JawaPos.com - Layanan kesehatan yang prima kepada pasien menuntut rumah sakit atau klinik semakin taktis di era digital. Untuk itu, urusan administrasi tidak lagi bisa dikerjakan secara manual. Harus ada sistem yang didukung dengan bantuan otak buatan atau artificial intelligence (AI).
Belum lagi perubahan regulasi, efisiensi biaya, pengelolaan sumber daya manusia (SDM), hingga kebutuhan pasien yang semakin menginginkan layanan praktis dan terintegrasi.
Dinamika itu menjadi tantangan besar dalam pengelolaan tenaga kerja di layanan kesehatan. Proses rekrutmen yang harus mengikuti berbagai ketentuan, turnover tinggi, serta kesenjangan antara kompetensi yang diperoleh di pendidikan formal dengan kebutuhan operasional fasilitas kesehatan dapat memengaruhi efektivitas layanan.
"Banyak fasilitas kesehatan (faskes) terjebak dalam lingkaran setan operasional: rekrutmen SDM yang panjang dan padat regulasi, tingginya turnover, sistem administrasi yang lambat, hingga minimnya pemahaman tenaga baru terhadap standar industri," kata Direktur Utama PT Medika Konsultama Adidayas, dr. Evan Sastria, MH., MARS, Jumat (21/8).
Kompleksitas tersebut membuat pengelolaan fasilitas kesehatan tidak lagi cukup mengandalkan sistem yang berjalan secara terpisah. Kebutuhan tersebut mendorong pengembangan ekosistem yang tidak hanya berfokus pada sistem informasi rumah sakit atau klinik.
Baca Juga: Akses Layanan Kesehatan Berkualitas di Daerah Masih Terbatas, Samarinda Tambah Fasilitas Medis
Salah satunya melalui Medverse Career yang diarahkan untuk membantu fasilitas kesehatan memperoleh tenaga profesional yang telah melalui proses verifikasi.
Selain rekrutmen, Medverse juga menghadirkan Medverse Academy untuk memberikan pelatihan yang lebih dekat dengan kebutuhan operasional. Materinya mencakup tata kelola fasilitas kesehatan, akreditasi, Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), hingga pelayanan kepada pasien.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah pengelolaan informasi pasien.
Melalui Personal Health Record (PHR) dan layanan berbasis mobile, Medverse mengembangkan sistem yang memungkinkan pasien mengakses dan mengelola informasi kesehatannya secara lebih mudah.
Sementara dari sisi pengelola fasilitas kesehatan, Medverse Enterprise menawarkan sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) dan sistem informasi manajemen klinik (SIMKLINIK). Sistem tersebut juga dilengkapi sejumlah fitur berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu proses administratif, pencatatan Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT), pengelolaan klaim, hingga pemantauan kinerja fasilitas kesehatan.
Menurut dr. Evan, penggunaan AI diarahkan untuk membantu manajemen mendapatkan informasi yang lebih cepat ketika mengambil keputusan. Salah satu fitur yang dikembangkan adalah CEO Dashboard yang dapat menyajikan data operasional dan memberikan rekomendasi berbasis analisis AI.
"Fitur cerdas ini akan membantu para pimpinan memantau performa bisnis faskes dengan presisi tinggi, serta memberikan analisis rekomendasi instan agar pimpinan dapat mengambil keputusan bisnis secara lebih cepat dan lebih tepat," jelasnya.
Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya menjadi upaya mempercepat pekerjaan administratif, tetapi juga bagian dari strategi untuk membuat operasional fasilitas kesehatan lebih efisien, terukur, dan mampu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan layanan kesehatan.
Senada dengan itu, Komisaris Utama PT Medika Konsultama Adidayas Daniel Nugroho Djafar mengatakan, fragmentasi dalam ekosistem kesehatan menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapatkan perhatian.
Industri kesehatan Tanah Air sedang mengalami transformasi yang sangat cepat. Namun, kerap kali dihadapkan pada fragmentasi sistem yang membingungkan. Pemilik rumah sakit pusing dengan efisiensi dan regulasi, tenaga medis lelah dengan birokrasi administratif. "Di sisi lain, talenta baru kesulitan menemukan jalur karier yang tepat," ujarnya.
Menurut Daniel, kondisi tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital di sektor kesehatan bukan semata persoalan penggunaan teknologi. Sistem yang dikembangkan juga perlu memahami kebutuhan operasional, aspek hukum, serta tata kelola fasilitas kesehatan.