← Beranda
Tiongkok Jadi Tulang Punggung Industri Robot Dunia, Pengembangan Humanoid Kian Tergantung Pasokannya
Mellyna Putri DiniarRabu, 17 Juni 2026 | 04.19 WIB
Robot tinju dipamerkan di Unitree, Hangzhou, Tiongkok (The Japan Times)

JawaPos.com - Perlombaan global pengembangan robot humanoid memasuki babak baru. Setelah puluhan tahun Jepang menjadi simbol kemajuan robotika, pusat gravitasi industri kini mulai bergeser ke Tiongkok. Pergeseran ini membuat banyak perusahaan teknologi global, termasuk yang terkait dengan Elon Musk dan pelaku utama AI, makin sulit lepas dari ekosistem manufaktur Tiongkok.

Selama lebih dari lima dekade, Jepang memimpin inovasi robotika. Negeri itu melahirkan robot berkaki dua pertama yang mampu menggenggam benda, robot pemain piano pada 1984, hingga humanoid Honda pada 2000. Namun, ketika kecerdasan buatan (AI) diperkirakan menjadi mesin pertumbuhan baru industri robot, keseimbangan kekuatan berubah. Kini, keunggulan itu justru berada di tangan Tiongkok.

Dilansir dari The Japan Times, Selasa (16/6/2026), perubahan tersebut menjadi sorotan utama dalam Humanoids Summit di Tokyo. Alih-alih merayakan dominasi Jepang, pembahasan justru berfokus pada strategi menghadapi persaingan dari Tiongkok. Robot penari buatan Unitree Robotics menjadi salah satu daya tarik terbesar, bahkan dua perusahaan Jepang memanfaatkan robot Unitree untuk mendemonstrasikan perangkat lunak mereka. 

Baca Juga: Nvidia dan LG Bangun Aliansi AI Bernilai Multitriliun: Akselerasi Menuju Era Robot Humanoid Global

Dominasi itu ditopang rantai pasok yang semakin lengkap. Startup seperti Unitree mampu memproduksi ribuan robot humanoid dengan harga di bawah 5.000 dolar AS atau sekitar Rp 88,5 juta, menggunakan kurs Rp 17.700 per dolar AS. Komponen yang dahulu bergantung pada pemasok Jepang dan negara lain, mulai dari sensor hingga sambungan mekanis, kini banyak diproduksi di dalam negeri. 

Analis BofA Global Research, Ming Hsun Lee, mengatakan, "Hampir mustahil membangun robot humanoid tanpa komponen dari perusahaan Tiongkok." Menurutnya, "Biaya komponen di Tiongkok turun terlalu cepat sehingga negara lain tidak mampu bersaing." 

Di sisi lain, Tiongkok juga memimpin sektor robot industri yang sudah memiliki nilai ekonomi nyata. Pada 2024, lebih dari dua juta robot beroperasi di pabrik-pabrik Tiongkok dan sekitar 300.000 unit baru dipasang, jumlah yang melampaui gabungan negara lain. Bahkan, regulator setempat kini mendorong pemerintah daerah dan perusahaan milik negara untuk mencari penggunaan industri bagi robot humanoid. 

Keunggulan tersebut tidak lepas dari keberhasilan Tiongkok membangun industri kendaraan listrik. Strategi investasi jangka panjang dan produksi komponen secara domestik, mulai dari baut hingga baterai lithium-ion, kini menciptakan efek berantai bagi industri robotika.

"Jika sebuah perusahaan mampu membuat komponen otomotif, kemungkinan besar mereka juga bisa membuat robot humanoid," ujar Lee. 

Dampaknya menjangkau perusahaan global. Tesla ikut mendorong pertumbuhan jaringan pemasok di sekitar pabriknya di Shanghai yang kini juga memasok kebutuhan robotika. Menurut Lee, meski Tesla berupaya membangun rantai pasok di luar Tiongkok, perusahaan itu masih bergantung pada pemasok Tiongkok untuk sedikitnya 70 persen komponen.

Sementara itu, Nvidia menggandeng Unitree untuk mengembangkan robot yang menggabungkan chip dan perangkat lunak AI, dengan peluncuran ditargetkan pada Oktober.

Namun, keunggulan manufaktur tidak otomatis menghasilkan robot yang sepenuhnya produktif. Michael Tam dari UBTech mengatakan lebih dari 90 persen komponen perusahaannya berasal dari Tiongkok. Di Shenzhen, desain yang dikirim pagi hari bisa langsung menjadi komponen cetak 3D pada siang hari. Meski begitu, robot UBTech baru mencapai sekitar 30 persen efisiensi pekerja manusia dan ditargetkan naik menjadi 50 persen tahun ini.

Tantangan terbesar tetap berada pada perangkat lunak dan kemampuan mengambil keputusan. Sebagian besar robot humanoid Unitree yang terjual masih digunakan universitas dan laboratorium riset, bukan untuk pekerjaan nyata.

Direktur Unitree, Xiaoli Chen, mengakui, "Unitree mendapat banyak perhatian dan tampil di banyak acara, tetapi itu bukan produktivitas. Perjalanan panjang agar robot dapat bekerja di lingkungan yang rumit masih belum terpecahkan," ujarnya. 

Bahkan Reuters mencatat bahwa penerapan komersial robot humanoid masih terbatas, sementara industri menghadapi tantangan besar untuk meningkatkan kegunaan di dunia nyata. Kenyataan itu menghadirkan pelajaran penting. Perlombaan robot humanoid tidak lagi hanya ditentukan oleh kecanggihan AI atau besarnya investasi, tetapi oleh kemampuan menguasai rantai pasok manufaktur. 

Baca Juga: Bukan Cuma Mobil, Hyundai Kerahkan Robot Canggih untuk Amankan Piala Dunia 2026

EDITOR: Candra Mega Sari