JawaPos.com - Kehilangan akun media sosial bisa berarti kehilangan aset sekaligus sumber penghasilan bagi kreator konten.
Hal itu dialami Khairul Fajri, 23, kreator konten gim asal Bukittinggi, Sumatera Barat, yang tiga kali kehilangan akun dengan total 1,6 juta pengikut sebelum kembali membangun audiens hingga menembus 1 juta. “Saya harus mulai lagi dari nol,” kata Fajri, yang dikenal sebagai FajriTv, saat menceritakan pengalamannya.
Akun pertamanya diblokir pada 2021 ketika sudah memiliki sekitar 600 ribu pengikut. Fajri kemudian membuat akun baru dan kembali membangun audiens hingga 300 ribu pengikut sebelum akun tersebut diblokir pada Agustus 2022. “Sempat saya ajukan banding beberapa kali,” ujarnya.
Akun kedua memang sempat dipulihkan setelah proses banding. Namun, pemblokiran kembali terjadi. Fajri kemudian membangun akun ketiga hingga mencapai sekitar 700 ribu pengikut sebelum ikut diblokir pada Mei 2023. “Setiap akun hilang, saya harus membangun semuanya dari awal,” tuturnya.
Jika dihitung dari tiga akun tersebut, total pengikut yang hilang mencapai sekitar 1,6 juta. Fajri mengatakan, alasan yang diterimanya dari platform cenderung bersifat umum dan tidak memberikan penjelasan rinci mengenai konten yang dianggap melanggar. “Alasannya karena terlalu banyak pelanggaran konten,” kata Fajri.
Menurut dia, pelanggaran tersebut berkaitan dengan konten yang dibuatnya pada masa awal berkarier sebagai kreator. Saat itu, Fajri banyak membuat konten mengenai akun gim Free Fire. “Waktu itu saya membahas seputar akun gim,” ujarnya.
Belakangan, tema tersebut masuk dalam kategori konten yang dibatasi. Fajri menduga akumulasi pelanggaran dari konten-konten lama menjadi salah satu faktor yang berujung pada pemblokiran akunnya. “Waktu itu konten seperti itu dilarang, akhirnya kena pelanggaran,” tuturnya.
Proses banding juga menjadi pengalaman tersendiri bagi Fajri. Pada akun pertama, dia bahkan belum mengetahui adanya mekanisme untuk mengajukan keberatan atas keputusan pemblokiran. “Pada akun pertama saya tidak pernah banding karena tidak tahu,” katanya.
Pada akun kedua, Fajri mulai mengajukan banding. Akunnya sempat kembali aktif, tetapi tidak bertahan lama sebelum akhirnya kembali diblokir. “Akun sempat dipulihkan, kemudian diblokir lagi,” ujarnya.
Pemblokiran tersebut turut berdampak pada pendapatan. Beberapa kerja sama promosi yang sudah disepakati harus dibatalkan setelah akun tidak lagi bisa diakses. “Ada beberapa endorse yang cancel,” kata Fajri.
Nilainya memang tidak mencapai angka besar, tetapi tetap menjadi kerugian bagi seorang kreator yang sedang membangun karier. “Waktu itu nilainya di bawah Rp15 juta,” tuturnya.
Pengalaman tiga kali kehilangan akun kemudian membuat Fajri melihat persoalan moderasi konten sebagai isu penting bagi pekerja ekonomi kreator. Menurut dia, kreator membutuhkan penjelasan yang lebih rinci ketika akun atau konten dikenai sanksi. “Saya menuntut transparansi yang lebih jelas,” ujarnya.
Fajri berharap platform memberikan informasi mengenai konten yang dianggap bermasalah, aturan yang dilanggar, serta mekanisme dan waktu penyelesaian banding. “Jelaskan aturan mana yang dilanggar dan bagaimana proses bandingnya,” katanya.
Dia juga meminta agar pemberitahuan kepada kreator tidak berhenti pada keputusan otomatis tanpa konteks yang cukup. “Kreator perlu mendapat pemberitahuan yang masuk akal,” tuturnya.
Setelah tiga kali kehilangan akun, Fajri mengubah strategi. Pada akun keempat, dia lebih selektif dalam menentukan diksi dan substansi sebelum mengunggah konten.
“Sekarang saya jauh lebih berhati-hati,” kata Fajri.
Distribusi audiens juga diperluas. Selain akun TikTok yang kini telah memiliki sekitar 1,1 juta pengikut, Fajri membangun kanal di Instagram dengan sekitar 45 ribu pengikut, YouTube, dan Snack Video. “Saya juga aktif di beberapa platform,” ujarnya.
Strategi tersebut membuat sumber pemasukan Fajri ikut berubah. Dia kini memperoleh pendapatan dari sejumlah sumber, mulai kerja sama dengan merek, hadiah saat siaran langsung, hingga menjadi brand ambassador. “Penghasilan utama saya dari berbagai macam. Dari endorse, gift live, dan brand ambassador,” lanjut Fajri.
Fajri juga pernah menghadapi godaan dari tawaran promosi judi daring. Sebagai kreator gim yang memiliki banyak penonton berusia muda, tawaran tersebut menurut dia datang dengan nilai yang sangat besar.
“Saya pernah ditawari Rp 200 juta,” katanya.
Nilai itu merupakan bayaran untuk lima kali unggahan dalam satu bulan. Meski demikian, Fajri memilih menolak tawaran tersebut.
