← Beranda
Sergey Brin Bongkar Gemini Sempat Dilarang Dipakai untuk Coding di Google
Mellyna Putri DiniarRabu, 29 Juli 2026 | 05.50 WIB
Sergey Brin mengungkap Gemini sempat masuk daftar larangan internal Google untuk penggunaan coding (StoryBoard18)

 

JawaPos.com - Saat Google berlomba mengembangkan kecerdasan buatan (AI), model AI andalannya sendiri ternyata sempat tidak boleh digunakan untuk coding di lingkungan internal perusahaan. Fakta itu diungkap langsung oleh salah satu pendiri Google, Sergey Brin, yang mengatakan bahwa Gemini sempat dilarang digunakan untuk coding oleh para insinyur perusahaan untuk membantu pemrograman.

Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa perlombaan AI tidak hanya ditentukan oleh keunggulan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan menyelaraskan kebijakan internal dengan arah inovasi. Kasus ini menjadi perhatian karena terjadi di Google, salah satu pemimpin industri AI yang kini bersaing ketat dengan OpenAI, Anthropic, dan Meta dalam mengembangkan model AI generatif.

Dilansir dari Storyboard18, Selasa (28/7/2026), Brin mengungkapkan hal itu saat tampil dalam podcast All-In. Dia mengatakan baru mengetahui kebijakan tersebut setelah kembali aktif melakukan coding di Google.

"Belakangan ini saya sempat berselisih cukup besar di dalam perusahaan. Kami memiliki daftar alat yang boleh digunakan untuk coding dan yang tidak boleh digunakan, dan Gemini justru berada dalam daftar yang tidak boleh digunakan," ujar Brin.

Baca Juga: Google Tambah Opsi Login Akun Pakai Video Selfie, Diklaim Lebih Aman dari Deepfake

Brin mengaku terkejut karena pembatasan tersebut berlaku terhadap produk AI yang dikembangkan Google sendiri. Menurutnya, aturan itu sebenarnya sudah tidak lagi diterapkan secara aktif, tetapi masih tercantum dalam laman kebijakan internal perusahaan. Dia mengatakan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menghapus aturan yang dinilai sudah tidak lagi sejalan dengan arah pengembangan Google.

Karena upayanya tidak membuahkan hasil, Brin akhirnya meminta bantuan CEO Google Sundar Pichai. "Saya akhirnya memberi tahu Sundar. Dia sangat mendukung. Saya berkata kepadanya, 'Saya sudah tidak sanggup lagi berurusan dengan orang-orang ini. Anda yang harus menyelesaikannya'," kata Brin. Menurutnya, dukungan Pichai menjadi faktor penting hingga pembatasan tersebut akhirnya dicabut.

Dalam perbincangan itu, pembawa acara juga menyinggung besarnya pengaruh Brin di Google berkat kepemilikan saham dengan hak suara mayoritas. Namun, Brin menilai perbedaan pandangan tersebut justru mencerminkan budaya kerja yang sehat. Dia mengatakan persoalan itu akhirnya terselesaikan dan para karyawan kini telah menggunakan Gemini sebagai alat bantu dalam proses coding.

"Masalah itu akhirnya berhasil diperbaiki, dan sekarang orang-orang menggunakan Gemini untuk membuat kode," ujar Brin.

Dia menambahkan, peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan internal terkadang tetap bertahan meskipun prioritas perusahaan telah berubah, sehingga berpotensi menghambat adopsi teknologi baru.

Pengalaman Google tersebut menunjukkan bahwa tantangan dalam perlombaan AI global tidak selalu datang dari kompetitor. Prosedur internal, aturan lama, dan proses pengambilan keputusan yang belum diperbarui juga dapat memperlambat penerapan teknologi, bahkan ketika perusahaan telah menjadikannya sebagai strategi utama.

Bagi Google, penyelesaian persoalan tersebut bukan sekadar menghapus satu aturan lama, melainkan memastikan kebijakan internal bergerak seiring dengan ambisi perusahaan dalam mengembangkan AI.

Pengalaman Google menunjukkan bahwa keunggulan dalam perlombaan AI tidak hanya ditentukan oleh kualitas model AI, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan menyelaraskan kebijakan internal dengan arah inovasi yang terus berubah.

Baca Juga: Google Dikabarkan Kembangkan Chip AI Baru yang Jauh Lebih Hemat Daya, Siap Perkuat Gemini

EDITOR: Candra Mega Sari