di berbagai situs.
Kerja sama tersebut menunjukkan bahwa agen AI mulai mengambil peran dalam perdagangan digital dengan menghubungkan pengguna, layanan, dan transaksi melalui satu platform. Modelnya sendiri menyerupai cara Google Search dan App Store Apple membangun kekuatan: menjadi titik awal ketika konsumen hendak mencari informasi atau menggunakan layanan.
Pengusaha teknologi Greg Isenberg menilai, "Menjadi yang pertama bisa sama berharganya dengan menjadi yang pertama di App Store pada 2009." Menurutnya, "Setiap bisnis akan membutuhkan strategi agen, seperti setiap bisnis dulu membutuhkan strategi seluler." Dia bahkan melihat connector Muse berpotensi menjadi "daftar aplikasi baru", sementara API perusahaan dapat menjadi lebih penting daripada aplikasinya sendiri.
Akan tetapi, perebutan posisi itu langsung menghadapi perlawanan. Amazon memblokir Muse dari aktivitas belanja di situsnya setelah menilai akses agen tersebut tidak berwenang.
Amazon menyatakan pihaknya tidak diberi tahu sebelumnya mengenai akses Muse dan meminta Meta menghapus Amazon dari pengalaman belanja Muse. Pesan yang muncul kepada pengguna menyebut, "Akses berkelanjutan oleh agen AI yang tidak berwenang melanggar Ketentuan Penggunaan Amazon."
Kontras itu terlihat jelas dengan langkah Shopify. Jika Muse berkembang menjadi pintu utama konsumen, perusahaan yang menolak akses dapat berisiko kehilangan permintaan yang diarahkan agen AI.
Baca Juga: Jensen Huang Bantah Klaim AI Akan Memusnahkan Manusia pada 2030
Nicolas Bustamante, pekerja bidang AI di Microsoft, menulis, "Jika Instacart menerima agen AI sementara Amazon memblokirnya, agen akan semakin mengarahkan permintaan ke Instacart. Konsumen akan diuntungkan, sementara Amazon pada akhirnya harus memilih antara mempertahankan hubungan langsung dengan pelanggan atau menawarkan layanan yang lebih bernilai."
Persaingan juga tidak berhenti pada Meta. OpenAI, SpaceX, dan perusahaan lain tengah mengembangkan agen AI yang ingin menjadi asisten bawaan konsumen. Karena itu, keberhasilan Muse tidak hanya ditentukan jumlah unduhan, tetapi apakah Meta mampu menjadikannya titik awal berbagai aktivitas digital dan menarik cukup banyak pengembang untuk membangun layanan di dalamnya.
Jika agen AI benar-benar menjadi cara utama manusia beraktivitas secara daring, kendali atas platform agen dapat memiliki nilai strategis yang sebelumnya dimiliki mesin pencari dan sistem operasi seluler.