← Beranda
Biaya KOL Makin Mahal, Startup Ini Bikin Alternatif Bangun Kepercayaan Konsumen
Rian AlfiantoSelasa, 23 Juni 2026 | 22.07 WIB
Co-founder & CEO Spillify.io Firman Natayudha. (RianAlfianto/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Di tengah meningkatnya biaya pemasaran digital dan menurunnya efektivitas promosi berbasis influencer, muncul pendekatan baru yang mencoba memanfaatkan kekuatan rekomendasi konsumen secara langsung. Model ini menawarkan skema di mana konsumen tidak hanya menjadi pembeli, tetapi juga mendapatkan imbalan atas pengalaman dan opini mereka terhadap sebuah produk.

Fenomena tersebut hadir melalui konsep consumer activation terverifikasi yang memungkinkan konsumen menjalankan berbagai misi pemasaran. Mulai dari mengunjungi toko, mencoba produk, memberikan ulasan jujur, hingga membuat konten berdasar pengalaman pribadi. 

Setiap aktivitas kemudian diverifikasi sehingga dapat diukur dan diaudit brand yang menggunakan layanan tersebut. Pendekatan ini muncul di tengah tantangan yang dihadapi banyak perusahaan dalam membangun kepercayaan konsumen. 

Baca Juga: Hollywood Makin Dekat dengan AI, Google dan A24 Bersatu Ciptakan Teknologi Baru untuk Film

Biaya kerja sama dengan Key Opinion Leader (KOL) dan influencer terus meningkat, sementara brand dituntut menghasilkan dampak pemasaran yang lebih terukur dan otentik. Menurut Co-founder & CEO Spillify.io Firman Natayudha, selama ini rekomendasi dari konsumen sudah terjadi secara alami dalam kehidupan sehari-hari.

"Selama ini, orang Indonesia merekomendasikan produk kepada teman-temannya setiap hari secara gratis. Spillify.io hadir untuk mengubah itu. Ngespill sekarang bisa dapat cuan. Untuk brand, ini bukan hanya soal efisiensi biaya. Ini soal membangun kepercayaan yang tidak bisa dibeli dengan endorsement berbayar," ujar Firman di Jakarta.

Krisis Kepercayaan dalam Industri Pemasaran

Perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu faktor utama yang mendorong lahirnya model pemasaran berbasis komunitas. Di tengah banjir konten promosi, konsumen kini semakin selektif dalam menentukan sumber informasi yang mereka percaya sebelum membeli suatu produk.

Baca Juga: AI untuk Lindungi Anak dan Lawan Hoaks, Kemkomdigi Gandeng Jepang 

Data Nielsen 2025 menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan terhadap rekomendasi sesama konsumen tiga kali lebih tinggi dibandingkan konten berbayar. Temuan tersebut memperkuat tren bahwa keputusan pembelian kini semakin dipengaruhi oleh pengalaman nyata pengguna dibandingkan promosi dari figur publik atau influencer.

Kondisi ini membuat banyak perusahaan mulai mencari alternatif strategi pemasaran yang lebih organik dan mampu menghasilkan interaksi autentik dengan calon pelanggan.

Komunitas Menjadi Kekuatan Utama

Model pemasaran berbasis rekomendasi konsumen juga mendapatkan dukungan dari berbagai komunitas yang selama ini aktif berbagi pengalaman produk. Salah satunya berasal dari komunitas ibu-ibu yang rutin memberikan rekomendasi kepada sesama anggota serta komunitas affiliate marketing yang memiliki kebiasaan serupa.

Kedua komunitas tersebut bergabung dengan total lebih dari 20.500 anggota potensial. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa aktivitas berbagi pengalaman produk sebenarnya sudah berlangsung secara alami jauh sebelum adanya platform yang memfasilitasinya secara formal.

Alih-alih merekrut influencer secara individual, pendekatan ini mencoba membangun ekosistem yang menghargai peran konsumen biasa sebagai sumber rekomendasi yang dianggap lebih dekat dan relevan bagi calon pembeli.

Ketertarikan terhadap model ini juga diklaim terlihat sebelum platform resmi diluncurkan. Tercatat lebih dari 200 pengguna awal mendaftar secara organik tanpa kampanye iklan berbayar maupun aktivasi komunitas.

Baca Juga: WhatsApp Plus Resmi Hadir di Indonesia, Bisa Dicoba Gratis Sebulan, Ini Cara Aktivasi dan Fitur Unggulannya

Angka tersebut menjadi indikasi adanya kebutuhan pasar terhadap mekanisme baru yang memungkinkan konsumen memperoleh nilai ekonomi dari aktivitas berbagi pengalaman produk yang selama ini dilakukan secara sukarela.

Dengan tambahan dukungan komunitas yang telah bergabung, target memperoleh 1.000 pengguna awal dalam 90 hari pertama pasca-peluncuran disebut memiliki fondasi yang lebih kuat.

Startup Mulai Melirik Alternatif Selain Influencer

Sejumlah startup juga mulai menjajaki kerja sama melalui model consumer activation ini. Bagi perusahaan rintisan yang memiliki keterbatasan anggaran pemasaran, pendekatan berbasis pengalaman konsumen dianggap dapat menjadi alternatif untuk membangun kesadaran merek tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk kampanye influencer.

Baca Juga: Dari Peduli ke Bertindak, Tantangan Besar Gaya Hidup Hijau di Indonesia Kini Ada pada Perubahan Perilaku

Firman menilai Indonesia memiliki potensi besar karena budaya berbagi rekomendasi produk sudah mengakar di masyarakat.

"Indonesia punya jutaan konsumen yang setiap hari merekomendasikan produk kepada orang-orang terdekat mereka. Selama ini, nilai itu hilang begitu saja. Spillify.io hadir untuk mengubah itu karena kepercayaan yang dibangun sesama konsumen adalah aset marketing paling kuat yang belum pernah diformalkan," jelas Firman Natayudha.

Ke depan, Spillify.io menargetkan terbentuknya 200.000 pengguna aktif yang disebut Spillers di kawasan Asia Tenggara dalam tiga tahun mendatang. Indonesia diposisikan sebagai pasar awal sekaligus tempat pembuktian model bisnis sebelum ekspansi ke Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Baca Juga: Microsoft Resmi Hentikan Office 2021 Oktober 2026, Jangan Tunda!

Jika berhasil berkembang, konsep ini berpotensi memperluas definisi pemasaran digital, dari yang sebelumnya didominasi influencer dan iklan berbayar menjadi ekosistem yang lebih mengandalkan rekomendasi konsumen nyata sebagai sumber kepercayaan utama.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah