JawaPos.com - Indonesia dinilai menjadi salah satu target empuk perburuan data pribadi oleh pelaku kejahatan siber. Mulai dari nomor telepon, email, NIK, hingga histori transaksi digital terus menjadi sasaran karena dianggap mudah dikumpulkan dan diperjualbelikan.
Pakar keamanan siber menilai kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi lemahnya pengamanan sistem, rendahnya kesadaran keamanan digital, hingga masifnya aktivitas masyarakat di internet tanpa perlindungan data yang memadai dan tentunya, masih lemahnya regulasi terkait sektor tersebut.
Pakar Keamanan Siber CISSReC Pratama Persadha mengatakan, kebocoran data di Indonesia tidak lagi bisa dipandang sebagai insiden teknis biasa. Menurut dia, data kini menjadi aset ekonomi bernilai tinggi yang diperebutkan banyak pihak.
“Ketika hampir seluruh aktivitas manusia telah terdigitalisasi, maka data berubah menjadi aset bernilai tinggi yang diperebutkan oleh berbagai aktor,” ujar Pratama kepada JawaPos.com.
Salah satu alasan utama data pribadi di Indonesia mudah “dipanen” adalah rendahnya kesadaran keamanan digital masyarakat.
Verizon Data Breach Investigations Report (DBIR) 2024 mencatat sekitar 68 persen insiden kebocoran data melibatkan unsur manusia non-malicious seperti penggunaan password lemah, salah klik tautan berbahaya, hingga kelalaian pengguna.
Menurut Pratama, teknologi secanggih apa pun tetap akan rentan apabila pengguna tidak memiliki kesadaran keamanan digital yang memadai.
“Masyarakat sering kali belum menyadari bahwa data pribadi memiliki nilai ekonomi tinggi dan bisa digunakan untuk berbagai tindak kejahatan,” katanya.
Kebiasaan menggunakan password sama di banyak akun, membagikan data sembarangan, hingga mudah percaya pada tautan mencurigakan membuat pelaku siber lebih mudah mengumpulkan data korban.
Sistem Digital makin Kompleks, Celah makin Banyak
Selain faktor manusia, kompleksitas infrastruktur digital modern juga membuat data semakin rentan bocor.
Pratama menjelaskan banyak layanan digital kini bergantung pada integrasi cloud, API, dan pihak ketiga yang memperluas attack surface atau permukaan serangan.
Dalam banyak kasus, organisasi juga terlambat melakukan pembaruan sistem keamanan sehingga celah keamanan tetap terbuka dan mudah dieksploitasi hacker.
Di sisi lain, tren serangan siber di Indonesia terus meningkat. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat jumlah serangan siber sepanjang 2025 mencapai 5,5 miliar serangan atau melonjak 714 persen dibanding rata-rata tahunan periode 2020–2024.
Sementara pada periode 1 Januari hingga 15 April 2026, tercatat sudah terjadi 1,52 miliar serangan siber. Mayoritas serangan tersebut didominasi malware yang semakin adaptif dan sulit dikenali sistem keamanan lama.
Data Bocor Terus Berputar di Internet
Praktisi Digital Forensik PT Digital Forensic Indonesia (DFI), Ruby Alamsyah, mengatakan pelaku kejahatan siber sangat mudah melakukan farming data di Indonesia karena banyak data yang sudah lebih dulu bocor dan terus diperjualbelikan ulang.
Dia juga mengamini kalau pelaku kejahatan siber memang semudah itu untuk 'farming' data pribadi di Indonesia untuk kemudian dikomersilkan di dunia maya.
"Faktanya memang semudah itu. Hacker dari banyak negara sangat 'effortless' untuk membobol sistem keamanan siber di Indonesia," ujar Ruby terpisah.
Ruby melanjutkan, awalnya data dijual mahal ketika masih fresh. Tetapi lama-lama dibeli banyak pihak, dijual ulang terus, sampai akhirnya tersedia gratis.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat pelaku tidak selalu harus meretas dari nol. Banyak data lama yang masih bisa dipakai untuk profiling korban, spam, phishing, hingga pencurian identitas dan kemudian mengembangkan aksi lanjutan lainnya.
Ruby menjelaskan data hasil kebocoran biasanya beredar di dark web dan dibeli berbagai pihak, mulai dari peneliti keamanan, pelaku pemasaran ilegal, hingga kelompok kriminal.
“Kalau data tersebut dianggap sangat berharga untuk kegiatan ilegal atau kejahatan tertentu, itu dibeli oleh para kriminal,” katanya.
AI Bikin Perburuan Data Makin Mudah
Perkembangan kecerdasan buatan atau AI juga memperburuk situasi. Serangan phishing kini semakin sulit dikenali karena pelaku bisa membuat pesan, suara, hingga video palsu yang tampak meyakinkan.
Pakar menilai kondisi tersebut membuat proses farming data pribadi menjadi jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.
Karena itu, keamanan digital kini tidak lagi cukup hanya mengandalkan teknologi.
Kesadaran pengguna dinilai menjadi pertahanan paling penting untuk mencegah data pribadi terus menjadi sasaran empuk kejahatan siber. (*)