JawaPos.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat mitigasi menghadapi kondisi kemarau yang semakin kering akibat pengaruh fenomena El Niño.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai meningkatnya risiko kebakaran, kekurangan air bersih, hingga dampak cuaca panas.
Kepala BPBD Kota Surabaya Irvan Widyanto mengatakan, kondisi lingkungan yang semakin kering membuat material di sekitar permukiman lebih mudah terbakar.
Baca Juga: Awali Championship 2026/2027 dengan Poin Minus, Manajemen Semen Padang FC Ungkap Kronologi
Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya api, terutama membakar sampah di lahan terbuka.
“Kita harus selalu waspada karena ketika paparan sinar matahari berlangsung terus-menerus, kekeringan dapat meningkat. Kondisi tersebut membuat bahan-bahan di sekitar menjadi lebih mudah terbakar,” kata Irvan, Jumat (11/9).
Menurutnya, kewaspadaan perlu ditingkatkan terutama di kawasan permukiman padat. Jarak antarbangunan yang relatif berdekatan dapat membuat api lebih mudah menjalar apabila terjadi kebakaran.
“Terutama di rumah-rumah padat penduduk, kerawanannya cukup tinggi. Karena itu, antisipasi harus dimulai dari kesadaran masing-masing individu,” ujarnya.
Selain ancaman kebakaran, masyarakat juga diminta bijak dalam menggunakan air bersih. Penghematan air diperlukan untuk menjaga ketersediaan sumber daya air selama periode kemarau yang lebih kering.
Irvan juga mengimbau warga menyesuaikan aktivitas di luar ruangan dengan kondisi cuaca.
Saat matahari terik, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah, menggunakan pelindung seperti topi atau payung, serta memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi.
“Karena kondisi El Niño dapat berlangsung cukup panjang, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Hindari membakar sampah di lahan terbuka, kurangi aktivitas di luar ruangan saat siang hari, dan bijak menggunakan air bersih,” katanya.
BPBD Surabaya, lanjut Irvan, juga melakukan langkah mitigasi secara berkelanjutan.
"Edukasi diberikan kepada masyarakat melalui berbagai lingkungan, mulai dari sekolah, pondok pesantren, lingkungan warga, hingga media sosial," katanya/
Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat memahami risiko yang muncul akibat kondisi cuaca kering sekaligus mengetahui tindakan sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo Taufiq Hermawan menjelaskan, El Niño dapat memengaruhi pola cuaca di Indonesia dengan menurunkan curah hujan di sebagian besar wilayah.
Kondisi tersebut dapat membuat kemarau berlangsung lebih kering dan berpotensi lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
“Secara umum, dampak El Niño di Indonesia adalah berkurangnya curah hujan di sebagian besar wilayah. Ketika curah hujan berkurang, sumber daya air seperti waduk, sungai maupun sumur juga dapat mengalami penurunan,” jelas Taufiq.
Dia mengatakan, kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui pengelolaan sumber daya air dan kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau.
"Terlebih, El Niño diprakirakan masih berlangsung hingga Februari 2027 dan berpotensi memundurkan awal musim hujan," jelasnya.
Prakirawan BMKG Juanda, Andrie Wijaya menambahkan, potensi dampak kemarau di Surabaya berbeda di setiap wilayah. Surabaya Barat dan Selatan yang memiliki lebih banyak vegetasi serta lahan terbuka perlu mewaspadai potensi kebakaran.
Sementara kawasan Surabaya Utara dan Timur, khususnya wilayah pesisir, juga perlu memperhatikan potensi banjir rob dan angin kencang. Adapun Surabaya Pusat perlu mewaspadai kondisi kekeringan dan angin kencang, terutama karena tingginya aktivitas masyarakat.
“Untuk hidrometeorologi kering di Surabaya, yang perlu diwaspadai antara lain kekeringan meteorologis, krisis suplai air bersih, serta potensi kebakaran lahan dan permukiman,” pungkasnya.