JawaPos.com - Banyak orang tua masih membeli laptop untuk anak berdasarkan jenjang pendidikan, seperti SD, SMP, SMA, atau kuliah.
Padahal, menurut tech reviewer dari Jagat Review, Dedy Irvan, cara tersebut justru menjadi kesalahan terbesar yang sering berujung pada pemborosan atau bahkan membuat orang tua harus membeli laptop dua kali.
Menurut Dedy, kebutuhan laptop tidak ditentukan oleh usia maupun tingkat pendidikan, melainkan oleh aplikasi dan pekerjaan yang dijalankan di perangkat tersebut.
"Kesalahan paling besar itu adalah menentukan kebutuhan berdasarkan jenjang sekolah. Karena menentukan kebutuhan itu tergantung aplikasi apa yang dipakai dan se-intense apa penggunaannya," kata Dedy kepada JawaPos.com.
Pernyataan tersebut sekaligus mematahkan anggapan bahwa siswa SD misalnya, selalu membutuhkan laptop murah, sementara mahasiswa pasti memerlukan laptop mahal. Padahal kondisinya bisa sangat bergantung pada kebutuhannya.
Laptop untuk Anak SD Bisa Lebih Mahal dari Mahasiswa
Dedy menjelaskan, dalam praktiknya kebutuhan komputasi tidak selalu sejalan dengan usia pengguna. Seorang mahasiswa jurusan manajemen misalnya, bisa saja hanya membutuhkan laptop untuk mengolah data, membuat tabel, presentasi, dan menjalankan aplikasi perkantoran.
Dalam kondisi tersebut, laptop dengan spesifikasi menengah sudah cukup digunakan hingga lulus kuliah. Sebaliknya, siswa SD yang mulai belajar editing video, desain grafis, atau animasi justru bisa membutuhkan laptop dengan spesifikasi lebih tinggi.
"Anak SD mungkin Rp 6-7 juta sudah oke kalau hanya browsing dan bikin tugas. Tapi kalau sudah belajar video editing, kebutuhannya langsung naik. Bisa sampai 10 juta atau lebih," lanjut Dedy.
Menurut Dedy, kondisi serupa juga banyak terjadi pada siswa SMK yang mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Meski masih berstatus pelajar sekolah menengah, kebutuhan perangkat mereka bisa setara bahkan lebih tinggi dibanding sebagian mahasiswa.
"Kalau SMK yang masuk ke DKV, kebutuhan laptopnya langsung tinggi. Sekarang mungkin di atas Rp 15 juta," kata dia.
Chromebook Pun Cukup untuk Banyak Pelajar
Dedy menilai banyak orang tua masih terjebak pada asumsi bahwa laptop mahal selalu lebih baik untuk pendidikan. Padahal, untuk aktivitas dasar seperti browsing, mengetik, mengerjakan tugas sekolah, menggunakan Google Docs maupun Microsoft Office, spesifikasi tinggi belum tentu diperlukan.
"Kalau kebutuhannya browsing dan office, bahkan Chromebook pun bisa. Tidak ada masalah buat ngetik dan kebutuhan sekolah dasar," jelasnya.
Karena itu, membeli laptop gaming, atau spesifikasi kelas atas yang mahal untuk kebutuhan yang hanya sebatas tugas sekolah justru menjadi pemborosan.
Mengapa Banyak Orang Tua Akhirnya Harus Beli Laptop Dua Kali?
Masalah lain yang sering terjadi adalah orang tua tidak memahami kebutuhan jangka panjang anak sejak awal. Akibatnya, mereka membeli laptop yang terlalu rendah spesifikasinya.
Saat anak masuk semester berikutnya dan mulai menggunakan software yang lebih berat, laptop lama tidak lagi memadai.
Dedy mencontohkan mahasiswa DKV yang pada awal kuliah hanya menggunakan aplikasi dasar. Namun ketika masuk semester lanjut dan mulai mengerjakan proyek desain maupun video, kebutuhan perangkat meningkat drastis.
"Yang sering saya kasihan, orang tua sudah keluar Rp 10 juta. Begitu masuk semester dua atau tiga ternyata butuh device yang lebih tinggi. Akhirnya harus beli lagi," ujarnya.
