← Beranda
Bukan Sekadar Chatbot, Teknologi Agentic AI Kini Mampu Ambil Keputusan dan Jalankan Tugas
Rian AlfiantoRabu, 24 Juni 2026 | 04.59 WIB
Ilustrasi teknologi Agentic AI. (Nextiva).

JawaPos.com - Agentic AI mulai menjadi salah satu tren teknologi yang paling banyak dibicarakan di kalangan perusahaan global sepanjang 2025. Berbeda dengan kecerdasan buatan generatif yang hanya menghasilkan konten, menjawab pertanyaan atau sekadar chatbot.

Agentic AI dirancang untuk membantu mengambil keputusan, menjalankan tugas, hingga mengoordinasikan berbagai proses kerja secara lebih mandiri dalam satu alur bisnis.

Tren ini muncul seiring meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap sistem otomatisasi yang tidak lagi sekadar menangani pekerjaan berulang, tetapi juga mampu memahami konteks, menghubungkan berbagai sumber data, dan membantu menyelesaikan proses bisnis yang kompleks dari awal hingga akhir.

Laporan Agentic AI 2025 menunjukkan bahwa 90 persen eksekutif teknologi informasi (IT) menilai organisasi mereka memiliki proses bisnis yang dapat ditingkatkan melalui agentic AI. Sementara itu, 77 persen responden menyatakan siap berinvestasi pada teknologi tersebut tahun ini.

Data tersebut mencerminkan semakin besarnya perhatian perusahaan terhadap pemanfaatan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional dan pengambilan keputusan.

Secara sederhana, agentic AI merupakan pendekatan yang menggabungkan kecerdasan buatan, otomatisasi, dan orkestrasi proses bisnis.

Teknologi ini memungkinkan AI agents bekerja bersama manusia, robot perangkat lunak, serta berbagai sistem bisnis dalam satu workflow yang terintegrasi.

Meski demikian, pengawasan manusia tetap menjadi bagian penting untuk memastikan keputusan yang diambil berjalan sesuai tujuan organisasi.

Perkembangan ini juga mendorong sejumlah perusahaan teknologi dan mitra implementasi memperkuat kapabilitas mereka di bidang otomatisasi cerdas.

Salah satunya ditandai dengan pengakuan yang diterima Drife, anak usaha IDstar Group, sebagai UiPath Platinum Partner sekaligus UiPath Agentic Automation Fast Track Partner.

Status tersebut menunjukkan peningkatan kapabilitas perusahaan dalam menyediakan solusi otomatisasi berbasis AI dan orkestrasi proses bisnis untuk kebutuhan perusahaan berskala besar.

Pengakuan Fast Track Partner sendiri diberikan kepada mitra yang memperoleh akses awal terhadap pengembangan teknologi agentic automation, termasuk pelatihan, identifikasi use case, serta kontribusi terhadap pengembangan solusi.

CEO IDstar Group Ferdinand Prasetyo mengatakan kebutuhan perusahaan terhadap otomatisasi kini telah bergeser dari sekadar menghilangkan pekerjaan manual menjadi menghubungkan berbagai komponen bisnis dalam satu alur kerja yang lebih cerdas.

"Pencapaian sebagai UiPath Platinum Partner dan UiPath Agentic Automation Fast Track Partner merupakan tonggak penting bagi Drife dan IDstar Group dalam membantu enterprise di Indonesia mempercepat perjalanan digital transformation mereka," ujar Ferdinand Prasetyo di Jakarta, Selasa (23/6).

Menurut dia, perusahaan saat ini membutuhkan sistem yang mampu mengintegrasikan data, aplikasi, manusia, robot, dan AI agents agar proses bisnis dapat berjalan lebih efisien dan terukur.

"Kami melihat semakin banyak perusahaan membutuhkan automation yang tidak hanya menangani tugas repetitif, tetapi juga menghubungkan data, sistem, manusia, robot, dan AI agents ke dalam workflow yang lebih cerdas. Dengan dukungan ekosistem UiPath, kami kini memiliki kapabilitas yang lebih kuat untuk membantu organisasi membangun automation yang scalable, terukur, dan berdampak bagi operasional bisnis," lanjutnya.

Di tengah meningkatnya adopsi AI, agentic automation dinilai menjadi langkah berikutnya dalam evolusi otomatisasi perusahaan.

Fokusnya tidak lagi pada penyelesaian tugas individual, melainkan mengotomatisasi proses bisnis end-to-end yang melibatkan banyak sistem dan keputusan.

Regional Vice President and Managing Director Southeast Asia UiPath, Amit Khandelwal, menilai peluang ekonomi dari teknologi ini akan semakin besar dalam beberapa tahun ke depan.

"Agentic automation merupakan peluang signifikan bagi organisasi yang ingin mentransformasi cara kerja mereka. Terlebih, AI agents diproyeksikan mampu menghasilkan nilai ekonomi hingga USD450 miliar pada 2028. Seiring langkah enterprise mengintegrasikan agents, robot, dan manusia ke dalam proses bisnis end-to-end, para mitra akan memainkan peran penting untuk menerjemahkan teknologi ini menjadi hasil bisnis yang nyata," kata Amit.

Ia menambahkan bahwa integrasi AI agents, robot, dan manusia dalam satu ekosistem kerja berpotensi membuka efisiensi baru, meningkatkan kelincahan bisnis, serta mempercepat transformasi digital di berbagai sektor industri.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra