JawaPos.com - Kacamata pintar Meta kini menjadi perhatian aparat penegak hukum Amerika Serikat. Perangkat yang tampak seperti kacamata biasa itu dikhawatirkan digunakan untuk merekam petugas dan fasilitas secara diam-diam, membocorkan informasi keamanan, hingga membantu pengintaian sebelum aksi kekerasan.
Kekhawatiran tersebut terungkap dalam sekitar selusin memo kepolisian dan lembaga penegak hukum yang ditinjau The Guardian. Pada Januari 2026, unit kontraterorisme New York Police Department (NYPD) memperingatkan adanya potensi ancaman "keamanan dan kontraintelijen" dari Ray-Ban Meta.
Dilansir dari The Guardian, Rabu (9/9/2026), NYPD meminta petugas "melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap seluruh kacamata yang diizinkan berada di dalam sel tahanan." Memo itu menyebut perekaman tersembunyi dapat membahayakan keamanan jika tata letak sel, posisi kamera, atau pola patroli petugas tersebar.
Baca Juga: Meta Rilis Muse, Agen AI untuk Otomatisasi Tugas Pengguna
Risiko tersebut sudah terjadi. Pada Juli 2025, sebuah video yang direkam menggunakan kacamata pintar dan diunggah ke TikTok memperlihatkan bagian dalam fasilitas tahanan di South Carolina. Pengunggah berkata, "Semua orang di sini mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan kacamata saya, mengapa lampunya berkedip," lalu menambahkan, "Orang-orang tidak tahu tentang kacamata Meta."
Rekaman tersebut memperlihatkan kamar mandi, sel tahanan, kafetaria yang penuh sesak, serta tahanan lain yang tampaknya tidak mengetahui mereka direkam. Perangkat itu dinilai sulit dikenali karena dapat menyerupai kacamata Ray-Ban atau Oakley biasa. Indikator utamanya adalah lampu LED kecil yang berkedip ketika kamera aktif.
Kekhawatiran kemudian meluas ke penggunaan AI. Memo dari Maine Information and Analysis Center (MIAC), pusat analisis dan pertukaran informasi keamanan di Maine, pada Juni 2026 menyatakan, "Beberapa kacamata pintar dapat memanfaatkan perangkat lunak AI, termasuk pengenalan wajah, yang dapat menyebabkan pembongkaran identitas dan informasi pribadi dari sumber publik atau keterkaitan dengan petugas penegak hukum."
Memo serupa juga diterbitkan oleh tim penilai kontraterorisme dan sejumlah pusat analisis keamanan (fusion center) di San Diego, California, Tennessee, Virginia, Maine, serta New York. Aparat juga khawatir perangkat tersebut digunakan untuk "pengintaian target sebelum serangan" atau membantu persiapan aksi kekerasan.
Kekhawatiran itu diperkuat oleh serangan di New Orleans pada 1 Januari 2025, yang menewaskan 14 orang dan melukai 35 lainnya. FBI menyatakan pelaku dua kali bersepeda di kawasan Bourbon Street pada akhir Desember 2024 dengan mengenakan kacamata pintar dan diduga melakukan "pengintaian target sebelum serangan."
Respons terhadap potensi penyalahgunaan teknologi tersebut kemudian muncul di tingkat federal. Pada Agustus 2026, Immigration and Customs Enforcement (ICE) melarang pegawainya menggunakan kacamata pintar di "ruang kerja federal" karena perangkat itu dinilai berisiko merekam atau mengirimkan informasi yang seharusnya terlindungi. Dalam memo tersebut, ICE menyebut "penggunaan Meta Glasses atau perangkat serupa dapat secara tidak sengaja menangkap, merekam, atau mengirimkan informasi sensitif."
Menanggapi sorotan tersebut, Meta membantah perangkatnya dirancang untuk melakukan perekaman tersembunyi. Juru bicara Meta Dina El-Kassaby mengatakan, "Setiap pasang kacamata Meta memiliki LED putih terang yang berkedip ketika foto atau video diambil untuk galeri, tidak dapat dimatikan, dan jika seseorang menutupi atau mengutak-atik LED tersebut, kamera akan dinonaktifkan." Meta menegaskan kacamatanya "dirancang agar dapat terlihat."
Namun, keberadaan indikator itu belum menghilangkan persoalan yang lebih luas di tengah masyarakat. Ryan Shapiro dari Property of the People menilai, "Ketika hanya pemerintah yang diperbolehkan memegang kamera, itu bukan keamanan. Itu impunitas."
Sementara itu, Evan Greer dari Fight for the Future mengatakan, "Pengawasan membuat kita semua semakin tidak aman. Tidak ada kacamata Meta yang hanya diperuntukkan bagi orang baik."
Perdebatan tersebut pada akhirnya memperlihatkan bagaimana perangkat yang dirancang sebagai kacamata sehari-hari telah memasuki wilayah yang jauh lebih sensitif: hak masyarakat untuk mengetahui kapan mereka sedang direkam dan oleh siapa.
Baca Juga: OpenAI Akhirnya Punya Asisten Peneliti AI Otomatis, Mampu Kerjakan Riset Berhari-hari