← Beranda
Meta Kerahkan AI untuk Berburu Penipu Digital, 120 Juta Akun Palsu Dihapus dalam 5 Bulan
Rian AlfiantoJumat, 5 Juni 2026 | 17.53 WIB
Ilustrasi logo Meta. (Pixabay).

 

JawaPos.com - Meta memperkuat perang melawan penipuan digital dengan mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kini bekerja secara proaktif memburu akun palsu, iklan scam, hingga situs tiruan yang beredar di Facebook, Instagram, dan Threads.

Hasilnya, lebih dari 120 juta akun, halaman, dan grup yang menyalahgunakan identitas berhasil dihapus hanya dalam kurun Januari hingga pertengahan Mei 2026.

Langkah ini dilakukan ketika modus penipuan online semakin berkembang dan memanfaatkan identitas palsu untuk mengelabui pengguna. Pelaku kerap menyamar sebagai merek ternama, tokoh publik, selebritas, hingga profesional terpercaya guna mendapatkan kepercayaan korban.

Meta mengungkapkan bahwa sepanjang periode tersebut, sistem mereka juga berhasil memblokir 26,7 juta iklan scam sebelum sempat tayang kepada pengguna. Sebagian besar penindakan dilakukan secara proaktif melalui sistem deteksi otomatis tanpa harus menunggu laporan dari pengguna.

Baca Juga: Sebut Pengadaan Laptop Chromebook Arahan Presiden, Jokowi: Nadiem Makarim Orang Baik

"Pendekatan ini menunjukkan bagaimana AI kini tidak hanya digunakan untuk meningkatkan pengalaman pengguna media sosial, tetapi juga menjadi garda depan dalam melawan kejahatan siber yang semakin kompleks," catat Meta dalam laporan terbarunya.

AI Jadi Senjata Utama Melawan Scam

Menurut Meta, pelaku scam terus mengembangkan taktik baru untuk menghindari sistem keamanan platform. Karena itu, perusahaan menerapkan strategi berlapis yang mencakup deteksi dini, penghapusan akun palsu, perlindungan terhadap identitas pengguna, serta kolaborasi dengan mitra keamanan global.

"Karena itu, kami menerapkan pendekatan berlapis dalam memerangi scam. Kami berupaya secara proaktif mendeteksi dan menghapus akun-akun palsu sebelum dilaporkan kepada kami, membantu pengguna memperoleh konteks yang lebih jelas mengenai pihak yang berinteraksi dengan mereka, mempermudah pelaporan scam, serta bekerja sama dengan para mitra pertukaran informasi keamanan untuk membantu melindungi lebih banyak orang agar tidak menjadi sasaran penipuan," tulis Meta.

Selain mengawasi aktivitas di dalam platform, AI Meta juga digunakan untuk mendeteksi jaringan penipuan yang mengarahkan pengguna ke situs eksternal berbahaya.

Salah satu fokus terbaru perusahaan adalah memerangi domain impersonation atau penyamaran domain, yakni praktik membuat situs palsu yang tampak seperti layanan resmi suatu merek atau organisasi.

Meta menjelaskan bahwa sistem mereka secara otomatis mengidentifikasi dan memblokir URL yang terhubung dengan infrastruktur penipuan. Informasi tersebut kemudian dibagikan kepada mitra keamanan melalui Global Signal Exchange (GSE) untuk memperluas perlindungan lintas platform.

Akun Tokoh Publik yang Tidak Punya Facebook atau Instagram Pun Kini Dilindungi

Perubahan menarik lainnya adalah perluasan perlindungan terhadap tokoh publik yang sering menjadi sasaran penyamaran identitas.

Biasanya, pelaku scam menggunakan foto dan nama figur terkenal untuk memancing korban agar mempercayai investasi bodong, hadiah palsu, atau penawaran keuangan yang menyesatkan.

Baca Juga: Masih Dalam Fase Terkenan, Proyeksi Astronacci Terhadap Pelemahan IHSG dan Nilai Tukar

Kini, Meta mengklaim mampu mengidentifikasi dan menghapus akun yang menyamar sebagai tokoh publik bahkan ketika orang tersebut tidak memiliki akun resmi di Facebook, Instagram, maupun Threads.

Perlindungan ini mencakup kreator konten, selebritas, penasihat keuangan, hingga figur publik dari sektor bisnis, sosial, dan budaya.
Di Threads, pengguna juga memperoleh kemampuan baru untuk melaporkan akun yang menyamar sebagai tokoh publik meskipun figur yang ditiru tidak mempunyai akun resmi di platform tersebut.

Langkah ini dinilai penting karena banyak korban scam justru tertipu oleh akun palsu yang memanfaatkan reputasi seseorang yang mereka kenal atau percayai.

Teknologi AI Bantu Merek Melawan Penipuan

Meta juga memperluas pemanfaatan AI untuk membantu bisnis menghadapi penyalahgunaan identitas dan pelanggaran hak kekayaan intelektual.

Baca Juga: Siap-siap, Aktris Berbakat Shin Hae Sun akan Perankan Drama Romantis Misteri Baru ‘Dash’

Perusahaan mengungkapkan bahwa lebih dari 14.000 bisnis di seluruh dunia kini menggunakan pembaruan Brand Rights Protection untuk memantau penggunaan merek mereka di Facebook dan Instagram.
Sistem tersebut akan dilengkapi dengan fitur pencarian berbasis gambar, antarmuka baru, hingga integrasi dengan Meta AI Business Assistant.

Selain itu, Meta meluncurkan fitur similarity enforcement pada Intellectual Property Reporting API. Teknologi ini memungkinkan sistem secara otomatis menemukan dan menghapus konten palsu yang identik atau sangat mirip setelah pemilik hak cipta mengajukan laporan pertama.

Dengan cara ini, perusahaan tidak perlu terus-menerus melaporkan konten serupa yang diunggah berulang kali oleh pelaku pelanggaran.

Selain itu, salah satu inovasi terbaru yang diperkenalkan adalah Scam Protection Center, pusat bantuan yang memanfaatkan Meta AI untuk membantu korban scam melakukan pelaporan.

Meta menilai banyak korban kesulitan melaporkan penipuan karena akun, iklan, atau konten terkait biasanya sudah menghilang saat mereka menyadari telah menjadi korban.

Melalui Scam Protection Center, pengguna dapat berinteraksi dengan asisten Meta AI yang akan meninjau aktivitas terbaru untuk membantu menemukan konten yang ingin dilaporkan di Facebook maupun Instagram.

Baca Juga: Dibintangi Park Shin Hye, Drama The Judge from Hell Musim 2 akan Hadir

Selain itu, pengguna juga dapat memperoleh panduan pelaporan kepada pihak berwenang, menemukan layanan bantuan yang tersedia di wilayah mereka, serta mendapatkan edukasi mengenai berbagai modus scam yang sedang marak.

Dengan kombinasi AI, analisis perilaku, dan kolaborasi lintas industri, Meta tampaknya sedang mengubah cara platform digital melawan penipuan.

Jika sebelumnya keamanan bergantung pada laporan pengguna, kini sistem AI semakin berperan sebagai 'pemburu' yang secara aktif mencari dan menghentikan scam bahkan sebelum korban berjatuhan.

 

EDITOR: Sabik Aji Taufan