JawaPos.com - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali mengguncang Meta. Perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp itu memangkas sekitar 8.000 karyawan atau 10 persen tenaga kerja mereka.
Langkah ini bagian dari transformasi besar menuju era kecerdasan buatan atau AI. Seperti dilansir dari The New York Times, PHK dilakukan secara bertahap pada Rabu (20/5) waktu setempat.
Karyawan di Singapura menerima email pemberitahuan sejak pukul 04.00 pagi. Lalu pekerja di Inggris, Amerika Serikat, dan negara lainnya sesuai zona waktu masing-masing.
Di internal perusahaan, suasana penuh ketegangan dan banyak karyawan saling bertukar pesan suram. Mereka memeriksa direktori internal untuk mengetahui siapa yang terkena PHK.
Di forum internal Meta, ratusan pekerja menggunakan emoji salad sebagai simbol penghormatan kepada kolega yang diberhentikan. Bahkan, ada pegawai yang baru direkrut sebulan lalu ikut terkena PHK.
Kondisi kantor Meta pada hari pengumuman PHK disebut nyaris kosong. Kepala sumber daya manusia perusahaan, Janelle Gale, meminta karyawan bekerja dari rumah.
Di beberapa sudut kantor muncul selebaran petisi yang menolak program pelacakan data karyawan untuk pelatihan AI. Beberapa pekerja mengambil makanan ringan dan pengisi daya laptop gratis dari kantor.
Mereka khawatir kehilangan akses setelah diberhentikan. PHK ini bagian dari langkah agresif Meta untuk memperkuat bisnis AI.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, menegaskan ambisinya membangun “superintelijen”, AI canggih yang bisa bertindak sebagai asisten pribadi terbaik. Meta juga akan menggelontorkan dana USD 125 miliar hingga USD 145 miliar sepanjang 2026.
Jumlah ini lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya untuk investasi AI. Namun, perubahan besar itu memicu kecemasan di kalangan pekerja.
Banyak karyawan mempertanyakan alasan PHK di tengah performa keuangan perusahaan yang sangat kuat dan mencatat pendapatan rekor. Dalam memo internal kepada karyawan, Zuckerberg mengakui situasi sulit.
“Kesuksesan bukanlah sesuatu yang pasti. AI adalah teknologi paling penting dalam hidup kita,” tulis Zuckerberg. Penolakan terhadap arah baru perusahaan mulai muncul dari internal Meta.
Lebih dari 1.000 karyawan menandatangani petisi untuk menghentikan program pelacakan data AI perusahaan. Salah satu kritik datang dari insinyur perangkat lunak Meta, Mack Ward.
Ward menilai perkembangan AI seharusnya tidak diterima begitu saja tanpa pertimbangan dampak sosial. “AI itu seperti kereta barang, tetapi masa depan bukan sesuatu yang sudah pasti.
Belum terlambat untuk mengerem dan mempertimbangkan bagaimana kita, masyarakat, ingin menyikapi hal ini,” tulis Ward dalam unggahan internal yang didukung ribuan karyawan. Sementara itu, Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, mengakui kecemasan pegawai terkait masa depan.
“Ada sejumlah besar karyawan yang merasa cemas tentang masa depan mereka. Semuanya buruk. Saya tidak akan mencoba mempermanisnya,” kata Bosworth dalam sesi tanya jawab internal. (*)