JawaPos.com – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai berisiko memperlebar kesenjangan antarnegara. Jika negara berkembang hanya menjadi pengguna teknologi tanpa memiliki kapasitas riset dan kemampuan menentukan arah tata kelolanya, mereka akan semakin tertinggal.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) Prof. Stella Christie mendorong negara berkembang agar dapat bertransformasi dari sekadar konsumen teknologi pasif menjadi arsitek aktif dalam tata kelola dan riset AI global.
Hal itu disampaikan dalam Bali Harmony Dialogue yang menjadi bagian dari Bali Harmony Encounter Week 2026 di Bali. Dalam kuliah umum bertajuk “Intelligence: Natural and Artificial”, Stella memaparkan peta jalan strategis agar negara berkembang dapat bertransformasi dari konsumen teknologi menjadi pihak yang turut membangun dan menentukan masa depan AI.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting seiring perkembangan AI yang tidak hanya mengubah sektor teknologi, tetapi juga pendidikan, dunia kerja, tata kelola pemerintahan, hingga kehidupan sosial.
Rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 berlangsung pada 2-7 September dengan mengangkat tema “Holding Space for Peace: Peace Within, Peace Among Us, Peace with All Life”.
Selain membahas teknologi, forum tersebut juga menempatkan aspek etika dan kemanusiaan sebagai bagian penting dalam menghadapi perubahan teknologi.
Hal itu tercermin dalam Consultative Dialogue on Youth yang melibatkan para inovator muda dan perintis industri. Mereka mendorong model pendidikan yang tidak hanya mengutamakan keterampilan teknis, tetapi juga kepemimpinan etis dan pendekatan yang berpusat pada manusia.
Pada 4-6 September, rangkaian kegiatan dilanjutkan melalui World Encounter Summit Bali: XI International Scholas Chairs Congress. Forum tersebut mempertemukan delegasi dari lebih dari 140 universitas di 70 negara dengan tema “Artificial Intelligence and Human Meaning”.
Forum ini diarahkan untuk memastikan perkembangan teknologi tetap mempertimbangkan peran generasi muda dan kearifan lokal dalam membangun etika teknologi masa depan.
Di sisi lain, Wakil Presiden United In Diversity Foundation Suyoto menekankan bahwa kedamaian tidak berhenti pada gagasan atau teori, tetapi harus diwujudkan melalui hubungan antarmanusia dan kehidupan sehari-hari.
“Kedamaian bukanlah sekadar tujuan akhir yang dicapai melalui teori, melainkan sebuah hubungan yang harus kita rawat secara aktif setiap hari,” ujar Suyoto.
Menurut dia, nilai Tri Hita Karana yang menjadi landasan refleksi dalam kegiatan tersebut dapat menjadi pendekatan untuk memperkuat kehidupan yang harmonis di tengah perubahan global.
“Di tengah tantangan global yang berat, Indonesia terus mencatatkan peningkatan pada Indeks Kemajuan Manusia dan kerukunan umat beragama. Melalui THK Universal Reflection Forum, Yayasan UID mengemban semangat Tri Hita Karana yang kami yakini menjadi inti ajaran di seluruh agama dan tradisi di Indonesia,” terang Suyoto.
Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI M. Arskal Salim, yang mewakili Menteri Agama Nazaaruddin Umar, menyoroti pentingnya kontribusi individu dan komunitas dalam menjaga kedamaian.
“Transformasi besar tidak lahir dari satu cahaya raksasa, melainkan dari lilin-lilin kecil yang kita bawa bersama. Saya mengajak generasi muda dan seluruh umat beragama untuk menjaga nyala cahaya ini di rumah dan lingkungan kerja kita. Kedamaian dalam diri, kedamaian antarsesama, kedamaian dengan seluruh kehidupan, ini bukan sekadar slogan, melainkan seruan aksi nyata yang dimulai dari kita sendiri hari ini,” jelas Arskal.