← Beranda
Malaysia Gencar Tarik Investasi Data Center Berbasis AI, Targetkan Jadi Hub di Asia Tenggara
Dhimas GinanjarKamis, 27 Agustus 2026 | 17.58 WIB
Foto yang diambil pada 4 Agustus 2026 memperlihatkan sebuah pusat data (latar belakang) dan lokasi pembangunan baru di Negara Bagian Johor, Malaysia. (Kyodo)

JawaPos.com - Malaysia terus menggenjot upaya menarik investor domestik dan asing untuk membangun pusat data atau data center di tengah meningkatnya permintaan fasilitas tersebut akibat perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI).

Dilansir dari Kyodo, Kamis (27/8), Malaysia memanfaatkan kedekatannya dengan Singapura yang merupakan pusat keuangan dan logistik Asia Tenggara. Negara tersebut menawarkan lahan luas untuk pembangunan data center, terutama di Johor yang berada tepat di utara Singapura dan terhubung melalui jalan lintas.

Di Johor, pembangunan data center berkembang pesat. Struktur bangunan besar menyerupai gudang kini berdiri di atas lahan yang sebelumnya digunakan sebagai perkebunan kelapa sawit. Pembangunan lebih lanjut juga masih berlangsung di lahan-lahan kosong.

Data center menampung server yang menyimpan dan memproses data untuk mendukung berbagai layanan teknologi informasi dan AI generatif. Namun, fasilitas tersebut membutuhkan listrik dalam jumlah besar untuk pemrosesan data serta air untuk mendinginkan peralatan.

Menurut JLand Group, pengembang yang terkait dengan pemerintah negara bagian Johor, salah satu kawasan data center tersebut memiliki luas sekitar 5,6 kilometer persegi. Sekitar separuh kawasan telah beroperasi, sedangkan sisanya masih dalam tahap pembangunan.

Permintaan terhadap fasilitas tersebut juga menarik perusahaan dari berbagai negara. Kebijakan luar negeri Malaysia yang dinilai netral membuat perusahaan asal Amerika Serikat dan Tiongkok masuk ke pasar tersebut, sementara perusahaan-perusahaan Eropa juga ikut berinvestasi.

Kebutuhan listrik di kawasan tersebut mencapai sekitar 1.700 megawatt per Agustus, menurut pengembang.

Pengembangan kawasan itu dimulai sekitar 2015 dan semakin berkembang sejak 2019. Saat itu, Singapura mulai membatasi pembangunan data center baru karena kekhawatiran terhadap keterbatasan lahan dan pasokan listrik.

Ledakan penggunaan AI kemudian semakin mendorong investasi di sektor tersebut. Bank sentral Malaysia menyebut investasi terkait AI turut membantu perekonomian negara itu mencatat pertumbuhan 5,2 persen pada 2025.

Meski demikian, pembangunan data center tidak otomatis menciptakan banyak lapangan kerja. Sebagian besar pekerjaan di fasilitas tersebut berkaitan dengan pemeliharaan dan pengelolaan operasional.

Faezah Ayub, general manager senior bidang kemitraan strategis dan pengembangan bisnis JLand Group, mengatakan Malaysia tidak hanya ingin memperbanyak data center.

"Tujuannya bukan sekadar menarik lebih banyak data center, tetapi membangun ekosistem infrastruktur digital yang berkelanjutan," kata Faezah.

Menurut dia, ekosistem tersebut harus mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, keamanan sumber daya, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Namun, investasi besar tersebut juga mendapat sejumlah catatan.

Amir Fareed Abdul Rahim, direktur strategi KRA Group, menyambut investasi di sektor data center. Namun, dia mempertanyakan kesiapan kebijakan pemerintah dalam mewujudkan visi AI Malaysia.

"Belum ada desain kebijakan yang substantif," ujarnya.

Pertumbuhan bisnis data center juga memicu kekhawatiran lingkungan di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.

Di Johor, sejumlah warga mengeluhkan debu akibat pembangunan serta potensi kekurangan air yang dapat muncul akibat meningkatnya kebutuhan fasilitas data center.

Faezah membela pembangunan tersebut. Dia mengatakan Johor memiliki pasokan listrik dan sumber daya air yang cukup untuk mendukung pembangunan yang berjalan maupun yang telah direncanakan.

Pemerintah negara bagian, lanjutnya, juga terus mendorong penggunaan energi berkelanjutan dan energi terbarukan untuk mendukung pertumbuhan industri data center.

EDITOR: Dhimas Ginanjar