Laptop Bisa Dipakai Sampai 10 Tahun, Tapi Ada Syaratnya
Banyak orang tua juga berharap laptop yang dibeli saat ini bisa digunakan hingga anak lulus kuliah. Menurut Dedy, hal tersebut sebenarnya mungkin dilakukan selama kebutuhan komputasinya tidak berubah signifikan.
"Kalau kebutuhannya cuma office, laptop kelas Rp 10 juta yang dibeli 10 tahun lalu bahkan masih ada yang bisa dipakai sampai sekarang," katanya.
Namun ia menegaskan bahwa perawatan menjadi faktor penting agar usia pakai laptop tetap panjang. Dedy menyarankan pembersihan rutin setiap enam bulan sekali dan penggantian thermal paste setiap sekitar dua tahun.
"Paling tidak setiap enam bulan harus dibersihkan. Kemudian sekitar dua tahun sekali ganti thermal paste. Banyak orang tidak tahu soal ini," terangnya.
Menurutnya, thermal paste yang sudah menurun kualitasnya dapat menyebabkan suhu laptop meningkat dan mempercepat kerusakan komponen.
AI dan Cloud Mengubah Cara Memilih Laptop
Perkembangan teknologi cloud dan kecerdasan buatan juga mulai mengubah kebutuhan perangkat. Banyak pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan spesifikasi tinggi kini dapat dijalankan melalui layanan berbasis cloud.
"Makin ke sini banyak pekerjaan yang bisa di-handle cloud. Dengan adanya AI, banyak proses komputasi bisa dipindahkan ke server," kata Dedy.
Karena itu, laptop dengan spesifikasi menengah masih sangat relevan selama sebagian besar proses berat dilakukan secara online.
Di sisi lain, pengguna yang ingin menjalankan AI secara lokal, mengembangkan model AI sendiri, melakukan rendering video 4K, atau menggunakan software CAD tetap membutuhkan perangkat dengan GPU dan prosesor yang jauh lebih kuat.
Fokus pada Kebutuhan, Bukan Jenjang Pendidikan
Pada akhirnya, Dedy menegaskan bahwa tidak ada rumus baku yang menyebut siswa SD harus menggunakan laptop tertentu atau mahasiswa wajib memakai laptop gaming.
"Beli laptop itu tidak bisa berdasarkan jenjang pendidikan atau umur. Beli laptop itu tergantung apa yang dikerjakan," tegasnya.
Menurutnya, pertanyaan yang seharusnya diajukan orang tua bukanlah 'anak saya SMA, laptop apa yang cocok?', melainkan 'anak saya akan menggunakan software apa dan untuk aktivitas apa?'
Dari situlah spesifikasi yang tepat dapat ditentukan tanpa harus mengeluarkan biaya berlebihan maupun menyesal karena salah membeli perangkat.
Pedagang Ungkap Modelnya
Sementara itu, terkait pilihan laptop di pasaran, pedagang laptop di kawasan Lippo Mall Karawaci, Kevin, menjelaskan bahwa beberapa model dan merek memang laris manis di pasaran kalangan pelajar.
Sebut saja Asus, Acer dan beberapa tipe laptop Lenovo dengan kelas menengah. Rentang harganya bisa di Rp 7-9 jutaan dalam kondisi saat ini, nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dolar.
"Kalau yang sering orang cari paling seri-seri menengah seperti Asus, Acer atau Lenovo. Kalau kebutuhannya untuk pelajar, minimal untuk belajar editing video, foto dan memulai grafis, sudah cukup," ucap Kevin.
Harga sedemikian masih dalam kategori wajar untuk beberapa orang tua saat ini. Sementara untuk kelas di atasnya, memang orang tua dan anak harus sudah sama-sama tahu apa kebutuhannya.
"Kalau yang di atasnya seperti seri gaming Predator dari Acer, Legion dari Lenovo, itu harganya ada yang sampai puluhan juta. Laptop gaming, tapi bisa dipakai untuk pekerjaan berat," lanjut Kevin yang juga berdagang macam-macam merek laptop.
Baca Juga: Spesifikasi Laptop Infinix Xbook 15 yang Dianggap Cocok untuk Work From Anywhere
Sementara model kasual lainnya yang juga lebih tinggi spesifikasinya biasanya dipilih untuk kebutuhan mengolah data hingga programing tahap awal. Beberapa model ditawarkan dengan harga Rp 10-17 jutaan. (*)