← Beranda
Beijing Mulai Melunak, Perusahaan AI Tiongkok Segera Bisa Membeli Cip Nvidia H200
Mellyna Putri DiniarSabtu, 11 Juli 2026 | 06.34 WIB
Cip Nvidia H200 dari keluarga Hopper digunakan untuk melatih dan menjalankan model kecerdasan buatan (AI) (The Straits Times)

 

JawaPos.com - Pemerintah Tiongkok mulai menunjukkan pelonggaran sikap terhadap akses teknologi kecerdasan buatan (AI) Amerika Serikat (AS) setelah dilaporkan akan mengizinkan sejumlah perusahaan AI domestik membeli cip H200 buatan Nvidia dalam jumlah terbatas. 

Keputusan tersebut menjadi perkembangan penting dalam persaingan teknologi antara AS dan Tiongkok, terutama karena cip AI Nvidia selama ini menjadi salah satu aset paling strategis dalam pengembangan model kecerdasan buatan. 

Sejumlah perusahaan besar seperti Alibaba Group, ByteDance, dan DeepSeek disebut akan menjadi penerima akses tersebut setelah sebelumnya menghadapi keterbatasan pasokan daya komputasi.

Baca Juga: Nvidia Bernilai Hampir USD 4,8 Triliun, tetapi Tetap Menolak Budaya 'Makan Siang Gratis' ala Silicon Valley

Dilansir dari The Straits Times, Jumat (10/7/2026), pemerintah Tiongkok telah memberi tahu sejumlah perusahaan AI bahwa mereka dapat mengajukan pembelian cip H200 Nvidia. Namun, izin tersebut tidak diberikan secara bebas karena setiap perusahaan harus menjelaskan jumlah cip yang dibutuhkan serta alasan penggunaannya sebelum memperoleh persetujuan. 

Kebijakan itu muncul ketika perusahaan AI Tiongkok, seperti halnya perusahaan di AS, membutuhkan kapasitas komputasi lebih besar untuk melatih dan menjalankan model AI terbaru.

Sebelumnya, Beijing menahan masuknya cip H200 meskipun Presiden AS Donald Trump telah memberikan izin kepada Nvidia untuk menjual prosesor tersebut ke pasar Tiongkok pada Desember lalu. Pemerintah Tiongkok khawatir ketergantungan terhadap cip buatan Amerika Serikat dapat menghambat pengembangan industri semikonduktor lokal serta menimbulkan risiko keamanan siber.

Juru Bicara Kedutaan Besar Tiongkok Liu Chang mengatakan kebijakan negaranya terhadap ekspor cip AS tetap konsisten. "Kami mendorong Tiongkok dan AS mencapai manfaat bersama serta hasil yang saling menguntungkan melalui kerja sama. Kami menentang politisasi, instrumentalisasi, dan penggunaan isu teknologi maupun ekonomi sebagai senjata," ujarnya, seraya menyatakan kesiapan Beijing "bekerja sama dengan semua pihak untuk bersama-sama menjaga stabilitas rantai pasok industri dan rantai pasok global."

Di sisi lai, Nvidia masih menghadapi ketidakpastian terkait realisasi penjualan H200 di Tiongkok. Kepala Keuangan Nvidia Colette Kress pada Mei lalu mengatakan perusahaan belum dapat memastikan apakah cip tersebut akan benar-benar diimpor ke pasar tersebut. 

"Kami belum mengetahui apakah impor cip tersebut akan diizinkan masuk ke negara itu," kata Kress. Karena ketidakpastian itu, Nvidia tidak memasukkan pendapatan dari pasar Tiongkok untuk H200 dalam proyeksi keuangannya.

Menurut laporan tersebut, pemerintah Tiongkok masih menentukan jumlah cip yang akan diizinkan masuk, dengan kemungkinan total kurang dari 200.000 unit. Jumlah itu tergolong kecil dibandingkan kebutuhan pusat data AI modern. Satu pusat data saja dapat menggunakan lebih dari 400.000 prosesor Blackwell, generasi penerus H200 Nvidia.

H200 sendiri merupakan cip dari keluarga Hopper Nvidia yang dirancang untuk melatih dan menjalankan model AI. Cip tersebut sebelumnya menjadi prosesor AI paling kuat di pasar sebelum Nvidia memperkenalkan seri Blackwell pada akhir 2024. 

Perusahaan asal Amerika Serikat itu juga tengah menyiapkan generasi Rubin yang dijadwalkan hadir pada paruh kedua 2026, sementara Washington tetap membatasi ekspor cip AI yang lebih maju ke Tiongkok dengan alasan keamanan nasional.

Pelonggaran akses tersebut turut memberikan sentimen positif bagi Nvidia. Saham perusahaan naik 3,7 persen menjadi USD 204,12 atau sekitar Rp3,70 juta dengan kurs Rp18.120 per dolar AS pada perdagangan 8 Juli. Namun, kenaikan saham Nvidia sepanjang 2026 masih lebih rendah dibandingkan sejumlah perusahaan semikonduktor besar lainnya.

Keputusan Beijing ini menunjukkan adanya perubahan pendekatan dalam menghadapi perlombaan AI global. Di satu sisi, Tiongkok tetap mendorong kemandirian teknologi domestik, tetapi di sisi lain kebutuhan terhadap infrastruktur komputasi berkapasitas tinggi membuat akses terhadap teknologi Nvidia masih menjadi faktor penting. 

Hal ini menegaskan bahwa persaingan AI antara Washington dan Beijing kini juga ditentukan oleh penguasaan atas sumber daya komputasi yang menjadi fondasi industri masa depan.

Baca Juga: Nvidia dan LG Bangun Aliansi AI Bernilai Multitriliun: Akselerasi Menuju Era Robot Humanoid Global

EDITOR: Candra Mega Sari