← Beranda
Tantangan Kesetaraan Gender Masih Nyata, Perempuan Butuh Ruang Aman dan Akses Ekonomi
Rian AlfiantoJumat, 8 Mei 2026 | 02.26 WIB
Peringatan Hari Kartini 2026, tantangan kesetaraan gender masih nyata di sisi ruang aman dan akses ekonomi bagi perempuan. (Istimewa)

 

JawaPos.com–Peringatan Hari Kartini 2026 kembali mengingatkan bahwa isu kesetaraan gender di Indonesia belum sepenuhnya selesai. Di tengah meningkatnya partisipasi perempuan di dunia kerja dan ekonomi digital, tantangan seperti keamanan di ruang publik, akses pembiayaan usaha, hingga minimnya representasi perempuan di sektor teknologi masih menjadi persoalan yang banyak dihadapi masyarakat.

Kondisi itu terlihat dari semakin banyaknya perempuan yang kini bekerja di sektor informal dan ekonomi berbasis platform digital. Termasuk sebagai pengemudi transportasi online, pelaku UMKM, hingga pekerja teknologi.

Namun di sisi lain, mereka juga dihadapkan pada risiko kekerasan di jalan, ketimpangan akses pelatihan, dan keterbatasan peluang untuk naik ke posisi strategis. Momentum Hari Kartini tahun ini dimanfaatkan Grab Indonesia melalui program Jejak Aksi Kartini Masa Kini yang berfokus pada pemberdayaan perempuan di berbagai lini ekosistem digital.

Baca Juga: Perjalanan Usaha Bawang Goreng Rajagaluh: UMKM Binaan BNI yang Berdayakan Kaum Perempuan Tanpa Batasan Usia

Program tersebut mencakup pelatihan keamanan diri bagi mitra pengemudi perempuan, edukasi pengelolaan keuangan untuk UMKM perempuan, hingga pengembangan kapasitas generasi muda perempuan di bidang teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Chief Executive Officer Grab Indonesia Neneng Goenadi mengatakan, pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya membuka akses pekerjaan, tetapi juga harus memastikan perempuan memiliki rasa aman, kepercayaan diri, dan kesempatan berkembang.

”Perempuan perlu memiliki ruang untuk tumbuh dan mandiri. Ketika mereka diberi akses dan dukungan yang tepat, dampaknya tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga keluarga dan komunitas,” ujar Neneng di Jakarta.

Keamanan Perempuan di Ruang Publik Jadi Sorotan

Salah satu isu yang masih banyak disorot adalah keamanan perempuan saat bekerja di ruang publik. Perempuan yang bekerja di sektor transportasi online misalnya, kerap menghadapi risiko pelecehan verbal, intimidasi, hingga ancaman kriminal di jalan.

Baca Juga: Ekonomi Jakarta Stabil, DPRD DKI Dorong Akselerasi UMKM dan Lapangan Kerja

Pihaknya juga menggelar pelatihan bela diri dan perlindungan diri untuk mitra pengemudi perempuan. Workshop bertajuk Jaga Diri di Jalan: Self-Defense untuk Perempuan Berkendara itu membekali peserta dengan teknik dasar menghadapi situasi darurat dan meningkatkan kewaspadaan saat bekerja.

Pelatih perlindungan diri urban Dennis Laoh menilai, kemampuan melindungi diri menjadi kebutuhan penting bagi perempuan yang aktif di ruang publik.

”Bukan hanya soal teknik bela diri, tapi juga kesiapan mental dan kemampuan membaca situasi agar perempuan lebih percaya diri saat beraktivitas,” kata Dennis Laoh.

Putri Herawati, salah satu mitra pengemudi GrabCar yang mengikuti pelatihan tersebut, mengaku, edukasi seperti ini membantu perempuan merasa lebih aman saat bekerja. Jadi lebih tahu harus bagaimana menghadapi situasi tidak nyaman di jalan.

”Sekarang juga ada fitur keamanan di aplikasi seperti tombol darurat dan dashcam yang bikin lebih tenang,” ungkap Putri.

Selain isu keamanan, tantangan lain yang masih banyak dihadapi perempuan Indonesia adalah kemandirian ekonomi, terutama bagi pelaku UMKM. Banyak usaha kecil yang dijalankan perempuan masih kesulitan mengelola arus kas, memiliki dana darurat, hingga mendapatkan akses pembiayaan yang sehat.

Baca Juga: Kolaborasi Kementerian UMKM dan PNM Dorong Kemandirian Ekonomi Masyarakat Pulau Rinca

Grab juga memberikan pelatihan literasi keuangan bagi mitra merchant perempuan. Materi yang diberikan mulai dari pengelolaan modal usaha, membangun dana darurat, hingga mengenali kebocoran pengeluaran bisnis. Perencana keuangan Ayu Sara Herlia mengatakan pemahaman finansial menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan usaha perempuan.

”Banyak UMKM tumbuh cepat tetapi kesulitan bertahan karena pengelolaan keuangan yang belum sehat. Literasi finansial membantu pelaku usaha lebih siap menghadapi tantangan bisnis,” ungkap Ayu Sara Herlia.

Salah satu pelaku UMKM peserta program Trivena Florentina mengaku, pelatihan tersebut memberinya pemahaman baru dalam mengelola usaha kuliner yang dijalankannya.

Baca Juga: Jelang Piala Dunia 2026, Riset Ungkap Nobar Sepak Bola Jadi Motor Ekonomi Baru bagi UMKM

“Sekarang saya lebih paham mengatur arus kas dan pentingnya dana darurat supaya usaha bisa berkembang lebih stabil,” tutur Trivena Florentina.

Di sektor teknologi, isu kesenjangan gender juga masih menjadi perhatian. Meski industri digital berkembang pesat, keterlibatan perempuan di bidang teknik, data, dan pengembangan AI masih relatif rendah dibanding laki-laki.

Untuk mendorong partisipasi perempuan di sektor ini, Grab bekerja sama dengan Google Developer Group Jakarta menggelar kegiatan Women Techmakers: Break the Pattern. Program tersebut menghadirkan diskusi tentang kepemimpinan perempuan, workshop AI-driven design, hingga pelatihan pembuatan solusi berbasis AI.

Baca Juga: Kesenjangan Pembiayaan UMKM Rp 2.400 Triliun, Akses Modal Jadi Penentu Pertumbuhan Ekonomi Inklusif

Selain itu, menyiapkan program STEM Talks bagi mahasiswa perempuan untuk mengenalkan peluang karier di industri teknologi dan inovasi digital. Langkah tersebut dinilai penting mengingat kebutuhan talenta digital di Indonesia terus meningkat, sementara representasi perempuan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) masih terbatas.

Di internal perusahaan, Grab menyebut perempuan kini mengisi sekitar 50 persen posisi kepemimpinan tingkat C-level. Secara regional, terdapat lebih dari 180 ribu mitra pengemudi perempuan di Asia Tenggara.

Peringatan Hari Kartini 2026 pun menjadi pengingat bahwa perjuangan kesetaraan gender saat ini tidak hanya berbicara soal emansipasi, tetapi juga tentang menciptakan ruang aman, kesempatan ekonomi yang setara, serta akses yang lebih luas bagi perempuan untuk berkembang di era digital.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah