← Beranda
Jensen Huang Sebut AGI Telah Hadir, Nvidia Siapkan 400.000 Cip Baru
Mellyna Putri DiniarRabu, 9 September 2026 | 00.18 WIB
Jensen Huang, CEO Nvidia, menyebut era kecerdasan buatan umum telah tiba (Business Insider)

 

JawaPos.com - Pernyataan Jensen Huang bahwa kecerdasan umum buatan atau artificial general intelligence (AGI) telah hadir menandai babak baru dalam perlombaan teknologi global. CEO Nvidia itu menyampaikan klaim tersebut setelah OpenAI meluncurkan Astra, model AI terbaru yang disebut perusahaan sebagai model paling cerdas dan selaras yang pernah mereka kembangkan.

Huang menyampaikan dukungan itu melalui X pada Minggu. Dia menyoroti perkembangan OpenAI dari ChatGPT hingga o1 dan Astra dalam waktu empat tahun, sekaligus menegaskan bahwa model terbaru tersebut dilatih menggunakan infrastruktur Nvidia. Posisi Nvidia dalam perkembangan ini menunjukkan betapa cepat kebutuhan terhadap kemampuan komputasi meningkat seiring perusahaan AI berlomba mengembangkan model yang semakin canggih.

Dilansir dari Business Insider, Senin (7/9/2026), Huang menulis, "Dari ChatGPT ke o1 hingga Astra dalam empat tahun. AGI telah hadir. Selamat kepada tim @OpenAI." Dia juga mengungkapkan bahwa Astra dilatih menggunakan cip Nvidia.

Dalam unggahan yang sama, Huang menyebut, "400 ribu GPU akan segera beroperasi," mengacu pada graphics processing units (GPU) yang digunakan untuk melatih dan menjalankan model AI.

Baca Juga: Wall Street Restui 'Gagasan Besar' Jensen Huang, USD 500 Miliar Siap Mengalir ke Infrastruktur AI

OpenAI meluncurkan Astra pada Kamis (3/9/2036) dan menggambarkannya sebagai model "paling cerdas dan selaras di dunia." Perusahaan menyatakan Astra mampu menangani pekerjaan profesional paling menuntut dengan kecepatan, akurasi, dan penilaian yang tinggi.

Presiden OpenAI Greg Brockman bahkan mengatakan kepada wartawan, "Selamat datang di era AGI."

Namun, istilah AGI masih belum memiliki ukuran yang disepakati secara luas. OpenAI mendefinisikannya sebagai "sistem yang sangat otonom yang mengungguli manusia dalam sebagian besar pekerjaan yang bernilai ekonomi".

Brockman mengatakan orang di masa depan mungkin melihat periode ini sebagai masa di mana AGI diciptakan. "Bagi saya pribadi, saya memang berpikir kita sudah sampai di sana," ujarnya.

Pandangan tersebut berdampingan dengan sikap lebih skeptis dari CEO OpenAI Sam Altman. Dalam podcast Sources, Altman mengatakan, "Paling tidak, AGI adalah istilah yang didefinisikan dengan sangat buruk. Saya tadinya ingin mengatakan bahwa ini seperti istilah pemasaran yang tidak relevan."

Perbedaan pandangan itu memperlihatkan bahwa perdebatan AGI bukan hanya mengenai kemampuan model, tetapi juga definisi yang digunakan untuk menyatakan sebuah sistem telah mencapai tingkat tersebut.

Di luar perdebatan definisi, Astra menunjukkan perubahan arah pengembangan AI. OpenAI memosisikannya sebagai terobosan riset dan perluasan jenis pekerjaan yang dapat didelegasikan kepada AI.

Perkembangan ini mendorong persaingan perusahaan AI global untuk membangun sistem yang tidak hanya menghasilkan respons, tetapi juga mampu menangani pekerjaan profesional yang semakin kompleks.

Ketergantungan pada infrastruktur komputasi juga semakin terlihat. OpenAI sebelumnya menyebut Nvidia sebagai "fondasi infrastruktur kami" dan mengatakan armada pelatihan serta sebagian besar sistem inferensinya masih berjalan menggunakan GPU Nvidia.

Dengan demikian, kemajuan model AI turut menciptakan permintaan besar terhadap cip berkemampuan tinggi untuk melatih dan menjalankan sistem tersebut.

Permintaan itu tercermin dalam kinerja Nvidia. Perusahaan mencatat pendapatan kuartalan USD 96,2 miliar atau sekitar Rp1.697 triliun, dengan kurs Rp17.640 per dolar AS, pada Agustus, lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya. Bisnis pusat datanya, yang mencakup cip AI, menghasilkan USD 89 miliar atau sekitar Rp1.570 triliun.

Huang kini mengisyaratkan bahwa kebutuhan tersebut masih akan meningkat. Sebanyak 400.000 GPU yang disebutnya akan segera beroperasi menunjukkan skala infrastruktur yang diperlukan untuk menopang perkembangan AI generatif.

Di tengah persaingan OpenAI, Nvidia, Meta, Anthropic, dan Google, perlombaan AI global semakin bergeser dari sekadar siapa yang memiliki model terbaik menjadi siapa yang mampu menyediakan komputasi dalam skala terbesar.

Baca Juga: Jensen Huang: Nvidia Kini Nol Persen di Tiongkok, Kebijakan Ekspor AS Salah Arah dalam Perebutan Dominasi AI Global

EDITOR: Candra Mega Sari