JawaPos.com - Pertanyaan mengenai perlu tidaknya anak memiliki gadget turut mengemuka dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, banyak orang tua dihadapkan pada dilema antara memberikan akses teknologi sejak dini atau membatasi penggunaannya demi menjaga tumbuh kembang anak.
Psikolog Klinis Anak dan Remaja Universitas Indonesia (UI), Vera Itabiliana Hadiwidjojo, menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada gadget itu sendiri, melainkan bagaimana teknologi digunakan dan dikendalikan dalam kehidupan anak.
Menurut Vera, tantangan terbesar yang dihadapi anak saat ini adalah derasnya paparan informasi dan stimulasi digital yang datang tanpa batas. Sementara itu, kemampuan anak untuk menyaring informasi maupun mengendalikan diri masih belum berkembang secara optimal.
"Tantangan terbesar anak di era digital adalah paparan informasi dan stimulasi tanpa batas, sementara kemampuan menyaring informasi dan mengendalikan diri pada anak belum matang," ujar Vera dihubungi ketika JawaPos.com.
Karena itu, orang tua perlu memastikan teknologi tidak mengambil alih kebutuhan dasar yang sangat penting bagi proses tumbuh kembang anak. Mulai dari waktu tidur yang cukup, aktivitas fisik, belajar, bermain secara langsung, hingga berinteraksi dengan keluarga dan teman sebaya.
Gadget Bukan Pengganti Pola Asuh
Vera mengingatkan gadget seharusnya tidak menjadi 'pengasuh' ataupun alat utama untuk menenangkan anak. Sebaliknya, teknologi harus ditempatkan sebagai sarana belajar dan berkarya, bukan satu-satunya sumber hiburan.
Ia menyarankan orang tua menetapkan waktu bebas gadget di rumah, menyediakan aktivitas alternatif yang menarik, serta mendampingi anak ketika mengakses internet maupun media sosial.
"Teknologi sebaiknya menjadi alat untuk belajar dan berkarya, bukan satu-satunya sumber hiburan atau cara menenangkan anak," katanya.
Pendampingan juga harus dibarengi dengan contoh nyata dari orang tua. Kebiasaan orang tua yang terus-menerus menggunakan ponsel di depan anak tanpa kontrol justru akan menjadi teladan yang ditiru.
Tantangan Pendidikan di Era Digital
Pandangan serupa juga disampaikan Pengamat Pendidikan Indra Charismiadji. Menurutnya, tantangan terbesar pendidikan Indonesia saat ini bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan rendahnya kemampuan literasi dan berpikir kritis anak di tengah banjir informasi digital. "Kita sedang merayakan anak-anak yang tidak kita lindungi," kata Indra.
Ia mengutip hasil PISA 2022 yang menunjukkan skor literasi membaca Indonesia berada di angka 359, turun dibandingkan hasil sebelumnya. Di sisi lain, rata-rata waktu penggunaan layar anak usia 10-14 tahun telah melampaui lima jam setiap hari, sementara waktu membaca buku bahkan tidak mencapai 15 menit.
Menurut Indra, kondisi tersebut menjadi alarm serius karena anak-anak bukan hanya menghadapi persoalan rendahnya kemampuan membaca, tetapi juga kesulitan membedakan informasi yang benar dengan hoaks maupun propaganda.
"Anak Indonesia tidak hanya buruk dalam membaca, mereka tidak mampu membedakan fakta dari opini, data dari propaganda, informasi dari hoaks," ujarnya.
Teknologi Harus Diimbangi Kemampuan Berpikir Kritis
Indra menilai derasnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) membuat kemampuan berpikir kritis menjadi jauh lebih penting dibanding sekadar kemampuan mengoperasikan perangkat digital.
Ia menilai pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada penggunaan teknologi, tetapi juga harus membentuk karakter, kemampuan bernalar, serta literasi digital yang kuat.
Menurutnya, keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat harus kembali menjalankan perannya secara seimbang sebagaimana konsep Tiga Sentra Pendidikan yang diperkenalkan Ki Hadjar Dewantara.
"Yang terjadi sekarang, anak-anak hidup di ruang digital tanpa fondasi yang cukup kuat untuk memilah informasi," katanya.
Hari Anak Nasional Jadi Momentum Evaluasi
Momentum Hari Anak Nasional, menurut kedua narasumber, seharusnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan anak menghadapi era digital tidak ditentukan oleh seberapa cepat mereka memiliki gadget.
Yang lebih penting adalah memastikan anak tumbuh dengan kemampuan mengendalikan diri, memiliki kebiasaan belajar yang baik, aktif berinteraksi dengan lingkungan, serta memperoleh pendampingan dari orang tua.
Dengan demikian, gadget dapat menjadi alat yang membantu proses belajar dan kreativitas, bukan justru menghambat perkembangan maupun kualitas pendidikan anak.
Baca Juga: Hari Anak Nasional 2026: Ancaman Obesitas dan Diabetes Bayangi Generasi Muda Indonesia
Bagi orang tua, pertanyaan yang perlu dijawab bukan lagi sekadar 'kapan anak boleh memegang gadget', melainkan apakah penggunaan teknologi tersebut benar-benar mendukung kebutuhan tumbuh kembang anak dan dilakukan dengan pendampingan yang memadai. (*)