← Beranda
Harga Laptop Diprediksi Terus Naik, Kapan saatnya Membeli Sebelum makin Mahal?
Rian Alfianto• Selasa, 16 Juni 2026 | 19.58 WIB
Harga laptop semakin tinggi di pasaran. Calon pembeli wajib menentukan kapan waktu yang tepat untuk membeli, sebelum harga semakin naik. (Rian Alfianto/JawaPos.com)

 

 

JawaPos.com - Masyarakat yang berencana membeli laptop untuk sekolah, kuliah, maupun pekerjaan disarankan tidak menunda terlalu lama.

Pengulas gadget dari Jagat Review, Dedy Irvan, memperkirakan harga laptop masih berpotensi naik seiring meningkatnya harga memori dan tingginya permintaan komponen untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI) di seluruh dunia.

Menurut Dedy, kondisi pasar saat ini berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika konsumen bisa menunggu harga perangkat turun seiring hadirnya generasi baru. Saat ini, tekanan terhadap rantai pasok komponen justru membuat harga laptop berpotensi terus bergerak naik.

"Kalau memang ada kebutuhan dan ada dana, mending beli sekarang sebelum harganya naik lagi," kata Dedy kepada JawaPos.com.

Ia menilai momen terbaik untuk membeli laptop sebenarnya sudah terjadi pada akhir 2025 hingga awal 2026. Namun, hingga pertengahan tahun ini, harga masih dinilai relatif masuk akal dibandingkan potensi kenaikan yang bisa terjadi pada bulan-bulan berikutnya.

"Sebetulnya sudah telat ya. Harusnya ambil di akhir 2025 atau awal 2026. Tapi sekarang pun masih lumayan karena harga masih akan naik terus sampai akhir tahun dan kemungkinan berlanjut sampai tahun depan," ujarnya.

 

Harga Memori Disebut Sulit Turun

Salah satu faktor utama yang membuat harga laptop diperkirakan terus meningkat adalah tren harga memori yang menurut Dedy belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Komponen memori seperti RAM dan penyimpanan menjadi bagian penting dalam hampir seluruh perangkat komputasi modern. Ketika harga komponen tersebut naik, produsen laptop pada akhirnya akan menyesuaikan harga jual produk mereka.

"Harga RAM itu tidak akan turun, dia hanya akan naik," kata Dedy.

Karena itu, konsumen yang sudah memiliki kebutuhan jelas dinilai lebih diuntungkan jika membeli perangkat saat ini dibanding menunggu harga yang belum tentu lebih murah di masa depan.

 

Ledakan AI Jadi Pemicu Baru Kenaikan Harga

Dedy menjelaskan, salah satu pendorong terbesar kenaikan harga komponen saat ini berasal dari pesatnya perkembangan industri AI global.

Menurutnya, teknologi AI membutuhkan infrastruktur server dalam jumlah sangat besar, terutama memori berkapasitas tinggi untuk melatih dan menjalankan model-model kecerdasan buatan terbaru.

Kondisi tersebut membuat produsen komponen lebih banyak mengalokasikan produksi untuk memenuhi kebutuhan pusat data dan server AI.

"Pengguna internet di dunia hampir 6 miliar orang. Pengguna AI baru sekitar 1 miliar. Artinya masih ada potensi miliaran pengguna baru yang akan memakai layanan AI," ujarnya.

Dengan semakin banyak perusahaan dan pengguna yang mengadopsi AI, kebutuhan terhadap memori dan komponen komputasi diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

 

Laptop Gaming Diperkirakan Paling Terdampak

Dedy menilai laptop gaming menjadi salah satu kategori yang paling rentan mengalami kenaikan harga.

Pasalnya, perangkat di segmen ini menggunakan kombinasi prosesor, GPU, RAM, dan penyimpanan dengan spesifikasi tinggi yang sangat bergantung pada pasokan komponen premium.

"Apalagi laptop gaming. Memang lagi tidak turun-turun harganya," kata Dedy.

Menurutnya, konsumen yang sudah mengetahui kebutuhan komputasi berat seperti desain grafis, video editing, rendering, CAD, atau AI sebaiknya mempertimbangkan pembelian lebih cepat sebelum harga perangkat naik lebih tinggi.

 

Menunggu Bisa Berujung Keluar Biaya Lebih Besar

Selain risiko kenaikan harga, menunda pembelian laptop juga dapat berdampak pada pengeluaran yang lebih besar di kemudian hari.

Dedy mencontohkan, seseorang yang saat ini membutuhkan laptop untuk kuliah atau bekerja mungkin harus mengeluarkan biaya tambahan jika perangkat yang diincar mengalami kenaikan harga beberapa bulan mendatang.

Karena itu, ia menyarankan calon pembeli untuk fokus pada kebutuhan aktual dibanding terus menunggu harga turun.

"Kalau memang kebutuhannya sudah ada dan dananya tersedia, lebih baik segera ambil. Karena tren yang terlihat sekarang bukan turun, melainkan naik," ujarnya.

 

Momentum Terbaik Membeli sebelum Siklus Harga Baru Terbentuk

Di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi global akibat AI, Dedy menilai pasar perangkat keras masih berada dalam fase penyesuaian harga yang belum selesai.

Menurutnya, harga tinggi yang terjadi saat ini berpotensi menjadi standar baru sebelum akhirnya mencapai titik stabil dalam beberapa tahun mendatang.

"Sampai harga tinggi itu menjadi normal, kenaikannya masih akan terus terjadi," kata Dedy.

Karena itu, bagi konsumen yang sudah merencanakan pembelian laptop untuk pendidikan maupun produktivitas jangka panjang, membeli sekarang dinilai menjadi langkah yang lebih rasional dibanding menunggu harga yang belum tentu kembali turun.

 

Harga Naik Rp 1-2 Juta

Sementara itu, Kevin, salah satu pedagang laptop di kawasan Karawaci menyebut, saat ini saja kenaikan harga laptop sudah sangat terpengaruh oleh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar.

Laptop yang semula paling murah bisa dijual diharga di Rp 6 jutaan, naik jadi Rp 7 juta hingga Rp 8 jutaan untuk model dan merek yang sama.

'Naik, ini aja jualnya pusing. Belum ada yang lepas. Bingung mau kasih harga berapa. Margin makin tipis," ucapnya saat ditemui.

Yang paling terasa adalah laptop dengan kategori menengah ke atas yang membutuhkan hardware lebih canggih dan lebih kompleks. Diketahui dalam beberapa waktu terakhir, harga memori, GPU dan prosesor mengalami kenaikan signifikan.

"Yang terasa sih yang mahal-mahal. Naiknya lumayan tinggi," tandasnya. (*)

 

EDITOR: Dinarsa Kurniawan