← Beranda
Kebocoran Data Makin Marak, Begini Cara Mudah Mengamankan Data di Era Digital
Rian AlfiantoRabu, 20 Mei 2026 | 18.51 WIB
Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN Mayjen TNI Bondan Widiawan. (BSSN RI)

 

 

 

JawaPos.com - Serangan siber yang terus meningkat membuat keamanan data digital kini menjadi kebutuhan dasar masyarakat modern. Di tengah maraknya kebocoran data dan berkembangnya serangan berbasis AI, pengguna internet dituntut lebih waspada dalam menjaga informasi pribadinya.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sebelumnya mencatat jumlah serangan siber sepanjang 2025 mencapai 5,5 miliar serangan. Tren tersebut masih berlanjut pada awal 2026 dengan 1,52 miliar serangan dalam kurun kurang dari empat bulan.

Deputi Bidang Operasi Keamanan Siber dan Sandi BSSN Mayjen TNI Bondan Widiawan mengatakan pola serangan saat ini semakin kompleks karena malware mampu berubah bentuk secara otomatis untuk menghindari deteksi sistem keamanan.

Menurut dia, pendekatan keamanan lama berbasis daftar ancaman sudah tidak lagi cukup menghadapi serangan siber modern yang memanfaatkan AI.

 

Kesadaran Digital Jadi Pertahanan Utama

Sementara itu, Pakar Keamanan Siber CISSReC Pratama Persadha mengatakan masyarakat harus mulai memahami bahwa data pribadi memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat disalahgunakan untuk berbagai tindak kejahatan.

“Masyarakat perlu memahami bahwa data pribadi memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat disalahgunakan untuk berbagai tindak kejahatan,” ujar Pratama.

Ia menilai manusia masih menjadi titik lemah terbesar dalam keamanan digital. Karena itu, edukasi keamanan siber harus dilakukan secara masif dan berkelanjutan.

 

Cara Praktis Mengamankan Data Digital

Pratama membagikan sejumlah langkah sederhana yang bisa dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko kebocoran data.

 

Gunakan Password yang Kuat dan Berbeda

Password sebaiknya dibuat panjang, unik, dan tidak digunakan berulang di berbagai layanan digital.

 

1. Aktifkan Autentikasi Dua Faktor

Fitur autentikasi dua faktor atau 2FA dapat menambah lapisan keamanan akun digital.

 

2. Jangan Pernah Membagikan OTP

Kode OTP sering menjadi target penipuan karena dapat digunakan untuk mengambil alih akun korban.

 

3. Rutin Memperbarui Sistem dan Aplikasi

Pembaruan sistem penting untuk menutup celah keamanan yang sering dimanfaatkan hacker.

4. Hindari WiFi Publik untuk Transaksi Sensitif

Jaringan publik rentan disusupi dan tidak aman digunakan untuk transaksi keuangan maupun login akun penting.

 

5. Batasi Izin Aplikasi

Pengguna perlu memeriksa akses aplikasi terhadap kamera, mikrofon, lokasi, maupun kontak agar data tidak dikumpulkan secara berlebihan.

 

6. Backup dan Enkripsi File Penting

File penting sebaiknya dicadangkan secara berkala dan disimpan dalam bentuk terenkripsi.

 

Waspadai Phishing Berbasis AI

Pratama juga mengingatkan masyarakat untuk mulai memiliki skeptisisme digital karena serangan phishing modern kini semakin sulit dikenali.

Pelaku memanfaatkan AI untuk membuat pesan palsu, deepfake suara, hingga video yang tampak meyakinkan.

“Verifikasi informasi, kehati-hatian terhadap tautan, serta kebiasaan memeriksa sumber komunikasi menjadi sangat penting,” kata Pratama.

Baca Juga: Setelah Dicuri, Ke Mana Data Bocor Beredar? Dan ini Dampak Besarnya bagi Korban

Baca Juga: Data Pribadi Jadi 'Tambang Emas' Baru Hacker, Begini Cara Kebocorannya Terjadi

Ia menegaskan keamanan data digital tidak lagi bisa bersifat reaktif. Menurut dia, perlindungan data harus dibangun melalui kombinasi teknologi, regulasi, tata kelola yang disiplin, dan literasi digital masyarakat yang kuat. (*)

EDITOR: Dinarsa Kurniawan