← Beranda
Isu Sesar Baru di Surabaya-Madura, BMKG: Pemetaan Lama, Dirilis 2017
Ardini PramithaKamis, 10 September 2026 | 22.14 WIB
BMKG memastikan sesar di Surabaya dan Madura bukan temuan baru. Data tersebut telah dipetakan sejak 2017 dan kembali viral di media sosial. (Istimewa)

JawaPos.com - Informasi mengenai kemunculan sesar atau patahan aktif baru yang disebut melintasi Bangkalan, Surabaya, hingga Sidoarjo dipastikan tidak benar. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut informasi itu berasal dari data pemetaan lama, yakni 2017, yang kembali viral di media sosial.

Plt Kepala BMKG Stasiun Geofisika Pasuruan Suwarto mengatakan, sesar yang ditampilkan dalam video viral tersebut bukanlah temuan baru. 

Pemetaan mengenai keberadaan sesar di kawasan Surabaya dan Madura telah dilakukan dan dipublikasikan sejak tahun 2017.

Baca Juga: Warga Surabaya Jangan Panik soal Sesar Kendeng, tapi Kenali Risikonya

“Sebenarnya kalau videonya itu mungkin dia reupload ya. Maksudnya dia buat baru, tetapi data-data yang dipakai itu sebenarnya data lama. Sesar yang ada itu sudah lama terpetakan, jadi dari tahun 2017 itu sudah dirilis,” ujar Suwarto saat dihubungi, Kamis (10/9).

Menurut Suwarto, kesalahpahaman muncul karena informasi lama tersebut dikemas seolah-olah sebagai temuan sesar baru.

Padahal, keberadaan sejumlah sesar di kawasan tersebut telah tercatat dalam peta sumber gempa.

“Mungkin yang membuat salah paham, dia membuat kontennya itu kok sesar baru gitu loh. Ini yang mungkin menjadi salah paham atau salah pengertian ya, karena itu sesarnya sudah lama dalam peta,” katanya.

BMKG menjelaskan bahwa wilayah Surabaya dan Madura memang memiliki sejumlah struktur sesar.

Baca Juga: Pakar ITS Minta Pemkot Pasang Alat Monitoring untuk Pantau Sesar 

Namun, keberadaannya tidak berarti terdapat satu patahan yang tersambung langsung dari Surabaya menuju Bangkalan.

Di kawasan Surabaya, terdapat sistem Sesar Kendeng yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Sistem tersebut memiliki sejumlah segmen, di antaranya Sesar Waru dan Sesar Surabaya.

Sementara itu, wilayah Madura termasuk dalam sistem Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS).

Di Kabupaten Bangkalan sendiri terdapat beberapa segmen, seperti Sesar Socah, Sesar Drajat, dan Sesar Ketapang.

Baca Juga: Viral Surabaya Disebut Punya Sesar Aktif Baru, Pakar ITS : Tak Ada Data Resmi

Salah Paham, Sebut Data Lama sebagai Data Baru

Suwarto menyebut keberadaan segmen-segmen tersebut juga bukan informasi baru.

“Dalam sesar RMKS itu terbagi menjadi beberapa segmen. Di Bangkalan itu ada Sesar Socah, Sesar Drajat, dan Sesar Ketapang. Nah, itu sebenarnya sudah dipetakan dari tahun 2018,” jelasnya.

“Jadi dia sebenarnya menyampaikan data yang ada, tapi salah pahamnya dia menyatakan sesar baru, itu yang enggak pas,“ lanjut Suwarto.

Ia juga menyoroti visual peta yang beredar dalam video tersebut. Berdasarkan peta resmi Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen), tidak terdapat satu jalur sesar yang menerus secara langsung dari Surabaya hingga Madura.

“Kalau di sumber Pusgen itu enggak ada yang menerus dari Surabaya sampai Madura. Karena sesarnya berbeda. Kalau di Surabaya itu segmen Sesar Kendeng, kalau di Madura itu RMKS, jadi terpisah,” tegas Suwarto.

Baca Juga: Surabaya Terasa Sangat Panas, Suhunya Tembus 35 Derajat dengan Kecepatan Angin 41 km/jam

Ia mengaku tidak mengetahui sumber visual yang digunakan dalam video viral tersebut hingga seolah menggambarkan satu jalur patahan yang menghubungkan Surabaya dan Bangkalan.

“Kalau saya lihat videonya kok dia menerus gitu, nah itu enggak tahu sumbernya dari mana dia mengambil,” lanjutnya.

BMKG memastikan sampai 2026 belum ada pembaruan yang menyatakan ditemukannya sesar aktif baru di kawasan tersebut. 

Acuan pemerintah masih menggunakan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia yang disusun Pusgen bersama kementerian dan lembaga terkait, BMKG, Badan Geologi, serta kalangan akademisi.

BMKG mengimbau masyarakat agar tidak langsung panik ketika menemukan informasi mengenai sesar yang beredar di media sosial.

Baca Juga: Nama Berubah, Lokasi Tetap: Kantor Imigrasi Surabaya Kini Bernama Imigrasi Juanda

Pemetaan sesar, menurut Suwarto, justru merupakan bagian penting dari upaya pengurangan risiko bencana.

Informasi mengenai keberadaan sumber gempa diperlukan pemerintah daerah untuk menentukan kebijakan pembangunan dan penataan ruang, termasuk penerapan standar bangunan tahan gempa.

“Tujuannya lebih mengarah ke mitigasi dan penataan tata ruang untuk pembangunan. Jadi disampaikan ke pemda. Jadi kalau mau bangun harus sesuai standar bangunan tahan gempa.’”

Suwarto menilai kembali ramainya informasi tersebut lebih disebabkan oleh meningkatnya perhatian masyarakat terhadap isu kebencanaan, sementara data yang digunakan sebenarnya sudah tersedia sejak lama.

“Jadi, sebenarnya itu sudah lama, tapi karena masyarakat baru perhatian ke situ, ada yang memanfaatkan jadi heboh lagi,” pungkasnya.

Baca Juga: Pengakuan Sopir Alphard yang Bikin Kecelakaan di Menur Pumpungan Surabaya: Ngantuk

EDITOR: Bayu Putra