← Beranda
Samsung Pamer Layar 3D Tanpa Kacamata, Bisa Bikin Orang Berhenti Melihat
Dony Lesmana Eko PutraSelasa, 31 Maret 2026 | 00.19 WIB
Samsung memperkenalkan Spatial Signage, layar 3D tanpa kacamata setebal 52 mm untuk kebutuhan komersial. (Istimewa)

JawaPos.com - Samsung mencoba menghidupkan kembali teknologi 3D, tapi kali ini tanpa kacamata dan tanpa ribet. Lewat layar Spatial Signage, perusahaan asal Korea Selatan itu ingin membuat iklan, display produk, dan promosi bisnis terasa jauh lebih “hidup”.

Teknologi ini dipamerkan di ajang Integrated Systems Europe (ISE) 2026 di Barcelona, Spanyol, setelah sebelumnya juga mendapat pengakuan di IFA 2025 dan CES 2026. Model yang diperkenalkan saat ini hadir dalam ukuran 85 inci dengan desain sangat tipis, hanya sekitar 52 mm.

Layar 3D Tanpa Headset atau Kacamata

Yang membuat Samsung Spatial Signage menarik adalah kemampuannya menghadirkan efek kedalaman visual tanpa perlu kacamata 3D atau headset tambahan. 

Samsung menggunakan teknologi yang mereka sebut 3D Plate Technology, yaitu kombinasi antara komponen optik dan tampilan visual untuk menciptakan ilusi ruang dan kedalaman. Dengan cara ini, objek di layar bisa terlihat seperti “melayang” atau muncul keluar dari permukaan layar.

Secara sederhana, sistem ini mengirimkan tampilan gambar yang sedikit berbeda ke mata kiri dan kanan, sehingga otak menangkapnya sebagai efek tiga dimensi.

Dikembangkan untuk Kebutuhan Bisnis dan Iklan

Samsung tidak memposisikan layar ini sebagai TV rumahan, melainkan sebagai digital signage premium untuk dunia bisnis. Target pengguna utamanya antara lain retail dan toko premium, kafe dan restoran, pusat kebugaran, museum dan hiburan, institusi pendidikan dan area promosi dan display produk.

Dengan tampilan yang lebih imersif, Samsung ingin layar ini menjadi solusi baru bagi bisnis yang ingin membuat iklan, promosi, atau presentasi produk lebih menarik dan sulit diabaikan.

Bisa Tampilkan Produk Berputar 360 Derajat

Salah satu keunggulan Spatial Signage adalah kemampuannya menampilkan visual produk secara 360 derajat dalam format vertikal 9:16.
Artinya, sebuah produk bisa terlihat dari depan, samping, hingga belakang dalam efek 3D yang lebih hidup. 

Fitur ini sangat potensial dipakai untuk promosi produk retail, display barang mewah, menu digital, hingga kebutuhan edukasi visual.

Samsung juga menyiapkan dukungan software melalui platform Samsung VXT, termasuk aplikasi baru bernama AI Studio. Aplikasi ini memungkinkan pengguna mengubah gambar statis menjadi video siap tayang untuk digital signage. 

Konten yang dibuat juga bisa dioptimalkan khusus agar tampil lebih realistis di layar Spatial Signage, termasuk pengaturan bayangan,
latar belakang, margin, dan efek kedalaman.

Ini penting, karena salah satu tantangan terbesar dari teknologi display baru biasanya bukan hanya perangkat kerasnya, tetapi juga ketersediaan konten yang cocok.

Samsung Siapkan Versi Lebih Kecil

Saat ini Samsung baru meluncurkan model 85 inci secara global. Namun, perusahaan juga sudah memastikan akan menghadirkan versi 32 inci dan 55 inci dalam waktu dekat. Ukuran yang lebih kecil ini akan membuka peluang penggunaan di tempat yang lebih fleksibel.

Lewat Samsung Spatial Signage, Samsung mencoba membawa pengalaman visual 3D ke level yang lebih praktis dan lebih relevan untuk bisnis.

Jika selama ini layar 3D identik dengan teknologi yang rumit atau hanya sekadar gimmick, Samsung ingin mengubahnya menjadi alat promosi dan komunikasi visual yang benar-benar berguna.

Dengan desain tipis, efek 3D tanpa kacamata, serta dukungan AI untuk pembuatan konten, Spatial Signage berpotensi menjadi salah satu inovasi paling menarik di dunia digital signage dan display komersial tahun ini.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra