← Beranda
Viral Surabaya Disebut Punya Sesar Aktif Baru, Pakar ITS : Tak Ada Data Resmi
Ardini PramithaRabu, 9 September 2026 | 21.26 WIB
Surabaya disebut miliki patahan baru. (Istimewa).

 

 

 

JawaPos.com - Informasi mengenai adanya sesar aktif baru di Kota Surabaya tengah ramai diperbincangkan di media sosial. Dalam video yang beredar, disebutkan terdapat patahan yang melintasi wilayah Surabaya.

Namun, informasi tersebut mendapat sorotan dari Pakar Geologi sekaligus Peneliti Senior Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si. 

Sebab, video tersebut tidak menunjukkan data maupun peta resmi yang menjadi dasar klaim adanya sesar aktif baru.

Amien mengatakan, informasi terkait sesar seharusnya disertai data yang dapat diverifikasi. Terlebih, terdapat sejumlah lembaga resmi yang memiliki data dan peta terkait sesar di Indonesia.

“Dia kan enggak menampilkan data aslinya, dia hanya ngomong begitu. Mestinya ada peta publikasi dari Kementerian ESDM, sehingga orang bisa melihat kalau memang ada patahan,” kata Amien saat dikonfirmasi JawaPos.com, Rabu (9/9).

Amien menyebut, berdasarkan data yang diketahuinya hingga 2024–2025, sesar yang selama ini dikenal berkaitan dengan wilayah Surabaya adalah Sesar Surabaya dan Sesar Waru.

“Yang lewat Surabaya biasanya itu dua itu, Sesar Surabaya sama Sesar Waru,” ujarnya.

Karena itu, Amien mengaku belum menemukan data resmi yang menunjukkan adanya sesar aktif baru di Surabaya seperti yang disebutkan dalam video viral tersebut.

“Ini benar apa enggak? Kita mencari di ESDM, di Badan Geologi juga enggak nemu. Yang ada ya itu,” tegasnya.

Meski demikian, Amien tidak menutup kemungkinan adanya pembaruan data. Sebab, informasi yang diketahuinya merupakan data hingga 2024–2025. Apabila pada 2026 terdapat temuan baru, seharusnya hal tersebut sudah dapat ditunjukkan melalui data resmi terbaru.

“Ini kan 2026, mungkin saja sudah ada. Cuma kita enggak tahu. Mestinya dia menampilkan datanya dari Kementerian ESDM,” katanya.

Amien juga mempertanyakan peta yang digunakan dalam video tersebut. Menurut dia, masyarakat perlu mengetahui sumber peta dan data yang digunakan agar informasi tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Menurutnya, seseorang memang bisa memberikan interpretasi atau menambahkan garis pada peta. Namun, interpretasi tersebut harus memiliki dasar data yang jelas.

“Harusnya data aslinya ditampilkan. Jadi kan ada peta Surabaya, ada garis merahnya. Nah, terus dia mungkin menambahi garis tadi, ‘Lewat sini, lewat sini.’ Boleh-boleh saja karena ada datanya,” jelasnya.

Baca Juga: Penguatan Sistem Mitigasi Jadi Fokus Pemerintah Pasca Gempa Bumi NTT hingga Erupsi Anak Krakatau

Tanpa menunjukkan sumber data asli, lanjut Amien, garis yang ditambahkan pada peta berpotensi hanya menjadi interpretasi pribadi.

“Kalau tidak ada datanya, itu kan seperti membuat garis sendiri,” tandasnya.

Nama Penulis: Ardini Pramitha - ardinipramitha22@gmail.com

 

EDITOR: Kuswandi