← Beranda
Indonesia Bidik Posisi Strategis di Rantai Pasok Global AI dan Semikonduktor
Nanda PrayogaJumat, 8 Mei 2026 | 06.31 WIB
Wamenkomdigi Nezar Patria. (Dok. Komdigi)

JawaPos.com - Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memainkan peran penting dalam rantai pasok global kecerdasan artifisial (AI), didukung kekayaan sumber daya mineral, kapasitas energi, hingga jumlah penduduk usia produktif yang besar.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan perubahan peta industri global, khususnya di sektor semikonduktor dan AI, membuka kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam ekosistem teknologi dunia.

“Perang ekonomi abad ini tidak ditentukan oleh siapa yang menguasai ladang minyak, tetapi oleh siapa yang menguasai pabrikasi chip, lalu di mana posisi Indonesia?,” ujarnya dalam diskusi “Peluang Strategis Indonesia dalam Rantai Pasok Global AI” di Jakarta Pusat, Rabu (6/5).

Baca Juga: P2G Sebut Pemerintah Harusnya Angkat Guru Honorer Bukan Berhentikan

Ia menegaskan semikonduktor kini tidak lagi sekadar komponen elektronik, melainkan telah menjadi fondasi strategis bagi banyak sektor penting, termasuk AI dan pertahanan.

“Semikonduktor ini bukan lagi komponen elektronik, tapi dia sudah menjadi semacam infrastruktur kedaulatan pada hari ini. Dan dia adalah bahan bakar bagi setiap model AI yang dilatih, setiap data center yang dibangun, dan setiap sistem pertahanan yang dioperasikan. Kita boleh bilang sekarang semiconductor is the new oil,” tegasnya.

Menurut Nezar, Indonesia memiliki modal besar untuk masuk lebih jauh ke rantai pasok industri tersebut, salah satunya melalui kekayaan mineral strategis seperti timah.

“Kita penghasil timah terbesar di dunia. Dan timah adalah bahan kunci dalam proses pembuatan chips,” ungkapnya.

Baca Juga: Satgas PKH di Papua tengah Tertibkan Tambang Emas Ilegal, Kuasai Kembali Lahan Seluas 200  Hektare

Selain timah, cadangan pasir silika yang melimpah juga dinilai menjadi keunggulan karena merupakan bahan baku utama silikon dalam industri semikonduktor. Meski demikian, pemerintah menilai Indonesia harus mulai mengubah pendekatan agar tidak berhenti sebagai eksportir bahan mentah.

“Jangan bahan mentah yang dikirim tapi sudah setengah jadi. Setengah jadi dan itu kita kuasai,” ujarnya.

Dari sisi infrastruktur energi, Indonesia juga disebut memiliki peluang besar untuk mendukung pertumbuhan pusat data sebagai penopang industri AI, terutama karena ketersediaan energi terbarukan dan surplus listrik nasional.

“Kita punya kelebihan energi, renewable energy. Listrik kita produksinya cukup banyak, bahkan setahun yang lalu melimpah, surplus energi listrik,” jelasnya.

Tak hanya sumber daya alam, bonus demografi Indonesia juga dinilai menjadi kekuatan tersendiri. Dengan populasi terbesar di Asia Tenggara dan dominasi usia produktif, Indonesia dianggap memiliki potensi besar dalam pengembangan talenta digital.

“Kita penduduknya paling besar di Asia Tenggara, 285 juta jiwa dengan usia rata-rata 30 tahun,” katanya.

Baca Juga: Sulit Didobrak Musuh! Persebaya Surabaya Punya Salah Satu Tembok Terbaik di Super League!

Untuk memperkuat kesiapan SDM, Kementerian Komunikasi dan Digital disebut telah menjalankan program AI Talent Factory bersama sejumlah perguruan tinggi guna mencetak talenta di bidang AI.

“Kita coba kumpulkan best talent yang ada di universitas, kemudian kita berikan program-program dasar sampai dengan advance bagaimana memberikan solusi AI,” jelasnya.

Di tengah ketegangan geopolitik global, posisi Indonesia sebagai negara non-blok juga dinilai memberi ruang lebih luas untuk menjalin kerja sama strategis dengan berbagai pihak.

Meski Indonesia belum sepenuhnya masuk dalam rantai pasok global AI dan semikonduktor, Nezar menilai kondisi tersebut justru menjadi momentum untuk menentukan posisi strategis nasional ke depan.

Baca Juga: 11 Produk Kosmetik Dilarang BPOM karena Mengandung Bahan Berbahaya, Bisa Sebabkan Masalah Ginjal dan Kanker

“Kita harus menjadi choke point. Kita harus menjadi choke point yang strategis dan kita harus mampu mengontrol choke point itu,” tegasnya.

Ia juga menilai pengembangan AI sebaiknya difokuskan untuk mendukung sektor-sektor dengan risiko kerja tinggi agar teknologi dapat meningkatkan keselamatan sekaligus efisiensi.

“Menurut saya kita enggak usah takut bahwa dia akan replace manusia, tapi bagaimana dia bisa menjadi companion dalam kerja-kerja yang kita lakukan,” ujarnya.

Dengan dukungan sumber daya alam, energi, talenta, serta strategi pengembangan industri yang tepat, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk naik kelas dari sekadar pasar teknologi menjadi bagian penting dalam rantai pasok global AI.

EDITOR: Bintang Pradewo