← Beranda
Inovasi Selamatkan Bisnis Vending Machine Jepang, Mesin Kini Tak Hanya Jual Minuman
Mellyna Putri DiniarSabtu, 15 Agustus 2026 | 03.53 WIB
Pekerja mengisi ulang mesin penjual otomatis di Tokyo (The Straits Times)

 

JawaPos.com - Mesin penjual otomatis atau vending machine telah lama menjadi simbol kemudahan di Jepang. Namun, bisnis ini kini tertekan inflasi, kenaikan biaya tenaga kerja, listrik dan distribusi, serta persaingan toko serba ada (toserba). Untuk bertahan, operator mengubah vending machine menjadi kanal ritel yang menjual pengalaman, produk khusus, hingga solusi lingkungan.

Di Yomiuri Land, Tokyo, Uniqlo memasang mesin penjual otomatis yang menjual payung pelindung ultraviolet dan kacamata hitam. Sementara itu, mesin di peron Osaka menawarkan kipas pendingin dan es, sedangkan mesin di Stasiun Odawara menyediakan bento dingin. Produk lain yang kini tersedia melalui mesin tersebut mencakup ramen beku, gyoza, kaviar, daging premium, parfum, permainan puzzle, kartu koleksi, hingga karya literatur.

Dilansir dari The Straits Times, Jumat (14/8/2026), inovasi tersebut muncul ketika jumlah mesin minuman Jepang terus menyusut. Pada 2025, jumlahnya turun menjadi 1,95 juta unit, pertama kali berada di bawah dua juta sejak pencatatan dimulai sekitar tiga dekade lalu. Angka itu turun 20 persen dari puncak 2,47 juta unit pada 2014, sementara volume penjualan rata-rata per mesin merosot hampir 40 persen.

Baca Juga: Teknologi AI Diterapkan di 40 Stasiun di Jepang untuk Cegah Bunuh Diri

Secara keseluruhan, jaringan mesin otomatis Jepang menyusut menjadi 3,88 juta unit, turun 22,9 persen dibandingkan 2014. Penurunan tersebut menunjukkan mulai tergerusnya posisi Jepang sebagai salah satu negara yang paling identik dengan mesin penjual otomatis. Peneliti senior Sompo Institute Plus, Masato Koike, menilai, era ketika Jepang menjadi "negara adidaya mesin penjual otomatis" telah berlalu.

Kemunduran tersebut terutama dipicu perubahan ekonomi yang membuat keunggulan harga dan kenyamanan mesin semakin sulit dipertahankan. Konsumen kini dapat memperoleh lebih banyak pilihan dari toserba, toko obat, dan supermarket yang memiliki fleksibilitas harga lebih tinggi.

Mesin penjual otomatis juga menghadapi kendala penyesuaian harga karena umumnya bergerak dalam kelipatan 10 yen. Biaya transaksi nontunai sekitar 2 persen, listrik, distribusi, serta tenaga kerja untuk pengisian stok dan pengambilan uang tunai semakin menekan margin.

Tekanan itu memukul perusahaan besar. Coca-Cola Bottlers Japan mencatat kerugian terkait aset mesin penjual otomatis sebesar 88,1 miliar yen pada 2025, sekitar Rp9,9 triliun dengan kurs Rp112,5 per yen. Ito En mengalami kerugian penurunan nilai 13,8 miliar yen dan memangkas jaringannya menjadi 75.000 mesin dari 165.000 pada 2015. DyDo menarik 20.000 mesin yang tidak menguntungkan, sementara Pokka Sapporo menjual seluruh 40.000 mesinnya.

Karena itu, perusahaan mulai mencari fungsi baru. Asahi Soft Drinks telah memasang lebih dari 8.500 mesin dengan material khusus yang dapat menyerap hingga 60 kilogram karbon dioksida per unit setiap tahun, setara penyerapan sekitar 20 pohon cedar. Material tersebut juga diarahkan untuk digunakan kembali dalam industri konstruksi.

Pada 5 Agustus, Asahi menyatakan material hasil penyerapan karbon itu untuk pertama kalinya digunakan dalam beton cor di proyek teknik sipil di Fukushima. Beton yang dikembangkan Obayashi digunakan sebagai fondasi bangunan sementara dalam proyek penyimpanan interim. Inovasi ini membuat mesin penjual otomatis terhubung dengan rantai ekonomi sirkular, bukan sekadar distribusi minuman.

Sementara itu, Suntory Beverage & Food menyasar pasar oshi-katsu melalui mesin bertema anime. Perusahaan berencana menggandakan jumlahnya menjadi 11.000 unit pada 2028, dengan ruang khusus untuk menjual figur akrilik dan pin. Strategi tersebut menunjukkan pergeseran mesin penjual otomatis dari penjualan massal menuju pasar niche dan berbasis komunitas.

Meski jumlahnya menurun, mesin penjual otomatis tetap memiliki tempat kuat dalam kehidupan Jepang. Haruki Shizuka, 65, menulis bahwa mesin yang ditemuinya saat pulang larut malam terasa seperti tempat berlindung kecil.

Baca Juga: Jepang Siapkan Robot Haro dari Gundam ke Luar Angkasa untuk Uji Teknologi Otonom

"Saya sering merasa dikuatkan oleh minuman yang diambil dari mesin bercahaya tanpa sosok manusia di tengah kegelapan, seolah-olah berkata, 'Anda sudah bekerja keras hari ini'." Bagi industri, inovasi kini menjadi cara mempertahankan relevansi simbol tersebut di tengah perubahan ekonomi.

EDITOR: Candra Mega Sari