← Beranda
AI Makin Canggih, Belajar Keamanan Siber Tak Cukup dari Teori
Rian AlfiantoKamis, 17 September 2026 | 21.01 WIB
Ilustrasi teknologi kecerdasan buatan. (Miles IT)

JawaPos.com - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan ancaman keamanan siber membuat kemampuan menggunakan teknologi saja semakin tidak cukup. Generasi muda perlu memahami cara kerja teknologi, mengenali risikonya, sekaligus memiliki pengalaman langsung untuk menguji bagaimana AI dan sistem keamanan digital bekerja.

Kebutuhan tersebut mendorong pembelajaran teknologi bergeser dari sekadar teori menuju pengalaman yang lebih interaktif. Peserta tidak hanya diajak mendengar penjelasan mengenai AI atau cybersecurity, tetapi juga mencoba berbagai simulasi, tantangan, dan eksperimen dalam lingkungan yang terkontrol.

Pendekatan itu menjadi salah satu konsep yang diusung dalam CIPHER 2026, festival teknologi yang mempertemukan bidang Artificial Intelligence (AI) dan Cyber Security dalam satu ekosistem pembelajaran.

Baca Juga: Persija Hadapi Java United Tanpa Penonton, Shin Tae-yong Tak Risau

Festival tersebut mengangkat tema 'Ecosystem Protocol – An Ecosystem that Thinks, Builds, and Grows Together'. Kegiatannya mempertemukan mahasiswa, akademisi, praktisi, komunitas teknologi, hingga masyarakat umum untuk mengeksplorasi perkembangan teknologi digital.

Belajar Cbersecurity dengan Simulasi

Salah satu persoalan dalam pendidikan keamanan siber adalah bagaimana memberikan pengalaman praktik tanpa mengabaikan aspek keamanan. Karena itu, pembelajaran berbasis simulasi menjadi penting agar peserta bisa memahami cara kerja serangan maupun pertahanan digital tanpa berhadapan dengan sistem nyata.

Dalam CIPHER 2026, pengalaman tersebut dikemas melalui Hive Cyber Security yang terbagi menjadi tiga area, yakni Red Team Hive, Blue Team Hive, dan Physical Security Hive.

Red Team Hive memperkenalkan perspektif offensive security melalui sejumlah tantangan simulasi. Peserta dapat mempelajari keamanan aplikasi web dan mobile hingga melakukan analisis aplikasi untuk memahami bagaimana kerentanan ditemukan dan dianalisis.

Sementara itu, Blue Team Hive membawa peserta ke sisi pertahanan. Aktivitasnya mencakup data recovery, investigasi digital forensic, analisis log, hingga malware analysis.

Dari sana, peserta dapat melihat bahwa keamanan siber bukan sekadar persoalan mencegah serangan. Prosesnya juga mencakup kemampuan menemukan aktivitas mencurigakan, mengumpulkan bukti digital, menganalisis sistem, dan memahami pola kerja sebuah ancaman.

Aspek keamanan fisik juga diperkenalkan melalui Physical Security Hive. Tantangannya mencakup simulasi lock picking, RFID cloning, hingga identifikasi kerentanan perangkat CCTV/IP Camera dalam lingkungan yang dikontrol.

Seluruh tantangan ditempatkan dalam lingkungan simulasi sehingga pengalaman praktik dapat diberikan dengan tetap memperhatikan prinsip penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

AI Tidak hanya Soal Chatbot

Pembelajaran AI dalam festival tersebut juga tidak berhenti pada penggunaan chatbot. Peserta diperkenalkan dengan sejumlah bidang yang menunjukkan bagaimana AI bekerja di balik berbagai teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Hive Artificial Intelligence mencakup tiga area, yaitu Natural Language Processing (NLP), Computer Vision, dan Artificial Intelligence of Things (AIoT).

Pada area NLP, peserta dapat melihat penerapan AI untuk chatbot, analisis sentimen, penerjemahan mesin, peringkasan teks, hingga sistem question answering.

Sejumlah aktivitas seperti Turing Test Challenge, Guess the Prompt, dan Prompt Engineering Arena kemudian digunakan untuk memperlihatkan bagaimana manusia berinteraksi sekaligus bekerja sama dengan sistem AI.

Sementara itu, area Computer Vision memperlihatkan kemampuan AI dalam mengenali wajah, objek, gestur, dan pose secara real-time. Pengunjung dapat mengikuti aktivitas seperti AI Photobooth, Deepfake Riddles, Games Versus AI, hingga tantangan menggambar melawan AI.

Ada pula area AIoT yang mempertemukan AI dengan perangkat fisik. Di sini, pengunjung diperkenalkan dengan prototipe seperti smart home, smart farming, dan teknologi wearable, termasuk dasar pengembangan prototipe AIoT dan edge AI.
Pendidikan teknologi dituntut lebih eksperimental

Pendekatan berbasis pengalaman tersebut menunjukkan perubahan kebutuhan dalam pendidikan ilmu komputer. Kemampuan teknis tetap penting, tetapi peserta juga perlu memahami konteks penggunaan teknologi, risiko yang menyertainya, serta cara berpikir kritis ketika berhadapan dengan sistem digital.

“Melalui CIPHER, kami ingin menunjukkan bahwa computer science bukan hanya tentang bagaimana menciptakan teknologi, tetapi juga bagaimana memahami teknologi tersebut secara kritis dan menggunakannya untuk memberikan solusi," ujar Prof. Dr. Ir. Derwin Suhartono, S.Kom., MTI, Professor bidang Artificial Intelligence dan Dean of School of Computer Science BINUS University di Jakarta. 

Dia melanjutkan, cybersecurity dan AI merupakan dua bidang yang berkembang sangat cepat dan memiliki dampak luas terhadap masyarakat maupun industri.

"Karena itu, mahasiswa perlu memiliki kesempatan untuk belajar melalui pengalaman yang nyata, eksperimental, dan relevan dengan kebutuhan masa depan,” lanjutnya. 

Dalam kesempatan yang sama, menurut Ayu Maulina, S.Kom., M.Kom., Cyber Security Lecturer dan Chairwoman of CIPHER Fest, rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir kritis menjadi bagian penting dalam mempelajari AI maupun keamanan siber.

“Cybersecurity dan AI adalah bidang yang membutuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, sekaligus keberanian untuk mencoba. Melalui CIPHER, kami ingin menciptakan ruang bagi peserta untuk tidak hanya mendengar tentang cybersecurity dan AI, tetapi benar-benar mengalami bagaimana cara berpikir dan bekerja di balik teknologi tersebut. Harapannya, pengalaman ini dapat membuka perspektif baru sekaligus mendorong generasi muda untuk melihat computer science sebagai bidang yang dapat mereka eksplorasi dan kembangkan,” ungkap Ayu.

Pembelajaran juga diperluas melalui diskusi dengan praktisi industri. Main Stage menjadi ruang bagi akademisi, peneliti, dan praktisi untuk membahas perkembangan AI dan keamanan siber dari perspektif pendidikan maupun dunia profesional.

Talkshow CIPHER 2026 menghadirkan Aurelius Ivan Wijaya, Lead AI Engineer at Invenio Potential, dan Satria Ady Paradana, Senior Security Engineer at Flip.

Kehadiran praktisi tersebut memberikan gambaran mengenai penerapan AI dan cybersecurity di lingkungan kerja, sekaligus memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi membutuhkan keterhubungan antara pendidikan, riset, industri, dan komunitas.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah