← Beranda
Call Taker 112 Surabaya Dibekali Kemampuan Tangani Laporan Krisis Psikologis
Ardini PramithaKamis, 17 September 2026 | 21.17 WIB
Command center 112 Surabaya. (Diskominfo Surabaya)

JawaPos.com - Call taker Command Center 112 Surabaya dibekali kemampuan Psychological First Aid (PFA) untuk menangani laporan warga yang mengalami kondisi darurat, termasuk krisis psikologis. 

Petugas tidak hanya menerima dan mencatat laporan, tetapi juga melakukan asesmen awal untuk menentukan langkah penanganan.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik BPBD Surabaya Linda Novanti, mengatakan kemampuan tersebut diperlukan karena kondisi warga yang melapor dapat beragam. 

Call taker harus mampu menggali informasi dan menilai kondisi pelapor sebelum menentukan respons.

“Call taker tidak hanya menerima telepon. Mereka sudah dibekali Psychological First Aid (PFA) atau penanganan psikologis, sehingga ketika menerima laporan bisa melakukan asesmen awal, menimbang kondisinya, kemudian menentukan langkah berikutnya,” ujar Linda, Kamis (17/9). 

Menurut Linda, setelah menerima laporan, call taker akan menggali informasi mengenai kondisi yang terjadi dan memastikan lokasi kejadian. 

Informasi tersebut kemudian dikoordinasikan dengan petugas teknis maupun pos terdekat agar penanganan dapat segera dilakukan.

Selain call taker, ruang Command Center 112 juga didukung tenaga kesehatan. Nakes dapat memberikan arahan awal kepada warga melalui telepon sambil menunggu petugas tiba di lokasi.

“Di sisi room itu ada juga tenaga nakes yang dapat memandu warga. Karena kadang warga tidak tahu harus melakukan apa. Jadi bisa diarahkan dulu, jangan panik, kemudian diberikan langkah awal sambil menunggu tenaga medis datang,” katanya.

Untuk laporan yang membutuhkan pendampingan psikologis, Command Center 112 juga melibatkan psikolog dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Surabaya.

Psikolog tersebut ditempatkan di ruang Command Center dan bersiaga dalam tiga shift. 

"Kehadiran tenaga psikolog memungkinkan petugas melakukan koordinasi ketika menerima laporan terkait warga yang mengalami krisis psikologis," katanya. 

Linda menyebut pernah terdapat laporan mengenai seseorang yang berada dalam kondisi krisis dan membutuhkan pendampingan. 

Dalam kondisi tersebut, petugas berupaya menjaga komunikasi dengan yang bersangkutan, memberikan ketenangan, dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menentukan penanganan.

“Call taker bukan sekadar petugas yang menerima telepon. Mereka merupakan bagian penting dari sistem penanganan kedaruratan,” ujarnya.

Linda menambahkan, asesmen awal menjadi penting karena informasi yang diterima melalui telepon menjadi dasar untuk menentukan respons. 

"Call taker dituntut mengenali kondisi darurat dan meneruskan penanganan sesuai kebutuhan, bukan sekadar menyampaikan pesan kepada petugas lapangan," katanya. 

Dalam proses penerimaan laporan, call taker juga memastikan informasi lokasi yang diberikan pelapor cukup jelas.

Jika lokasi sulit ditemukan atau informasi belum lengkap, petugas akan kembali menghubungi pelapor untuk melakukan verifikasi.

Warga juga dapat mengirimkan foto dan koordinat lokasi melalui WhatsApp di nomor 081131112112. Informasi tersebut dapat membantu petugas melakukan verifikasi lokasi dan mempercepat penanganan di lapangan.

EDITOR: Dony Lesmana Eko Putra