← Beranda
Australia Susun Strategi AI saat Pasar Robot Humanoid Global Berkembang Pesat
Mellyna Putri DiniarSelasa, 21 Juli 2026 | 00.46 WIB
Robot AI Andromeda "Abi" yang dirancang untuk mendukung layanan perawatan lansia (ABC News)

 

JawaPos.com - Australia tengah memperkuat pendekatan nasional terhadap kecerdasan buatan (AI) ketika teknologi tersebut berkembang semakin cepat, termasuk melalui kemunculan robot humanoid yang mulai dipasarkan untuk kebutuhan industri dan layanan publik. Perubahan ini berlangsung di tengah persaingan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok dalam menguasai teknologi AI global.

Langkah tersebut mengemuka setelah Perdana Menteri Anthony Albanese mengambil alih koordinasi kebijakan AI nasional. Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan AI terkemuka mulai mendorong lahirnya standar pengujian model AI sebelum dipasarkan, sementara perusahaan Tiongkok terus mempercepat inovasi dengan biaya yang jauh lebih rendah sehingga mengubah peta persaingan industri AI dunia.

Dilansir dari ABC News, Senin (20/7/2026), Chief Executive Officer (CEO) Google DeepMind Demis Hassabis mengusulkan agar model AI mutakhir diuji oleh lembaga independen hingga 30 hari sebelum dirilis. 

Menurutnya, "Pada tahap awal, laboratorium AI terdepan secara sukarela membagikan model kepada badan standar untuk ditinjau hingga 30 hari sebelum peluncuran. Setelah protokol penilaian terbukti efektif dan kuat, ketentuan tersebut dapat diformalkan sehingga model AI mutakhir wajib lulus pengujian sebelum dapat digunakan di pasar Amerika Serikat."

Baca Juga: SoftBank Ramal 100 Triliun Agen AI dan 1 Miliar Robot Humanoid Kuasai Dunia Kerja pada 2040

Usulan itu segera mendapat dukungan dari pelaku utama industri AI. CEO OpenAI Sam Altman menyebutnya sebagai "usulan yang matang dari Demis". Elon Musk mengatakan, "Kerangka ini secara keseluruhan dipikirkan dengan baik dan tentu merupakan titik awal yang baik." 

Sementara itu, Chief Executive Microsoft Satya Nadella menilai, "Kita membutuhkan lebih banyak pemikiran seperti ini." Salah seorang pendiri Anthropic, Jack Clark, juga menegaskan bahwa seluruh pengembang AI terdepan sepakat pengujian oleh pihak ketiga perlu menjadi dasar penyusunan standar dan kebijakan.

Dorongan tersebut muncul di tengah meningkatnya daya saing Tiongkok dalam pengembangan AI. ABC News melaporkan model AI sumber terbuka Kimi K3 disebut memiliki kemampuan yang sebanding dengan model terbaru OpenAI dan Anthropic, tetapi ditawarkan dengan biaya sekitar sepersepuluhnya. 

Kehadiran model itu ikut menekan harga saham sejumlah perusahaan AI dan semikonduktor Amerika Serikat, sekaligus memperbesar pangsa pasar AI Tiongkok di tingkat global.

Sebagai respons, Australia mulai menerapkan pendekatan lintas kementerian melalui AI Safety Institute, Office of AI di bawah Departemen Perdana Menteri dan Kabinet, serta koordinasi nasional yang mencakup pembangunan pusat data, keamanan nasional, ketenagakerjaan, hak cipta, dan riset. 

Menteri Keuangan Jim Chalmers mengatakan kerangka regulasi akan terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi, meski pemerintah belum memutuskan apakah pengujian AI sebelum peluncuran akan diwajibkan.

Urgensi penyusunan tata kelola AI juga diperkuat oleh pernyataan bersama yang ditandatangani 2.526 ekonom, peneliti AI, eksekutif teknologi, dan pembuat kebijakan. 

Mereka memperingatkan AI berpotensi menjadi jauh lebih kuat dalam satu dekade mendatang dan mendorong transformasi ekonomi yang melampaui Revolusi Industri, tetapi berlangsung dalam waktu jauh lebih singkat. Karena itu, pemerintah didorong segera membangun insentif, pagar pengaman, dan kelembagaan yang mampu memastikan AI tetap melengkapi kemampuan manusia.

Peringatan mengenai dampak AI juga datang dari sejarawan sekaligus penulis Yuval Noah Harari. Menurutnya, "AI kini sedang meretas kode peradaban manusia." Harari menilai tantangan AI tidak lagi sekadar memperebutkan perhatian pengguna, tetapi telah bergeser ke ranah hubungan personal karena teknologi tersebut semakin mampu membangun ikatan emosional dengan manusia.

Kekhawatiran itu mendorong Tiongkok memberlakukan aturan baru bagi layanan AI yang dapat meniru kepribadian manusia. Regulasi tersebut melarang layanan yang menawarkan hubungan virtual menyerupai pasangan bagi anak di bawah umur. 

Baca Juga: Tiongkok Mengirim Robot Humanoid ke Dunia Nyata untuk Memenangkan Perlombaan Kecerdasan Buatan Fisik

Penyedia layanan juga diwajibkan memberikan dukungan emosional serta mendorong pengguna mencari bantuan apabila sistem mendeteksi kondisi emosional yang ekstrem.

Seiring berkembangnya teknologi AI, pasar robot humanoid pun meluas. Startup Australia Andromeda mulai memasarkan robot pendamping lansia bernama Abi. 

Sementara itu, perusahaan Tiongkok AgiBot memperkenalkan robot humanoid berharga 40.000-50.000 dolar AS, setara sekitar Rp717,6 juta-Rp897 juta (dengan kurs Rp17.940 per dolar AS), yang diproyeksikan untuk pekerjaan manufaktur, pergudangan, hotel, hingga ritel. 

Pesatnya perkembangan tersebut menunjukkan bahwa robot humanoid menghadirkan tantangan regulasi baru, termasuk mengenai sejauh mana teknologi itu diizinkan tampil dan berinteraksi layaknya manusia.

EDITOR: Candra Mega Sari