JawaPos.com - Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) menyegel dua gerbang utama pintu masuk kampus, Senin (21/9). Akibatnya tenaga pendidik serta mahasiswa tidak bisa masuk melalui pintu utama. Mereka diminta untuk masuk melalui pintu belakang kampus.
Koordinator lapangan aksi Fadlurrakhman Fazle Purwardana alias Ale mengatakan aksi ini merupakan kelanjutan dari demonstrasi yang sebelumnya digelar pada Rabu dan Kamis pekan lalu. Tuntutan yang disampaikan adalah mendesak agar Rektor UINSA Akh Muzakki mengundurkan diri setelah dilantik menjadi pemimpin periode kedua.
Menurut Ale, aksi kali ini dimulai sejak pagi meski informasi mengenai waktu aksi baru disebarluaskan sekitar pukul 13.00 WIB. Strategi tersebut dilakukan setelah mahasiswa melakukan konsolidasi internal.
“Hasil konsolidasi pamflet di-upload jam 1 (siang). Namun sebenarnya sudah mulai dari jam 7 (pagi). Jadi sebelum semua masuk ke kampus, kita sudah aksi,” ujar Ale kepada wartawan di depan kampus UINSA, Senin (21/9).
Ale menegaskan mahasiswa tidak bermaksud menghentikan seluruh kegiatan di lingkungan kampus. Tenaga pendidik maupun mahasiswa masih dapat memasuki area kampus melalui akses alternatif tersebut.
“Kami juga enggak melumpuhkan total kampus, kami ada pintu belakang, itu bisa diakses oleh semua. Jadi tadi juga sudah sempat kita imbau ketika di sana, ya kalau mau mengajar silakan atau mau belajar silakan,” katanya.
Dia menambahkan, proses belajar mengajar tetap dapat berlangsung karena masih terdapat akses lain yang bisa digunakan. “Kami enggak menutup total pintu gitu. Masih ada gerbang belakang, masih ada pintu yang bisa dilewati, sehingga proses belajar mengajar itu juga masih tetap berjalan,” lanjut Ale.
Penyegelan tersebut, kata Ale, merupakan bentuk kekecewaan mahasiswa terhadap kondisi yang mereka persoalkan di kampus. Salah satu tuntutan utama yang kembali disuarakan adalah permintaan agar Rektor UINSA Akh Muzakki mundur dari jabatannya.
Mahasiswa berharap aksi tersebut dapat mendorong pihak kampus segera merespons tuntutan yang disampaikan.“Dengan upaya teman-teman ini semoga apa yang diharapkan tetap tercapai dan bisa menjadi evaluasi ke depannya,” ujar Ale.
Mengenai durasi penyegelan, Ale menyebut aksi tersebut berpotensi berlangsung lebih dari satu hari. Namun, belum ada kepastian kapan akses yang disegel akan kembali dibuka. “Kemungkinan penyegelannya akan tetap bertahan beberapa hari mungkin,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya mahasiswa membawa tujuh plus satu tuntutan antara lain:
1. Tuntutan pertama itu copot secara tidak hormat atau mundur secara pribadi Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya.
2. Mendesak pimpinan UIN Sunan Ampel Surabaya untuk memberikan pernyataan publik terkait PPID yang baru terbentuk pada tahun 2025, terhitung selama 3 tahun UINSA mengkhianati mandatori UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik yang mengindikasikan adanya dugaan korupsi.
3. Usut tuntas kasus Kopertais yang melibatkan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai terlapor.
4. Menuntut klarifikasi dan tenggat waktu atas terlambatnya pembagian buku, KTM, dan almamater mahasiswa baru.
5. Menuntut pertanggungjawaban atas penerimaan mahasiswa baru yang terlalu banyak sehingga berdampak pada keterbatasan fasilitas di kampus.
6. Hapus kebijakan jam malam yang tidak pro terhadap kebutuhan non-akademik mahasiswa.
7. Menuntut pertanggungjawaban atas kebijakan penentuan UKT mahasiswa baru yang tidak pro mahasiswa menengah ke bawah.
8. Hapus mekanisme peminjaman tempat yang selalu dipersulit