JawaPos.com-Perkembangan digitalisasi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir pesat. Digitalisasi menjangkau berbagai sektor, termasuk industri keuangan dan perbankan. Namun di balik kemajuan tersebut, ancaman kejahatan siber meningkat dan semakin masif. Kejahatan ini menjadi tantangan serius bagi berbagai pihak.
Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sepanjang 2025 tercatat sekitar 3,5 miliar anomali trafik. Anomali ini terindikasi sebagai serangan siber dan menyasar berbagai target.
Target serangan beragam, mulai dari internet of things (IoT), operational technology (OT), sistem pembayaran digital, hingga application programming interface (API). Semua sektor terdampak serangan ini.
Finance and Risk Management Director Digiserve, Buddy Restiady, menilai situasi ini sebagai konsekuensi dari masifnya transformasi digital. Ia mengibaratkan kondisi itu seperti gula yang menarik semut.
"Pelakunya dari yang coba-coba, baru lulus sekolah, hingga yang benar-benar mencari uang sebagai hacker profesional," ujarnya dalam diskusi keamanan siber bersama DBM Works Solusi Indonesia di Jakarta, dikutip Kamis (30/4).
Dalam periode terakhir, perusahaannya mencatat sekitar 40 serangan siber. Secara grup Telkom, aktivitas serangan bisa menembus 2.000 per bulan. "Serangan ke sektor perbankan yang paling banyak," katanya.
Bahkan serangan ransomware sempat melumpuhkan bank di Indonesia beberapa waktu lalu. Kasus ini menunjukkan risiko besar dari kejahatan siber di sektor finansial.
Menurut Buddy, penguatan ketahanan siber menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Perusahaannya rutin berkoordinasi dengan BSSN untuk tingkatkan keamanan digital.
Ia menilai pemerintah telah memberikan dukungan yang cukup optimal. "Cyber security sekarang sudah jadi mandatori. Khususnya di perusahaan yang bermain di cloud," tegasnya.
Upaya kolaborasi lintas pihak terus dilakukan, termasuk kerja sama dengan mitra dari Korea Selatan. Ini untuk tingkatkan efektivitas pencegahan serangan siber.
Dari sisi dampak, kerugian ekonomi akibat serangan siber sangat besar. Estimasi kerugian mencapai Rp 8 triliun per tahun di Indonesia.
Untuk kasus ransomware, rata-rata kerugian per insiden mencapai Rp 4,7 miliar. Sekitar 40 persen serangan siber di Indonesia adalah ransomware, yang mengunci sistem lalu meminta tebusan. Buddy menyoroti tantangan lain, yakni keterbatasan talenta di bidang keamanan siber. Indonesia kekurangan tenaga profesional yang kompeten di bidang ini.
Baca Juga: Rawan Serangan Siber dan Kebocoran Data, Pemerintah Diminta Tinjau Ulang Penerapan PP TUNAS
Kebutuhan tenaga ahli diperkirakan mencapai 1,5 juta orang. Ia berharap sinergi industri, perguruan tinggi, dan pemerintah dapat percepat lahirnya sumber daya manusia kompeten. (*)