JawaPos.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) selama beberapa tahun terakhir identik dengan persaingan GPU berperforma tinggi. Namun, AMD menilai era berikutnya akan menghadirkan tantangan yang berbeda.
Menurut AMD, sistem AI generasi baru yang dikenal sebagai agentic AI membutuhkan lebih dari sekadar akselerator AI. Infrastruktur pendukung berbasis CPU disebut akan menjadi faktor penting dalam menentukan kemampuan sistem AI di lingkungan produksi.
Agentic AI merupakan konsep AI yang tidak hanya menjawab pertanyaan pengguna. Teknologi ini juga mampu menjalankan tugas secara mandiri, mengakses berbagai layanan, hingga berinteraksi dengan aplikasi lain untuk menyelesaikan pekerjaan yang lebih kompleks.
AMD menjelaskan bahwa sistem agentic AI modern tidak hanya bergantung pada model AI. Di belakang layar, terdapat berbagai layanan pendukung seperti database, cache, middleware, API, hingga sistem orkestrasi yang bekerja secara terus-menerus.
"Layanan-layanan ini sebagian besar dibatasi oleh CPU, dan skalanya meningkat seiring jumlah agen yang berjalan secara bersamaan, bukan berdasarkan ukuran model tunggal," tulis AMD dalam dokumen teknis terbarunya.
AMD menilai banyak pihak masih melihat perkembangan AI sebagai cerita tentang GPU. Padahal ketika implementasi AI masuk ke tahap produksi, kebutuhan infrastruktur CPU justru ikut meningkat secara signifikan.
Setiap AI agent membutuhkan akses ke berbagai layanan untuk mengambil data, menyimpan informasi, hingga mengoordinasikan tugas. Semakin banyak agent yang berjalan secara bersamaan, semakin besar pula kapasitas CPU yang dibutuhkan untuk mendukung operasionalnya.
AMD menyebut platform prosesor kini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan berapa banyak AI agent yang dapat dijalankan perusahaan. Selain itu, kapasitas CPU juga berpengaruh terhadap biaya operasional yang harus dikeluarkan.
Dalam dokumen tersebut, AMD juga mengajak industri melihat performa AI dari perspektif yang berbeda. Perusahaan menilai pengukuran berdasarkan satu chip atau satu soket prosesor tidak lagi cukup untuk menggambarkan kapasitas sistem secara keseluruhan.
Menurut AMD, pelanggan data center tidak membeli benchmark. Mereka membeli rak server yang harus bekerja dalam batas daya listrik, pendinginan, ruang fisik, dan biaya operasional tertentu.
Karena itu, AMD mendorong penggunaan pendekatan rack-level performance atau performa tingkat rak. Pendekatan ini mengukur berapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu rak data center dengan anggaran daya yang sama.
"Customers do not deploy benchmark headlines; they deploy racks constrained by power, cooling, floor space, software compatibility and operational readiness," tulis AMD.
AMD menilai pendekatan tersebut lebih relevan untuk era agentic AI. Pasalnya, perusahaan harus menjalankan ribuan layanan yang saling terhubung dan bekerja secara bersamaan dalam lingkungan produksi.
Dalam pengujian yang dimodelkan AMD pada rak berdaya 100 kW, prosesor AMD EPYC 9965 diklaim mampu menghadirkan throughput tingkat rak 2,37 kali lebih tinggi dibanding NVIDIA Vera. Sementara EPYC generasi berikutnya dengan nama sandi Venice diproyeksikan meningkatkan keunggulan tersebut hingga 3,30 kali.
Meski demikian, AMD menegaskan bahwa pesan utama dari analisis tersebut bukan sekadar soal benchmark. Fokus utamanya adalah bagaimana perusahaan dapat membangun infrastruktur AI yang siap digunakan saat ini dengan platform x86 yang sudah tersedia luas.
Bagi AMD, masa depan AI tidak hanya ditentukan oleh model yang lebih besar atau GPU yang lebih cepat. Infrastruktur CPU yang mampu menjalankan ribuan layanan pendukung secara efisien juga akan menjadi fondasi penting dalam membangun sistem agentic AI skala besar.
Seiring semakin banyak perusahaan mengadopsi AI untuk operasional sehari-hari, kebutuhan terhadap kapasitas CPU diperkirakan akan terus meningkat. Kondisi tersebut membuka babak baru dalam persaingan infrastruktur AI yang selama ini lebih banyak berfokus pada GPU.