← Beranda
Ancaman Phishing hingga Deepfake Meningkat, Komunitas Blockchain dan BSSN Soroti Pentingnya Literasi Siber
Rian AlfiantoJumat, 26 Juni 2026 | 02.42 WIB
Ilustrasi aset digital cryptocurrency atau kripto. (Wealth Professional)

JawaPos.com - Meningkatnya kasus penipuan digital berbasis phishing, rekayasa sosial (social engineering), hingga penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan deepfake menjadi tantangan baru bagi keamanan siber di Indonesia. 

Kondisi ini tidak hanya mengancam pengguna layanan keuangan digital, tetapi juga masyarakat yang mulai memanfaatkan teknologi blockchain dan aset kripto.

Isu tersebut mengemuka dalam Festival Aman Digital 2026 yang diselenggarakan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) di Balai Kota Jakarta. 

Forum yang mengusung tema 'Kolaborasi Lintas Sektor Guna Mensukseskan Literasi Keamanan Siber Nasional' itu mempertemukan pemerintah, regulator, industri keuangan, komunitas, hingga pelaku teknologi untuk membahas strategi menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.

Dalam pidato kuncinya, Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN, Satryo Suryantoro, menegaskan bahwa keberhasilan meningkatkan literasi keamanan siber tidak bisa dibebankan kepada satu lembaga saja.

“Aksi gerakan nasional 90 hari literasi keamanan siber sebagai bagian dari upaya bersama dalam mendukung implementasi rencana aksi nasional keamanan siber. Keberhasilan literasi keamanan siber tidak dapat diwujudkan oleh satu institusi saja. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, baik kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, komunitas, dunia usaha, media, maupun masyarakat luas,” ujar Satryo di Jakarta, Kamis (25/6).

Pernyataan tersebut mencerminkan semakin kompleksnya ancaman digital yang kini tidak lagi hanya menyasar sistem teknologi, tetapi juga perilaku manusia sebagai titik terlemah dalam rantai keamanan.

Penipuan Digital Makin Canggih

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta, Marulina Dewi, mengatakan serangan siber saat ini telah berevolusi menjadi ancaman yang lebih sulit dideteksi karena memanfaatkan manipulasi psikologis korban.

“Atas nama Pemprov DKI Jakarta kami mengapresiasi yang setinggi-tingginya kepada BSSN yang secara konsisten mendorong terus peningkatan kesadaran budaya keamanan siber di Indonesia melalui berbagai program literasi dan kolaborasi lintas sektor,” kata Marulina dalam kesempatan yang sama.

Marulina menambahkan, bahwa forum ini menjadi bagian gerakan kita bisa mengantisipasi beragam ancaman siber.

"Serangan siber hari ini bukan lagi sekadar soal sistem yang down, melainkan sudah menyasar sisi psikologis manusia melalui social engineering, kebocoran data pribadi, hingga maraknya disinformasi," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Deputi Direktur Departemen Perlindungan Konsumen OJK sekaligus Sekretariat Satgas PASTI, Daniel Apriandi.

Menurutnya, kelompok usia produktif menjadi target utama berbagai modus penipuan digital karena memiliki aktivitas transaksi online yang tinggi.

“Kelompok usia 25–49 tahun adalah yang paling produktif sekaligus paling banyak disasar penipu, karena mereka yang paling aktif bertransaksi secara digital. Scam dengan modus phishing dan social engineering terus meningkat, diperparah dengan penggunaan AI dan deep fake yang kini mampu meniru wajah, suara, dan bahasa tubuh korban secara sempurna,” ujar Daniel.

Fenomena tersebut menjadi perhatian serius karena metode serangan berbasis AI memungkinkan pelaku kejahatan menciptakan identitas palsu yang semakin sulit dibedakan dari identitas asli.

Literasi Kripto dan Blockchain Dinilai Semakin Penting

Di tengah pertumbuhan ekosistem aset digital di Indonesia, peningkatan literasi keamanan siber dinilai menjadi faktor penting untuk melindungi masyarakat dari berbagai modus penipuan yang memanfaatkan minimnya pemahaman teknologi.

Anggota Departemen Advokasi Strategis Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) sekaligus perwakilan dari aplikasi Pintu, Deny Giovanno, mengatakan edukasi publik menjadi salah satu langkah utama untuk memperkuat ketahanan pengguna terhadap ancaman siber.

“Untuk memerangi kejahatan siber, kami terus mendorong peningkatan literasi keamanan siber yang dilakukan oleh ABI dan para anggotanya. Salah satunya melalui Bulan Literasi Kripto yang diadakan sejak tahun 2023. BLK adalah kampanye edukasi tahunan berskala nasional di Indonesia yang diinisiasi OJK bersama ABI yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang aset kripto dan teknologi blockchain,” ujarnya.

Menurut Deny, edukasi mengenai blockchain dan aset kripto tidak hanya berfokus pada peluang teknologi, tetapi juga pada pemahaman risiko serta cara mengenali berbagai bentuk penipuan digital.

“Berbagai inisiatif program literasi dan edukasi yang kami galakkan ini merupakan komitmen bersama kami untuk meningkatkan kritisisme masyarakat Indonesia dalam menghadapi berbagai bentuk penipuan di era digital,” tambahnya.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra