← Beranda
AI Kini Bisa Merancang Virus Baru, Ilmuwan Peringatkan Potensi Manfaat Sekaligus Ancaman Biologis
Dony Lesmana Eko Putra• Jumat, 7 Agustus 2026 | 20.57 WIB
Ilustrasi Norovirus. (TravelAge West)

JawaPos.com - Kemajuan kecerdasan artifisial (AI) kembali memunculkan terobosan sekaligus kekhawatiran baru. Para ilmuwan berhasil menggunakan model AI untuk merancang virus baru yang mampu menginfeksi dan bereproduksi di dalam bakteri.

Penelitian tersebut membuka peluang besar bagi pengembangan terapi gen dan bioteknologi, tetapi juga memunculkan pertanyaan serius mengenai risiko penyalahgunaan teknologi tersebut.

Seperti dilansir dari Engadget, studi yang diterbitkan di jurnal Science dan dilaporkan The New York Times menunjukkan bahwa teknologi AI kini tidak hanya mampu menganalisis informasi biologis, tetapi juga menghasilkan rancangan virus yang dapat berfungsi di dunia nyata.

Meski penelitian dilakukan dengan berbagai pembatasan keamanan, para peneliti mengingatkan bahwa kemampuan serupa berpotensi disalahgunakan apabila jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab.

Penelitian tersebut dilakukan oleh tim ilmuwan dari Arc Institute di Palo Alto dan Universitas Stanford menggunakan model bahasa genom bernama Evo 1 dan Evo 2. Cara kerja model ini mirip dengan Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT atau Claude, tetapi alih-alih mempelajari buku dan situs web, Evo dilatih menggunakan urutan genetik.

Model tersebut mempelajari triliunan nukleotida, yakni unit penyusun DNA, sehingga mampu memahami pola atau "tata bahasa" dari kode genetik.

Dalam eksperimen ini, tim peneliti kembali melatih model menggunakan sekitar 15.000 virus yang berasal dari keluarga Phi X-174, virus berukuran sangat kecil yang hanya menginfeksi bakteri Escherichia coli (E. coli).

Para ilmuwan juga membatasi penelitian hanya pada virus yang menginfeksi bakteri, sehingga tidak mencakup virus yang dapat menyerang manusia, hewan, tanaman, maupun jamur.

Dari proses tersebut, Evo menghasilkan sekitar 700.000 desain virus baru. Para peneliti kemudian menyeleksi 285 kandidat yang dinilai paling menjanjikan, memproduksi DNA-nya, lalu memasukkannya ke dalam bakteri untuk diuji.

Hasilnya, sebanyak 16 virus hasil rancangan AI berhasil berfungsi dan mampu bereproduksi. Tingkat keberhasilan hidup virus-virus tersebut bahkan setara dengan Phi X-174, sementara beberapa di antaranya berkembang biak lebih cepat dibandingkan virus aslinya.

Temuan ini dinilai memiliki potensi besar bagi dunia kesehatan. Virus hasil rancangan AI dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan terapi gen yang lebih efektif, membantu ilmuwan memahami genom secara lebih mendalam, hingga menciptakan alat baru untuk melawan bakteri berbahaya.

Namun, di balik manfaat tersebut, muncul pula kekhawatiran mengenai potensi penyalahgunaan teknologi. Para peneliti menilai kemampuan AI dalam merancang genom dapat meningkatkan risiko apabila digunakan untuk tujuan yang tidak etis, termasuk pengembangan senjata biologis.

Sebelumnya, sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa chatbot AI umum dapat memberikan informasi yang dinilai mengkhawatirkan terkait aspek teoritis ancaman biologis.

Model AI yang secara khusus mampu merancang genom dinilai membawa tantangan baru karena teknologinya semakin canggih.

Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa ilmu pengetahuan pada dasarnya bersifat netral. Manfaat atau risikonya sangat bergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan serta seberapa kuat regulasi dan mekanisme pengaman yang diterapkan.

Karena itu, perkembangan AI di bidang biologi dinilai perlu diimbangi dengan pengawasan, standar etika, dan regulasi yang memadai agar inovasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kesehatan tanpa menimbulkan ancaman baru bagi masyarakat.

 

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra