JawaPos.com - Kebutuhan teknologi HVAC, refrigerasi, dan cleanroom di Indonesia terus meningkat, tetapi pertumbuhan tersebut diikuti tantangan baru: bagaimana menyediakan fasilitas yang semakin andal tanpa mengabaikan efisiensi energi, dampak lingkungan, dan standar operasional yang makin tinggi.
Kondisi ini terutama terlihat pada fasilitas yang membutuhkan lingkungan terkendali, seperti rumah sakit, data center, dan berbagai fasilitas industri. Di sektor-sektor tersebut, sistem tata udara bukan lagi sekadar penunjang kenyamanan, melainkan bagian penting dari operasional dan keselamatan fasilitas.
Persoalan tersebut menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam RHVAC Indonesia 2026 dan Cleanroom Indonesia Expo 2026 yang berlangsung pada 9–11 September 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Jakarta.
Sistem heating, ventilation, air conditioning (HVAC) memiliki kaitan langsung dengan konsumsi energi bangunan maupun fasilitas industri. Karena itu, meningkatnya kebutuhan tata udara turut memperbesar perhatian terhadap teknologi yang mampu bekerja lebih efisien.
Tantangan tersebut semakin relevan seiring meningkatnya kebutuhan bangunan modern terhadap pengendalian suhu, kelembapan, kualitas udara, dan kondisi lingkungan di dalam ruangan.
Teknologi HVAC kini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kondisi termal yang nyaman, tetapi juga mendukung efisiensi energi, otomasi bangunan, serta target pengurangan emisi.
Isu ini menjadi semakin penting pada fasilitas yang beroperasi selama 24 jam, seperti rumah sakit dan data center. Pada fasilitas tersebut, sistem tata udara harus tetap bekerja secara konsisten sekaligus menjaga penggunaan energi tetap terkendali.
Cleanroom Rumah Sakit jadi Perhatian
Selain efisiensi energi, kebutuhan terhadap cleanroom juga berkembang seiring bertambahnya fasilitas yang membutuhkan lingkungan dengan tingkat kebersihan dan pengendalian kontaminasi yang ketat.
Rumah sakit menjadi salah satu sektor yang membutuhkan teknologi tersebut. Pengelolaan ruang bersih membutuhkan kombinasi sistem filtrasi udara, pengendalian tekanan, pemantauan kondisi lingkungan, hingga prosedur pengoperasian yang sesuai standar.
Karena itu, pembahasan mengenai standarisasi cleanroom untuk rumah sakit menjadi salah satu topik penting dalam rangkaian kegiatan tahun ini. Kebutuhan serupa juga berkembang pada data center dan fasilitas industri lainnya yang membutuhkan lingkungan terkendali untuk menjaga keandalan proses maupun peralatan.
Menurut PT Pelita Promo Internusa, perkembangan kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan teknologi cleanroom semakin mendapat perhatian dalam industri.
“RHVAC Indonesia sudah dikembangkan selama lebih dari satu dekade dan industri HVAC di Indonesia masih terus berkembang, sehingga pameran ini tetap kami hadirkan sebagai wadah untuk mempertemukan industri dengan perkembangan teknologi terbaru. Sementara itu, cleanroom menjadi salah satu tren yang semakin penting karena kebutuhannya terus meningkat, antara lain di rumah sakit, data center, dan fasilitas industri lainnya,” ujar Sofianto Widjaja, Direktur PT Pelita Promo Internusa.
Rantai Dingin Juga Makin Strategis
Tantangan industri tidak berhenti pada tata udara dan cleanroom. Penguatan sistem refrigerasi dan rantai dingin juga menjadi bagian penting dalam perkembangan infrastruktur industri di Indonesia.
Rantai dingin berperan dalam menjaga kualitas dan keamanan berbagai produk yang membutuhkan pengendalian suhu sepanjang proses penyimpanan, distribusi, hingga sampai ke pengguna akhir.
Karena itu, perkembangan teknologi refrigerasi perlu berjalan beriringan dengan tuntutan efisiensi energi dan keandalan sistem. Semakin panjang dan kompleks rantai distribusi, semakin penting pula kemampuan sistem mempertahankan kondisi penyimpanan yang sesuai.
Topik penguatan rantai dingin menjadi salah satu pembahasan dalam rangkaian RHVAC Indonesia 2026 dan Cleanroom Indonesia Expo 2026.
Selain itu, perubahan kebutuhan tersebut menunjukkan bahwa industri HVAC menghadapi tuntutan yang lebih kompleks dibanding sekadar menyediakan pendinginan atau ventilasi.
Sistem tata udara harus mampu memenuhi kebutuhan pengguna sekaligus mempertimbangkan konsumsi energi dan dampak lingkungan. Hal ini membuat teknologi yang mendukung bangunan rendah karbon semakin relevan.
Dalam penyelenggaraan tahun ini, isu peran HVAC dalam mendukung bangunan rendah karbon menjadi salah satu materi yang dibahas. Perhatian tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap fasilitas modern yang tidak hanya nyaman dan andal, tetapi juga lebih efisien dalam penggunaan energi.
Perkembangan ini pada akhirnya mendorong pelaku industri untuk melihat HVAC, refrigerasi, dan cleanroom sebagai bagian dari strategi pengelolaan fasilitas, bukan sekadar komponen teknis bangunan.
Sementara itu terkait eksibisi, tahun ini, terdapat 213 exhibitor dari 15 negara yang berpartisipasi dalam area pameran seluas 15.000 meter persegi. Jumlah tersebut meningkat sekitar 10 persen dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Penyelenggara menargetkan lebih dari 20.000 pengunjung profesional selama tiga hari. Peserta yang hadir berasal dari berbagai kelompok, mulai dari produsen, distributor, prinsipal internasional, asosiasi industri, konsultan, kontraktor, akademisi, pemerintah, hingga pengguna akhir.