JawaPos.com - Gagasan Jensen Huang untuk mengubah infrastruktur kecerdasan buatan (AI) menjadi aset yang dapat dibiayai Wall Street mulai mendapat dukungan dari para pengelola modal terbesar dunia.
Enam perusahaan keuangan, Goldman Sachs, BlackRock, Blackstone, KKR, Apollo, dan Brookfield, menyatakan siap menghimpun lebih dari USD 500 miliar atau sekitar Rp8.930 triliun, dengan kurs Rp17.860 per dolar AS, dari investor institusional untuk membangun pusat data dan sistem komputasi AI.
Alih-alih terus mengandalkan neraca perusahaan teknologi, skema ini menawarkan sumber pendanaan baru untuk memenuhi kebutuhan modal yang terus membesar.
Huang menilai pusat data dan sistem komputasi AI kini memiliki karakter berbeda dari komputer pribadi atau ponsel karena menghasilkan pendapatan.
"Ini adalah aset yang menghasilkan pendapatan. Aset ini produktif, berumur panjang, dapat dipertukarkan, dan fleksibel," kata CEO Nvidia tersebut.
Dilansir dari CNBC, Kamis (13/8/2026), Huang menyampaikan gagasan itu dalam wawancara pada Senin bersama para pemimpin Goldman Sachs, BlackRock, Blackstone, KKR, Apollo, dan Brookfield.
Baca Juga: Di Tengah Kekhawatiran AS, Jensen Huang Minta AI Open Source Tiongkok Dirangkul, Bukan Dilarang
Mereka melihat infrastruktur AI sebagai kelas aset baru yang dapat menghasilkan arus pendapatan dan menarik pembiayaan berbasis aset.
"Anda dapat memandangnya sebagai aliran pendapatan, lalu melakukan sekuritisasi atau pada dasarnya membagi risiko itu dan menjualnya," kata Waldemar Szlezak, Kepala Infrastruktur Digital KKR.
Perubahan tersebut muncul setelah lebih dari tiga tahun pembangunan AI ditopang penerbitan saham dan utang oleh perusahaan teknologi besar. Alphabet, Amazon, Meta, Microsoft, dan Oracle telah menghimpun lebih dari USD 150 miliar tahun ini untuk pusat data, pengembangan model AI, dan teknologi agen AI.
Intel bahkan menaikkan penawaran sahamnya dari USD 15 miliar menjadi USD 20 miliar. McKinsey memperkirakan kebutuhan belanja pembangunan AI global mencapai USD 7 triliun pada akhir dekade.
Kini, Wall Street melihat pusat data dan perangkat komputasi sebagai aset yang dapat menghasilkan keuntungan, bukan sekadar perangkat teknologi. Satu rak sistem berisi GPU Nvidia dapat bernilai sekitar USD 3 juta, sementara perangkatnya dapat diperbarui melalui perangkat lunak CUDA dan digunakan lebih lama.
"Anda mulai melihat pembiayaan berbasis aset untuk pembangunan infrastruktur ini. Itu tidak mengherankan karena ini adalah aset nyata. Aset ini memiliki nilai nyata," ujar CEO Goldman Sachs David Solomon.
Meski demikian, dukungan tersebut belum berarti skema pembiayaan telah siap dijalankan. Keenam perusahaan baru menandatangani nota kesepahaman, bukan kontrak. Jenis peminjam, tingkat bunga, lokasi fasilitas, dan waktu pelaksanaan belum ditentukan.
Hal ini penting karena Nvidia sebelumnya mengumumkan rencana investasi hingga USD 100 miliar untuk OpenAI dan pembangunan pusat data dengan kapasitas gabungan 10 gigawatt, tetapi rencana tersebut tidak terealisasi. Nvidia kemudian menyuntikkan USD 30 miliar dalam putaran pendanaan OpenAI.
Karena itu, potensi keuntungan berjalan beriringan dengan risiko. Model sekuritisasi mengingatkan pada praktik pengemasan kredit perumahan yang turut memperburuk krisis keuangan 2007–2009.
Investor Michael Burry sebelumnya menilai sejumlah perusahaan teknologi berpotensi melebihkan masa pakai cip AI dan meremehkan biaya penyusutannya.
"Akan ada ekses, akan ada kemunduran," kata Presiden Apollo Global Management Jim Zelter.
Sementara itu, CEO BlackRock Larry Fink melihat perkembangan ini sebagai awal dari bentuk baru rekayasa keuangan.
"Ini baru permulaan, seperti ketika saya mulai berkecimpung di pasar sekuritas berbasis hipotek pada 1970-an. Saya melihatnya sebagai masa depan berikutnya bagi rekayasa keuangan," ujarnya.
Meski demikian, setiap lembaga keuangan akan menentukan sendiri keputusan pembiayaannya, sedangkan Nvidia berperan menghubungkan calon peminjam dengan mitra pendanaan.
Untuk membuat pembiayaan lebih menarik, Nvidia memiliki opsi menjamin hingga 25 persen dari setiap pinjaman. Jaminan tersebut berpotensi membantu perusahaan memperoleh tingkat bunga lebih rendah dibandingkan jika hanya mengandalkan peringkat kredit sendiri. Peminjam juga wajib menggunakan arsitektur sistem yang ditentukan Nvidia agar fasilitas dapat dioperasikan perusahaan lain jika terjadi masalah.
Dengan demikian, "gagasan besar" Huang bukan sekadar mencari dana untuk memperbanyak pusat data, melainkan mengubah infrastruktur AI menjadi aset yang dapat dibiayai dan risikonya dibagi kepada investor. Namun, Huang masih harus membuktikan bahwa model tersebut dapat bekerja dalam skala besar.
CEO Brookfield Bruce Flatt menilai struktur itulah yang dibutuhkan pasar. "Jensen memimpin upaya ini untuk menciptakan struktur, karena ada ratusan triliun dolar uang di dunia," kata Flatt.