JawaPos.com - Membeli laptop untuk anak sering menjadi dilema bagi banyak orang tua. Di satu sisi ingin berhemat, namun di sisi lain khawatir spesifikasi yang dipilih tidak mampu mengikuti kebutuhan sekolah hingga kuliah.
Pengulas gadget Jagat Review, Dedy Irvan, mengingatkan bahwa kesalahan memilih laptop dapat membuat orang tua mengeluarkan biaya dua kali karena harus mengganti perangkat sebelum masa pakainya berakhir.
Agar tidak mengalami hal tersebut, Dedy membagikan sejumlah tips penting yang wajib diperhatikan sebelum membeli laptop untuk anak.
1. Jangan Tentukan Laptop Berdasarkan Jenjang Sekolah
Tips pertama sekaligus yang paling penting adalah menghilangkan pola pikir bahwa kebutuhan laptop ditentukan oleh usia atau tingkat pendidikan.
Menurut Dedy, kebutuhan laptop ditentukan oleh software dan aktivitas yang dijalankan.
"Orang tua harus belajar kebutuhan anaknya itu apa secara spesifik. Kalau tidak, nanti kejadiannya beliinnya berlebihan atau justru kurang," kata Dedy.
Ia mencontohkan mahasiswa manajemen yang mungkin hanya membutuhkan laptop untuk mengolah data dan membuat presentasi. Sebaliknya, siswa SMK jurusan DKV bisa membutuhkan perangkat jauh lebih mahal karena harus menjalankan aplikasi desain dan multimedia.
2. Pelajari Kebutuhan Komputasi Anak sejak Awal
Dedy menyarankan orang tua mencari tahu aktivitas utama yang akan dilakukan anak sebelum menentukan anggaran.
Apakah laptop hanya digunakan untuk browsing dan tugas sekolah? Apakah dipakai untuk coding? Video editing? Desain grafis? CAD? Atau bahkan pengembangan AI?
Setiap kebutuhan memiliki spesifikasi yang berbeda. "Apakah itu cuma tabel dan grafik, apakah video editing, apakah ada kebutuhan sampai 3D ringan, atau memang butuh GPU yang kuat. Itu yang harus dipelajari dulu," ujarnya.
Dengan memahami kebutuhan komputasi sejak awal, orang tua bisa menghindari pembelian yang tidak tepat sasaran.
3. Sesuaikan Spesifikasi dengan Aktivitas
Untuk penggunaan dasar seperti browsing, mengetik, dan tugas sekolah, Dedy menilai laptop dengan RAM 8 GB masih cukup memadai.
Sementara untuk kebutuhan multitasking yang lebih nyaman, RAM 16 GB menjadi pilihan ideal.
"RAM 8 GB masih lumayan oke untuk kebutuhan basic. RAM 16 GB sudah lebih nyaman untuk multitasking dan bisa bertahan lebih lama," kata dia.
Adapun untuk video editing ringan dan pembuatan konten media sosial, prosesor kelas Ryzen 5, Ryzen 7, Core i5, atau Core i7 generasi terbaru dinilai masih sangat memadai.
Namun ketika kebutuhan sudah mengarah ke rendering video berat, CAD, animasi, atau AI lokal, pengguna perlu mempertimbangkan laptop dengan GPU khusus yang biasanya berada di kelas laptop gaming.
4. Jangan Abaikan Perluasan Garansi
Banyak orang tua terlalu fokus pada merek, tetapi melupakan faktor perlindungan jangka panjang.
Menurut Dedy, garansi justru menjadi salah satu pertimbangan terpenting ketika membeli laptop untuk anak.
"Buat orang tua, saya akan mencari brand atau tipe yang punya garansi bagus," katanya.
Ia secara khusus menyarankan untuk mencari laptop yang menawarkan Accidental Damage Protection (ADP), yaitu perlindungan terhadap kerusakan akibat kejadian tidak disengaja seperti terjatuh atau terbentur.
"Cari yang ada Accidental Damage Protection. Kalau saya beli laptop Rpb20 juta, saya lebih pilih tambah biaya lagi untuk memperpanjang perlindungannya sampai tiga atau empat tahun," ujarnya.
Menurutnya, biaya tambahan tersebut jauh lebih murah dibanding harus mengganti laptop baru akibat kerusakan di tengah masa pendidikan anak.
5. Jika Sudah Ada Dana, Jangan Terlalu Lama Menunda
Tips terakhir berkaitan dengan tren harga laptop yang menurut Dedy masih berpotensi naik dalam beberapa waktu ke depan.
Ia menilai harga komponen, khususnya memori dan kebutuhan infrastruktur AI global, masih menjadi faktor yang mendorong kenaikan harga perangkat.
"Kalau memang ada kebutuhan dan ada dana, beli sekarang sebelum harganya naik lagi," kata Dedy.
Menurutnya, permintaan komponen yang digunakan untuk pengembangan AI masih sangat tinggi sehingga tekanan terhadap harga hardware belum sepenuhnya mereda.
Laptop Mahal Belum Tentu Pilihan Terbaik
Dedy mengingatkan bahwa tujuan utama membeli laptop adalah memenuhi kebutuhan belajar dan produktivitas, bukan sekadar mengejar spesifikasi tertinggi.
Karena itu, orang tua perlu lebih fokus pada kebutuhan nyata anak dibanding mengikuti tren atau rekomendasi yang terlalu umum.
"Pertanyaannya bukan anak SMA atau mahasiswa. Pertanyaannya adalah anaknya mau ngapain dengan laptop itu," tegasnya.
Dengan memahami kebutuhan penggunaan, memilih spesifikasi yang tepat, memperhatikan garansi, serta mempertimbangkan biaya jangka panjang, orang tua dapat menghindari kesalahan yang membuat mereka harus membeli laptop dua kali selama masa pendidikan anak.
Hal yang sama diungkapkan oleh Anthony, pedagang laptop dan hardware di kawasan Ambassador, Kuningan. Menurutnya, banyak orang tua masih memilih laptop terpaku pada brand, padahal yang juga penting diketahui adalah spesifikasi dan perluasan garansi.
"Brand oke, tapi lebih penting kepastian garansinya. Kalau rusak servis dimana, kan rugi kalau sudah beli mahal tapi cepat rusak dan nggak tahu harus kemana," ucapnya.
Sementara itu, dari sisi aftersales, dia menjelaskan, toko memang memberikan garansi umumnya satu minggu setelah pembelian. Jika dalam waktu tersebut laptop bermasalah, masih bisa ditukar dengan barang baru.
Baca Juga: Wajib Tahu, Ini Kesalahan Terbesar Ortu saat Membelikan Laptop untuk Kebutuhan Belajar Anaknya
"Tapi yang paling penting kita bisa jelaskan ke konsumen, laptop merek ini garansinya bagaimana, yang merek lainnya bagaimana, jadi mereka bisa mempertimbangkan sendiri," terangnya. (*)