JawaPos.com - Popularitas layanan kecerdasan buatan (AI) yang semakin tinggi ternyata turut dimanfaatkan penjahat siber untuk melancarkan serangan. Kaspersky GReAT menemukan 92.000 serangan berbahaya yang menyamar sebagai layanan AI.
Dari jumlah tersebut, ChatGPT menjadi layanan AI yang paling banyak digunakan sebagai kedok. Sebanyak 49 persen serangan menyamar sebagai aplikasi ChatGPT. Sementara itu, Claude dan Gemini masing-masing mencakup 18 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa penjahat siber kini tidak hanya mengandalkan eksploitasi kerentanan teknis. Kepercayaan pengguna terhadap layanan AI populer juga dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk serangan.
Sojun Ryu, peneliti keamanan di GReAT (Global Research and Analysis Team) Kaspersky, mengatakan perkembangan AI yang semakin pesat membuat teknologi tersebut kini mampu melakukan lebih banyak hal secara mandiri.
"AI telah berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahap awal, AI hadir dalam bentuk perangkat yang mampu menghasilkan, meringkas, dan menyusun draf konten. Tahap berikutnya menghadirkan copilot, yang menanamkan AI langsung ke dalam alur kerja untuk membantu, memberikan saran, dan memandu pengguna saat mereka bekerja. Kini, kita telah memasuki era agen AI yang mampu membuat perencanaan, menggunakan berbagai perangkat, memanggil API, dan bertindak secara otonom," kata Sojun dalam keterangannya, Senin (17/8).
Di tengah meningkatnya penggunaan AI, penyerang memanfaatkan kepercayaan terhadap layanan resmi dengan menyebarkan aplikasi palsu yang dirancang untuk menargetkan pengguna. Aplikasi semacam ini dapat terlihat seperti layanan AI yang sebenarnya sehingga korban tidak menyadari adanya ancaman.
Selain menemukan serangan yang menyamar sebagai layanan AI, peneliti Kaspersky GReAT juga mengidentifikasi lebih dari 15.000 sampel malware yang menyamar sebagai perangkat lunak agentic AI.
Sampel tersebut mencakup trojan, spyware, exploit, downloader, dropper, dan backdoor. Dengan menjalankan aplikasi yang menyamar tersebut, pengguna berisiko memberikan kesempatan kepada penyerang untuk mencuri informasi internal hingga membangun akses kendali jarak jauh atau command-and-control.
Kaspersky menilai kondisi ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan terhadap AI tetap perlu diimbangi dengan verifikasi. Semakin banyak aktivitas yang diserahkan kepada AI, semakin penting pula memastikan aplikasi dan perangkat lunak yang digunakan benar-benar aman.
Bagi pengguna, langkah sederhana seperti mengunduh aplikasi hanya dari sumber resmi dan memeriksa pengembang software dapat membantu mengurangi risiko. Popularitas sebuah layanan AI tidak menjamin setiap aplikasi yang mengatasnamakan layanan tersebut aman digunakan.