← Beranda
El Nino Sebabkan Awal Hujan di Surabaya Mundur, Prakiraan Hingga 2027
Ardini PramithaJumat, 11 September 2026 | 19.59 WIB
Ilustrasi El Nino dan La Nina pada peta globe (Sumber foto : neefusa.org)

JawaPos.com - Awal musim hujan di Surabaya diprakirakan mundur karena fenomena El Nino yang masih cukup kuat.

Fenomena tersebut dapat memengaruhi pola cuaca di Indonesia, salah satunya curah hujan.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo Taufiq Hermawan mengatakan, El Niño merupakan fenomena iklim alamiah yang ditandai dengan peningkatan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik bagian tengah dan timur. 

Baca Juga: BPBD Surabaya Ingatkan Risiko Kebakaran karena Kemarau yang Dipengaruh El Nino

“Secara umum, dampak El Niño di Indonesia adalah berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah. Ketika curah hujan berkurang, sumber daya air seperti waduk, sungai maupun sumur juga dapat mengalami penurunan,” jelas Taufiq, Jumat (11/9). 

Menurutnya, kemarau yang berlangsung bersamaan dengan El Niño dapat menjadi lebih kering dan berpotensi lebih panjang dibandingkan kondisi normal. 

Dampaknya tidak hanya berupa berkurangnya curah hujan, tetapi juga meningkatnya risiko kekeringan, penurunan ketersediaan air, serta kebakaran hutan dan lahan.

Kondisi tersebut juga berpotensi memundurkan awal musim hujan. Berdasarkan prakiraan BMKG dan Badan Meteorologi Dunia, fenomena El Niño diperkirakan masih berlangsung hingga Februari 2027.

“Dampaknya, awal musim hujan berpotensi mengalami kemunduran. Karena itu, mitigasi perlu diperkuat, terutama dalam pengelolaan sumber daya air dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi kemarau,” ujarnya.

Prakirawan BMKG Juanda Siska Anggraeni menyampaikan bahwa saat ini Kota Surabaya masih berada pada puncak musim kemarau. 

Kondisi tersebut membuat masyarakat lebih sering merasakan cuaca panas dan terik pada siang hari, sementara kelembapan udara cenderung lebih rendah.

Pada September hingga November, curah hujan di Surabaya diperkirakan masih relatif rendah. Pengaruh El Niño yang masih cukup kuat juga berpotensi membuat awal musim hujan datang lebih lambat.

“Pengaruh El Niño yang masih kuat ini kemungkinan akan memundurkan awal musim hujan. Jadi, curah hujan masih relatif rendah karena kondisi kemarau yang diperkuat oleh fenomena tersebut,” ujar Siska.

Siska menjelaskan, minimnya tutupan awan membuat radiasi matahari lebih banyak mencapai permukaan bumi sehingga suhu pada siang hari terasa lebih panas. Kondisi tersebut dapat semakin terasa di wilayah perkotaan akibat efek urban heat atau pemanasan perkotaan.

Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik menghadapi kondisi tersebut. Warga dapat melakukan langkah sederhana dengan menyesuaikan aktivitas di luar ruangan saat cuaca sangat panas, mencukupi kebutuhan air, serta menjaga lingkungan dari sumber-sumber api.

“Meski begitu, masyarakat tidak perlu panik. Kewaspadaan dapat dilakukan melalui langkah sederhana, seperti menyesuaikan aktivitas saat cuaca sangat panas, mencukupi kebutuhan air, serta menjaga lingkungan dari sumber-sumber api,” terangnya.

Prakirawan BMKG Juanda, Andrie Wijaya menambahkan, kondisi cuaca dan potensi dampak kemarau dapat berbeda di setiap wilayah Surabaya. 

Masyarakat di kawasan Surabaya Barat dan Selatan yang memiliki lebih banyak vegetasi serta lahan terbuka perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.

Sementara itu, wilayah Surabaya Utara dan Timur, terutama kawasan pesisir, juga perlu memperhatikan potensi banjir rob dan angin kencang. Untuk Surabaya Pusat, kondisi kekeringan dan angin kencang menjadi hal yang perlu diwaspadai, terutama karena aktivitas masyarakat yang cukup tinggi.

“Untuk hidrometeorologi kering di Surabaya, yang perlu diwaspadai antara lain kekeringan meteorologis, krisis suplai air bersih, serta potensi kebakaran lahan dan permukiman,” pungkasnya.

EDITOR: Nurul Adriyana Salbiah