← Beranda
Winamp Bangkit Kembali dan Tawarkan Layanan Streaming Premium
Nanda PrayogaSelasa, 22 September 2026 | 04.50 WIB
Winamp. (Engadget)

JawaPos.com - Winamp, pemutar MP3 legendaris yang pernah mendominasi desktop Windows sebelum era layanan streaming musik, bakal kembali dengan wajah baru.

Namun, kebangkitan Winamp kali ini tidak sekadar menghadirkan kembali pemutar musik klasik yang dikenal dengan tampilan dan skin yang bisa dikustomisasi sesuka hati.

Winamp menggandeng Deezer untuk melahirkan pemutar musik baru yang akan dibekali layanan berlangganan premium miliknya sendiri.

Seperti dilansir dari Engadget, melalui kemitraan tersebut, Deezer akan menyediakan teknologi streaming berlabel putih atau white-label sekaligus katalog musik berlisensi untuk layanan baru Winamp.

Sementara itu, Winamp akan tetap memegang kendali atas produk, merek, dan hubungan dengan para pelanggannya.

Berdasarkan pengumuman resmi, pemutar musik baru Winamp akan menggabungkan layanan berlangganan tersebut dengan dukungan untuk file musik lokal, radio internet, podcast, serta pustaka musik yang tersimpan di cloud.

Menariknya, aplikasi baru tersebut tidak akan menggantikan pemutar desktop klasik Winamp. Keduanya akan tetap hadir berdampingan.

Winamp mengklaim versi orisinal aplikasinya masih memiliki lebih dari 40 juta pengguna aktif di seluruh dunia.

Setelah layanan baru diluncurkan, teknologi streaming berbasis Deezer juga akan ditambahkan ke versi klasik tersebut.

Kemitraan dengan Deezer juga menjadi bagian dari upaya perusahaan streaming tersebut untuk kembali memperkuat bisnis white-label.

Dalam laporan keuangan semester pertama 2026, Deezer mencatat jumlah pelanggan baru dari kesepakatan kemitraan turun menjadi 3,1 juta.

Angka tersebut berkurang sekitar 800.000 dibandingkan tahun sebelumnya berdasarkan perhitungan kasar.

Pendapatan dari segmen kemitraan tersebut juga turun 7,6 persen menjadi 70,7 juta euro. Penurunan itu terjadi seiring berakhirnya kesepakatan bundling dengan raksasa ritel Amerika Latin, Mercado Libre.

Pada April lalu, Deezer menyampaikan kepada para investor bahwa membangun kembali lini bisnis tersebut melalui kesepakatan white-label menjadi salah satu prioritas strategis perusahaan.

Sejumlah kemitraan terbaru Deezer mencakup Telenor dan perusahaan energi asal Prancis, EDF.

Deezer sendiri telah menandatangani kesepakatan dengan Winamp pada 1 Juli, beberapa minggu sebelum kemitraan tersebut diumumkan secara resmi.

Kesepakatan itu kemudian dipresentasikan kepada investor sebagai bagian dari program "Deezer for Business" yang telah diperbarui.

Dalam skema tersebut, Deezer akan menangani infrastruktur streaming sekaligus menyediakan katalog musik berlisensi.

Di sisi lain, Winamp tetap memegang kepemilikan atas produk inti, merek, serta hubungan dengan pelanggan.

Kedua perusahaan pun memiliki kebutuhan yang saling melengkapi. Winamp memiliki merek dan basis pengguna, tetapi tidak memiliki lisensi musik maupun infrastruktur streaming sendiri.

Sementara itu, Deezer mendapatkan salah satu merek terbesar yang bergabung dalam program white-label miliknya.

Rencana untuk membawa Winamp ke era streaming sebenarnya bukan kali pertama diumumkan.

Alexandre Saboundjian, yang saat itu menjabat sebagai CEO Radionomy selaku pemilik Winamp dan kini menjadi CEO Winamp Group, pernah mengatakan kepada TechCrunch pada Oktober 2018 bahwa versi Winamp yang benar-benar baru akan diluncurkan pada tahun berikutnya.

Saat itu, Saboundjian menjanjikan pengalaman mendengarkan yang lebih lengkap yang mencakup penggunaan di rumah, file MP3, pustaka cloud, podcast, hingga stasiun radio streaming.

Namun, rencana kebangkitan Winamp pada 2019 tersebut tidak pernah terwujud. Konsep yang disiapkan kala itu bergantung pada penggabungan layanan streaming pihak ketiga ke dalam satu aplikasi.

Pendekatan tersebut membutuhkan kesepakatan integrasi dengan sejumlah layanan, tetapi Winamp tidak pernah mengumumkan kemitraan semacam itu.

Kemitraan dengan Deezer kali ini sepenuhnya menghindari persoalan tersebut. Sejak awal, layanan Winamp dapat mengandalkan infrastruktur streaming sekaligus lisensi musik yang telah dimiliki Deezer.

Versi baru Winamp akhirnya kembali terlihat pada 2022, tiga tahun setelah rencana peluncuran yang sebelumnya dijanjikan. Setelah itu, pengelolaan merek Winamp juga menghadapi sejumlah perkembangan.

Pada September 2024, Winamp sempat merilis kode sumber pemutar musik klasiknya ke GitHub.

Namun, langkah tersebut menuai kritik karena lisensi yang digunakan memiliki ketentuan khusus dan pada awalnya melarang distribusi versi modifikasi atau fork.

Beberapa minggu kemudian, seluruh repositori tersebut dihapus setelah lisensinya menuai kritik berkepanjangan dan ditemukan kode berpemilik (proprietary code) milik Dolby dan Microsoft di dalamnya.

Perusahaan belum mengungkap harga layanan premium maupun platform yang nantinya akan didukung.

Winamp hanya mengatakan model berlangganan yang ditawarkan akan "berbeda secara mendasar" dari layanan streaming musik yang tersedia saat ini.

Dalam siaran persnya, perusahaan juga menjanjikan antarmuka yang dapat dikustomisasi, fitur sosial, serta alat baru untuk membantu pengguna menemukan dan mengatur musik.

Rincian mengenai produk tersebut dijanjikan akan diungkap secara bertahap dalam beberapa bulan mendatang.

Jika sesuai rencana, layanan baru tersebut akan menjadi langkah penting bagi Winamp. Untuk pertama kalinya dalam sejarahnya yang hampir mencapai 30 tahun, merek tersebut akan menawarkan layanan berlangganan premium sendiri.

Kemitraan dengan Deezer menjadi upaya terbaru Winamp untuk kembali masuk ke pasar musik digital setelah bertahun-tahun dikenal sebagai pemutar MP3 klasik.

Sebelumnya, AOL sempat berencana menutup Winamp pada 2013 sebelum akhirnya merek tersebut dijual kepada Radionomy.

 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra