← Beranda
Bahaya AI Saat Mulai Bangun Relasi dengan Manusia: Konsekuensi Tidak Kita Duga
Nanda PrayogaJumat, 21 Agustus 2026 | 16.00 WIB
ilustrasi AI (Freepik)

 

JawaPos.com - Kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) kini berkembang semakin jauh. Bahkan mulai mampu membangun interaksi dan relasi dengan manusia.

Kondisi tersebut membuat Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria mengingatkan adanya potensi bahaya ketika hubungan antara manusia dan mesin menjadi semakin dekat.

Menurutnya, perkembangan AI tidak hanya membawa kemajuan teknologi, tetapi juga memunculkan berbagai konsekuensi yang sebelumnya mungkin tidak pernah diperkirakan.

“Perkembangan Artificial Intelligence ini betul-betul memunculkan apa yang kita sebut unintended consequences, konsekuensi yang tidak kita inginkan atau tidak kita duga,” ujar Wamen Nezar.

Baca Juga: Operasi Senyap AS di Selat Hormuz Terungkap, 10 Juta Barel Minyak Tetap Mengalir

Ia mengatakan, AI saat ini telah digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Teknologi tersebut tidak lagi hanya dimanfaatkan sebagai perangkat pendukung, tetapi mulai terlibat dalam aktivitas ekonomi, kesehatan, pendidikan, pertambangan, pertanian hingga kehidupan sosial.

Menurut Nezar, semakin luasnya peran AI membuat persoalan yang muncul tidak bisa dilihat hanya dari sisi teknis. Setiap keputusan yang melibatkan kecerdasan buatan juga memiliki konsekuensi etis, terlebih ketika AI mulai memiliki kemampuan untuk memahami dan memproses informasi mengenai manusia.

Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah kemampuan AI dalam melakukan profiling. Dengan mengolah berbagai data, teknologi dapat mengenali karakteristik dan pola seseorang, kemudian menggunakannya untuk membangun bentuk interaksi yang semakin personal.

Situasi tersebut diperkirakan akan menjadi lebih kompleks seiring berkembangnya embodied AI atau physical AI. Teknologi ini memungkinkan kecerdasan buatan hadir dalam bentuk fisik, termasuk robot humanoid yang dapat berkomunikasi dan berinteraksi langsung dengan manusia.

Nezar menjelaskan, keberadaan large language model (LLM) membuat robot semacam itu dapat melakukan percakapan, mengenali orang yang sedang berinteraksi dengannya, hingga melakukan profiling. Dari kemampuan tersebut kemudian dapat muncul apa yang disebut sebagai synthetic relations atau hubungan sintetik antara manusia dan mesin.

“Orang merasa bahwa dia lebih bisa percaya sama mesin ketimbang dengan manusia,” ungkapnya.

Menurut Nezar, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI berpotensi mengubah cara manusia membangun hubungan dan menempatkan kepercayaan. Mesin yang semakin mampu memberikan respons personal dapat membuat sebagian orang merasa lebih nyaman berinteraksi dengan AI dibandingkan dengan manusia.

Karena itu, Nezar menilai perkembangan teknologi perlu diiringi dengan kemampuan manusia untuk mempertanyakan tujuan dan dampak dari penggunaan AI. Kemajuan teknologi tidak cukup hanya diukur dari seberapa pintar sistem tersebut bekerja, tetapi juga dari bagaimana teknologi digunakan dan konsekuensi yang ditimbulkannya.

Baca Juga: Jawa Timur Pertimbangkan Buka Posko Trauma Healing untuk Korban Gempa NTT

Ia turut menyoroti pentingnya pemikiran filosofis dalam menghadapi perkembangan AI. Menurutnya, kemampuan AI dalam memberikan jawaban mengenai filsafat berbeda dengan kemampuan manusia untuk melakukan refleksi secara kritis dan menyeluruh.

“Filsafat adalah satu hal yang mungkin agak sulit dikuasai oleh AI. AI bisa menjelaskan filsafat tapi belum bisa melakukan apa yang kita kenal sebagai berfilsafat,” tegasnya.

Nezar menambahkan, kemampuan berpikir kritis dan reflektif akan semakin penting ketika AI terus berkembang. Manusia tetap perlu menentukan batas serta arah penggunaan teknologi agar kecanggihan AI tidak justru menghasilkan konsekuensi yang merugikan.

“Ini menjadi renungan, menjadi refleksi yang sangat baik untuk kita semua yang pernah kuliah di filsafat,” puTagging: Bahaya AI

EDITOR: Sabik Aji Taufan