JawaPos.com - Data desil bukan menjadi satu-satunya acuan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam menentukan warga yang membutuhkan bantuan.
Kondisi faktual di lapangan tetap menjadi pertimbangan, terutama bagi warga lanjut usia (lansia) yang hidup seorang diri dan tidak memiliki kemampuan untuk memperbaiki tempat tinggalnya.
Hal itu terlihat dari keputusan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang tetap memberikan bantuan renovasi rumah kepada Sumaiyah, lansia yang tinggal di Wonorejo III, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Tegalsari.
Meski berdasarkan pendataan tercatat dalam Desil 4, kondisi rumah dan keadaan sosial Sumaiyah dinilai membutuhkan intervensi pemerintah.
Kasus tersebut bermula dari laporan warga melalui Hotline Lapor Cak Eri. Warga melaporkan kondisi rumah tetangganya yang mengalami kerusakan dan dihuni oleh seorang lansia yang tinggal sendirian.
Eri kemudian menindaklanjuti laporan tersebut dengan mendatangi langsung rumah Sumaiyah.
Setelah melihat kondisi bangunan sekaligus kehidupan penghuninya, ia memutuskan rumah tersebut tetap mendapatkan bantuan perbaikan.
“Saya mendapat laporan melalui hotline ada rumah tetangga yang penghuninya tinggal sendiri, seorang lansia. Rumah ini belum mendapatkan bantuan Rutilahu. Kemudian saya cek apakah rumah ini layak mendapatkan bantuan atau tidak. Ternyata masuk dalam Desil 4,” kata Eri, Minggu (13/9).
Menurut Eri, kondisi Sumaiyah menjadi contoh bahwa angka dalam data tidak selalu menggambarkan kebutuhan warga secara utuh.
Sebab, lansia yang tinggal seorang diri tentu memiliki keterbatasan untuk melakukan perbaikan rumah secara mandiri.
“Akhirnya saya putuskan karena dia lansia dan tinggal sendiri, saya turun langsung. Karena rumah ini tidak mungkin ada yang memperbaiki, karena dia tinggal sendiri,” ujarnya.
Eri menjelaskan, data desil merupakan hasil penghitungan Badan Pusat Statistik (BPS) dengan menggunakan sejumlah indikator sosial ekonomi. Dalam praktiknya, sejumlah kondisi kepemilikan aset maupun fasilitas rumah tangga dapat memengaruhi posisi seseorang dalam kelompok desil.
Ia mencontohkan daya listrik dan status kepemilikan rumah. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang berada pada desil yang lebih tinggi, meskipun secara faktual masih membutuhkan bantuan.
“Kalau listriknya 900 VA, dia pasti akan naik (dari) Desil 1-2, dia pasti masuk ke desil yang lebih tinggi. Karena yang dianggap tidak mampu adalah ketika listriknya 450 VA,” jelasnya.
Begitu pula dengan kepemilikan rumah. Menurut Eri, kepemilikan aset tersebut menjadi salah satu indikator dalam penghitungan desil. Karena itu, posisi desil tidak bisa serta-merta dijadikan kesimpulan bahwa seorang warga tidak membutuhkan bantuan.
“Dari sini ada pembelajaran, tidak semua orang yang masuk Desil 4 atau Desil 5 dan tidak mendapatkan bantuan itu berarti tidak perlu dibantu. Bisa saja mereka masuk Desil 4 atau Desil 5, tetapi tetap harus mendapatkan bantuan, contohnya seperti Mbah Sum tadi,” tuturnya.
Untuk mencegah adanya warga dengan kondisi serupa yang luput dari perhatian, Eri meminta jajaran kewilayahan memperkuat verifikasi langsung di lingkungan masing-masing.
Menurutnya, pengecekan tidak cukup hanya mengandalkan data administratif. RT, RW, lurah, camat hingga masyarakat sekitar perlu ikut melihat kondisi warga secara langsung sehingga kebutuhan yang belum tercatat dalam data dapat segera diketahui.
“Kampung Wonorejo ini nantinya menjadi percontohan. Insyaallah daerah lainnya juga akan mengikuti,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP) Kota Surabaya Iman Krestian memastikan rumah Sumaiyah akan mendapatkan sejumlah perbaikan.
Pekerjaan renovasi mencakup peninggian lantai, pembenahan toilet, peninggian atap, penyesuaian kusen, hingga perbaikan bagian mezzanine.
“Perbaikannya nanti akan kami lakukan peninggian lantai dan perbaikan toilet. Kita tinggikan atapnya termasuk nanti begitu lantai dinaikkan, kusen-kusen semua akan kami tinggikan dan ada perbaikan di area mezzanine,” kata Iman.
Baca Juga: Pemkot Surabaya Kebut Kesiapan Rutilahu dan Rusunami
Selain itu, kondisi struktur atap juga menjadi perhatian. Sebagian konstruksi dinilai sudah mengalami kerapuhan sehingga perlu segera diperbaiki untuk memastikan rumah lebih aman dan layak dihuni.
“Dan bisa kelihatan ini area konstruksi atapnya juga lumayan sudah rapuh, itu yang akan kita benahi,” pungkasnya.