Fajri menyebut pertimbangannya berkaitan dengan aturan di Indonesia sekaligus dampak terhadap penontonnya yang banyak berasal dari kalangan anak-anak. “Saya tolak karena tidak diperbolehkan di Indonesia,” tuturnya.
Keputusan tersebut juga menjadi bagian dari upayanya menjaga keberlanjutan karier sebagai kreator. “Saya tidak mau berdampak buruk kepada viewers saya,” katanya.
Kini, Fajri mulai menyiapkan sumber pengaman lain di luar aktivitas sebagai kreator. Dia menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan dan berencana masuk ke dunia bisnis. “Saya sudah menyiapkan tabungan finansial,” ujarnya. “Saya juga ingin mulai bisnis,” tambah Fajri.
Perjalanan Fajri menjadi kreator sebenarnya bermula dari kondisi ekonomi yang jauh dari industri digital. Dia merantau dari Sei Cubadak ke Batam pada 2020, saat pandemi Covid-19 membuat banyak perusahaan melakukan pengurangan karyawan. “Saya hampir empat bulan tidak mendapat pekerjaan tetap,” kenangnya.
Untuk bertahan hidup, Fajri mengambil berbagai pekerjaan. Salah satunya mengantarkan galon isi ulang di sekitar kompleks kos. “Satu galon dibayar Rp 2.000,” katanya.
Dalam sebulan, pendapatan dari pekerjaan tersebut berkisar Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu. Dia juga pernah bekerja membersihkan kos dengan bayaran Rp 60 ribu per hari dan menjadi buruh bongkar muat.
Setelah itu, Fajri mendapat pekerjaan sebagai operator di perusahaan produsen mesin es di Batam. Namun, kontraknya hanya berlangsung enam bulan karena perusahaan kembali melakukan pengurangan karyawan ketika wilayah tersebut masih terdampak pandemi.
Dia lalu bekerja sebagai pemungut uang kebersihan di Pasar Jodoh, Batam. Pekerjaan tersebut dijalani sekitar lima bulan dengan upah Rp 30 ribu per hari.
“Saya bertahan karena yakin bisa mendapat pekerjaan lebih layak,” kata Fajri.
Jam kerjanya relatif singkat, dari pukul 19.00 hingga 22.00. Setelah itu, dia kembali memperoleh pekerjaan sebagai karyawan tetap sebelum kontraknya berakhir sekitar setahun kemudian. “Saya sempat kembali menjadi karyawan tetap,” ujarnya.
Fajri kemudian beralih menjadi host siaran langsung penjualan daring selama hampir satu tahun. Dari pekerjaan tersebut, dia mulai memahami bagaimana media sosial dapat digunakan untuk membangun audiens dan menghasilkan pendapatan.
Pada September 2022, Fajri memutuskan berhenti menjadi host live dan sepenuhnya menekuni pembuatan konten.
“Waktu itu penghasilan saya Rp 6 juta sampai Rp 7 juta per bulan,” katanya.
Gaji pokoknya sekitar Rp 2,5 juta, sedangkan sisanya berasal dari bonus penjualan.
Ketika pertama kali beralih menjadi kreator penuh waktu, pendapatannya justru turun.
Penghasilan pertama dari ngonten sekitar Rp1,5 juta.
Pilihan Free Fire sebagai gim utama juga berangkat dari keterbatasan perangkat yang dimilikinya. “Saya memang suka main Free Fire,” kata Fajri.
Menurut dia, gim tersebut merupakan salah satu yang masih bisa dimainkan dengan perangkat yang dimilikinya saat itu. “Cuma Free Fire yang bisa saya mainkan di HP,” tuturnya.
Keputusan meninggalkan pekerjaan tetap untuk menjadi kreator sempat mendapat penolakan dari keluarga di kampung halaman.
Fajri mengatakan keluarganya belum memahami bagaimana media sosial dapat menjadi sumber penghasilan. Namun, setelah melihat perkembangan kariernya, dukungan keluarga mulai datang. “Pelan-pelan saya membuktikan,” katanya. “Sekarang keluarga sudah mendukung penuh,” lanjut Fajri.
Pada 11 Juni 2026, perjalanan panjang tersebut mencapai salah satu titik penting. Akun keempat yang dibangunnya berhasil menembus 1 juta pengikut. Kini jumlahnya telah berkembang menjadi sekitar 1,1 juta.
Bagi Fajri, angka tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa kehilangan akun tidak otomatis mengakhiri karier seorang kreator. “Saya bisa bangkit dan membangun lagi dari nol,” katanya.
Namun, pengalaman tersebut membuat dia memiliki pesan khusus bagi kreator yang baru memulai karier. “Jangan bergantung pada satu akun,” tutur Fajri.
Dia menyarankan kreator membangun audiens di sejumlah kanal sekaligus serta memiliki jalur komunikasi yang lebih langsung dengan pengikut. “Bangun audiens yang bisa dijangkau secara langsung,” ujarnya.
Menurut Fajri, email, komunitas, dan kanal lain dapat menjadi alternatif ketika terjadi persoalan pada akun utama. “Simpan juga arsip konten dan data penting,” katanya.
Dia menganggap akun media sosial sebagai bagian dari aset bisnis, tetapi tetap memiliki risiko karena pengelolaannya berada di bawah aturan platform. “Anggap akun sebagai aset bisnis yang bisa berubah sewaktu-waktu,” ucap dia. (*)