JawaPos.com - Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menggelar aksi demonstrasi dengan menyampaikan sejumlah tuntutan terkait kebijakan dan kepemimpinan kampus, Rabu (16/9).
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa delapan tuntutan. Namun, yang paling utama adalah meminta Rektor UINSA Prof. Muzakki mundur dari jabatannya.
Wakil Presiden BEM UINSA Fadlurrakhman Fazle Purwardana, mengatakan mahasiswa menolak kepemimpinan Rektor UINSA saat ini.
Dia menyebut mahasiswa menginginkan adanya pergantian kepemimpinan di lingkungan kampus. Pasalnya, Prof Muzakki telah menahkodai UINSA selama dua periode.
Baca Juga: Prabowo Pastikan Investigasi Tenggelamnya KM Virgo Transport 8 Terus Berjalan
“Kami menolak dan mengecam, dan kami juga ingin menurunkan secara hormat, secara pribadi, dari Prof. Muzakki ini kemudian turun jadi Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya,” kata Fadlurrakhman ditemui.
Menurut Fadlurrakhman, mahasiswa menilai terdapat sejumlah kebijakan dan keputusan pimpinan yang dianggap tidak berpihak kepada mahasiswa.
Dia juga menyebut adanya keberatan dari sejumlah dosen yang kemudian, menurutnya, turut disampaikan kepada mahasiswa.
Salah satu hal yang disorot adalah persoalan pergantian pejabat di lingkungan kampus. Fadlurrakhman menyinggung kasus pencopotan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAHUM) yang disebutnya dilakukan secara sepihak.
“Dulu itu sempat ada kasus Dekan Fahum yang dicopot secara paksa, secara sepihak, dan kemudian menjadi titik tanya dari kami,” ujarnya.
Selain persoalan kepemimpinan, mahasiswa juga mempersoalkan kebijakan penggunaan fasilitas kampus.
Fadlurrakhman mencontohkan adanya kewajiban penyisihan dana dari kegiatan organisasi mahasiswa ketika menggunakan fasilitas seperti Sport Center atau gedung tertentu.
"Kebijakan tersebut menjadi salah satu alasan mahasiswa menilai terdapat kecenderungan komersialisasi fasilitas pendidikan," katanya.
Mahasiswa juga menyoroti isu yang berkaitan dengan Rektor UINSA di lingkungan Kopertais Wilayah IV. Fadlurrakhman menyebut Rektor UINSA dilaporkan dalam dugaan kasus pungutan liar atau suap.
Baca Juga: Korlantas Polri Bantah Penagihan Pajak Kendaraan ke Rumah Warga
Fadlurrakhman mengatakan mahasiswa berharap Rektor UINSA hadir secara langsung untuk berdialog dengan massa aksi. Namun, menurut informasi yang diterima mahasiswa, Rektor tidak berada di lokasi.
“Kami akan tetap bertahan dan kita akan tetap bergandengan untuk berjaga sampai beliau datang,” katanya.
Aksi tersebut menjadi bentuk penyampaian aspirasi mahasiswa terhadap sejumlah persoalan yang mereka nilai perlu mendapat penjelasan dan pertanggungjawaban dari pihak pimpinan UINSA.
Berikut 8 tuntutan yang disampaikan Mahasiswa UINSA:
1.Mendesak Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya dicopot atau mengundurkan diri.
2. Mendesak pimpinan UIN Sunan Ampel Surabaya memberikan pernyataan publik terkait PPID yang baru terbentuk pada 2025. Mahasiswa menyebut selama tiga tahun UINSA mengabaikan mandat UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik yang mereka kaitkan dengan dugaan korupsi.
3. Mendesak pengusutan kasus Kopertais yang melibatkan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai terlapor.
4. Menuntut klarifikasi dan tenggat waktu terkait keterlambatan pembagian buku, KTM, dan almamater mahasiswa baru.
5. Menuntut pertanggungjawaban atas penerimaan mahasiswa baru yang dinilai terlalu banyak sehingga berdampak pada keterbatasan fasilitas kampus.
6. Mendesak penghapusan kebijakan jam malam yang dinilai tidak pro terhadap kebutuhan nonakademik mahasiswa.
7. Menuntut pertanggungjawaban atas kebijakan penentuan UKT mahasiswa baru yang dinilai tidak berpihak kepada mahasiswa menengah ke bawah.
8. Mendesak penghapusan mekanisme peminjaman tempat yang dinilai selalu dipersulit.