← Beranda
Tak Sekadar Menari, 23 Tim Robot Humanoid Diuji dalam Misi Pemadaman Kebakaran di Tiongkok
Mellyna Putri DiniarRabu, 19 Agustus 2026 | 06.18 WIB
Robot humanoid menjalani simulasi misi pemadaman kebakaran di markas pemadam kebakaran Beijing dalam WHRG ke-2 (Global Times)

 

JawaPos.com - Perkembangan robot humanoid Tiongkok telah memasuki ujian menuju penggunaan nyata. Dalam final kategori darurat World Humanoid Robot Games (WHRG) ke-2, robot diuji melalui misi pemadaman kebakaran, bukan sekadar demonstrasi seperti berlari, menari, atau bermain musik.

Sebanyak 23 tim mengikuti skenario penyelamatan. Dalam 30 menit, setiap robot harus mengenali dua bahan berbahaya yang ditempatkan secara acak dan melaporkan jenisnya melalui gambar, kemudian menemukan serta menutup tiga katup berbeda sebelum mencari sumber api dan memadamkannya. Petugas pemadam kebakaran turut menyalakan api dan mengawasi pelaksanaan tugas.

Dilansir dari Global Times, Selasa (18/8/2026), format tahun ini sengaja dibuat lebih realistis dibandingkan penyelenggaraan pertama. Jika sebelumnya skenario berlangsung di ruangan yang telah disiapkan, kali ini kompetisi digelar di markas pemadam kebakaran. 

Hujan, perubahan pencahayaan, dan kondisi luar ruang membuat tugas pengenalan serta pengoperasian perangkat menjadi lebih sulit. Dari 12 tim yang bertanding pada Minggu, hanya tiga yang menyelesaikan seluruh tantangan.

Baca Juga: Robot Humanoid Mulai Masuk Pabrik Mobil, Benarkah Lebih Efisien daripada Manusia?

Kesulitan itu terlihat pada tim UniX AI. Robot mereka menyelesaikan tugas dalam batas waktu, tetapi bergerak lambat dibandingkan petugas pemadam kebakaran dalam praktik dan membutuhkan dua percobaan untuk menyelaraskan tangan dengan alat pemadam.

"Hujan dan kondisi pencahayaan dapat memengaruhi robot, sementara situasi nyata sering berbeda dari apa yang kami simulasikan di laboratorium," kata perwakilan UniX AI, Yang Liqi.

Karena itu, UniX AI memprogram robot untuk mencoba hingga tiga kali ketika mengoperasikan alat pemadam.

"Jika robot melihat asap putih setelah percobaan pertama, robot tidak akan melakukan percobaan kedua," ujar Yang.

UniX AI juga baru menggalang pendanaan 300 juta yuan pada akhir Maret, setara sekitar Rp793,5 miliar dengan kurs Rp2.645 per yuan.

Persoalannya bukan hanya apakah robot mampu menggerakkan tangan. Robot humanoid menggunakan sambungan kecil berpresisi tinggi untuk pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, sedangkan sambungan dengan torsi besar dan andal diperlukan untuk bergerak serta menjaga keseimbangan. Kegagalan pada satu tahap pengenalan atau tindakan dapat memengaruhi keseluruhan hasil. Robot tim Tiangong, misalnya, hanya berhasil menyelesaikan satu dari tiga tugas.

"Terlepas dari kompetisi berjalan lancar atau tidak, itulah makna simulasi dunia nyata. Setiap kegagalan di dunia nyata merupakan data berharga yang membantu robot humanoid menuju penerapan praktis," kata perwakilan Tiangong, Jin Chenran.

Dia menambahkan, "Pertanyaan seperti mengapa robot gagal mengenali suatu objek dan bagaimana sistem perencanaan geraknya memilih jalur yang salah" dapat menjadi dasar untuk memperbaiki algoritma dan melatih model kecerdasan buatan.

Di arena, transisi teknologi terlihat dari anggota tim yang mengenakan alat realitas virtual untuk menyesuaikan robot dari jarak jauh. Beberapa robot menggunakan roda segala arah, sementara tangan dengan banyak sendi dirancang untuk manipulasi presisi. Banyak tim memakai modul sambungan UBTECH, dengan aktuator servo bertorsi 0,2 hingga 200 Nm.

Arah tersebut sejalan dengan upaya Tiongkok membawa robot humanoid dan kecerdasan berwujud dari laboratorium dan arena kompetisi menuju produksi dan kehidupan sehari-hari. Pada Juni, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi bersama lembaga lain meluncurkan program khusus yang mendorong penerapan teknologi itu, termasuk penyelamatan darurat. 

Zhao Weidong, wakil direktur kantor panitia WHRG, mengatakan kompetisi berbasis skenario dirancang untuk mengukur peralihan dari "kinerja kompetisi" menuju "pekerjaan operasional nyata", termasuk kemungkinan robot menjadi mitra cerdas bagi petugas pemadam kebakaran. Menurutnya, pengujian di lingkungan yang menyerupai kondisi sebenarnya diperlukan untuk melihat kemampuan robot di luar arena yang terkendali.

"Simulasi operasi nyata mungkin masih berada pada tahap awal. Namun, ini merupakan titik awal penting agar robot benar-benar dapat membantu manusia di lingkungan dunia nyata, sekaligus menjadi sumber data dan pengujian yang penting," kata Zhao.

Menurutnya, sasaran akhirnya adalah menempatkan robot pada pekerjaan yang berbahaya bagi manusia dan mewujudkan visi "saling melengkapi antara manusia dan robot." Kompetisi ini menunjukkan bahwa tantangan robot humanoid bukan lagi sekadar membuatnya bergerak, tetapi memastikan teknologi tersebut dapat bekerja secara andal dalam kondisi yang tidak terduga.

Baca Juga: Mitsubishi Masuk Balapan Robot Humanoid, Targetkan Produksi 1.000 Unit per Bulan

EDITOR: Candra Mega Sari