JawaPos.com — Kondisi ratusan santri Ponpes Manba’ul Hikam, Desa Putat, Tanggulangin, Sidoarjo, yang diduga keracunan setelah menyantap MBG mulai membaik pada Rabu (2/9/2026).
Muhammad Zaidan Maulana Ihsan, 18 tahun, salah satu santri yang dirawat di RS Siti Hajar Sidoarjo, tetap mendukung program MBG. Namun Zaidan berharap waktu memasak makanan diperbaiki.
Zaidan Mulai Sakit Empat Jam Setelah Menyantap MBG
Zaidan mengaku mulai merasakan sakit perut sekitar pukul 16.00 WIB atau beberapa jam setelah menyantap menu MBG pada pukul 13.00 WIB. Saat itu, dia sempat mengira sakit yang dirasakan hanya gangguan lambung sehingga memilih bertahan hingga malam.
"Sayurnya yang agak pahit dikit gitu, yang bikin anak-anak keracunan. Kejadiannya itu saat dikasih MBG-nya itu jam 1 (siang). Nah, akhirnya efeknya itu sekitar sore jam 4, selesai ashar juga ada sebagian (sakit juga)," ujar Zaidan kepada JawaPos.com, Rabu (2/9/2026).
Dia juga mendengar ada santri lain yang menduga sumber masalah berasal dari buah atau telur. Tetapi menurut pengalamannya sayur terasa berbeda dibandingkan menu lainnya.
Beberapa santri lainnya ada yang merasa buah atau olahan telur yang mereka rasa jadi penyebab keracunan. Dalam kasus Zaidan berbeda, ia merasa sayur di omprengnya yang bermasalah.
Sempat Menolak Ambulans hingga Akhirnya Dirawat
Rasa sakit yang awalnya muncul perlahan membuat Zaidan tidak langsung bersedia dibawa ke rumah sakit. Santri kelas 12 tersebut mengaku tetap bertahan sampai waktu Isya meski pengasuh sudah beberapa kali memintanya masuk ambulans.
"Saya sakitnya itu sekitar jam 4 (sore) habis ashar. Nggih, sakit perut. Saya kira itu kayak sakit lambung, eh ternyata ada keracunan gitu," tutur Zaidan. "Saya tahan sampai Isya, sudah dibilang sama pengasuhnya, suruh masuk ambulan, suruh masuk ambulan, saya tidak mau," lanjutnya.
Zaidan juga menjelaskan para santri menyantap MBG secara bersama-sama, tetapi menggunakan ompreng masing-masing. Dia menyebut kondisi serupa juga dirasakan banyak teman di kelasnya, bahkan ada santri yang memilih tidak menghabiskan sayur karena mencium bau yang berbeda.
Setelah Dirawat, Zaidan Ingin Cepat Pulang ke Pondok
Setelah mendapatkan penanganan di IGD dan menjalani rawat inap di RS Siti Hajar Sidoarjo, kondisi Zaidan dilaporkan sudah membaik. Dia bersyukur tidak lagi merasakan masalah kesehatan dan berharap bisa segera kembali ke lingkungan pondok.
"Ya alhamdulillah langsung di perawatan pertama saya sekarang sudah sehat walafiat, tanpa ada masalah lagi," ujar Zaidan. "Iya. Pengen cepat pulang ke pondok gitu," lanjut santri 18 tahun tersebut.
Tetap Suka MBG, tetapi Minta Waktu Masak Diperbaiki
Meski menjadi salah satu santri yang terdampak dugaan keracunan, Zaidan tidak ingin program MBG dihentikan. Dia justru berharap pengelola memperbaiki proses penyediaan makanan, terutama berkaitan dengan waktu memasak dan pembagian kepada penerima.
"Terkait kalau masalah MBG itu lebih baik memasak saat waktunya dari pagi, bukan jadinya jam subuh melainkan gitu," ungkap Zaidan. “Saya dengar-dengar itu ada yang MBG masaknya di jam subuh, tapi itu dibagi anak pondok kan jam 1 (siang).”
Menurut dia, jeda waktu antara proses memasak dan makanan dikonsumsi perlu menjadi perhatian. Zaidan khawatir makanan yang terlalu lama disimpan bisa mengalami perubahan bau maupun rasa sebelum akhirnya disantap para santri.
Menariknya, pengalaman tersebut tidak membuat Zaidan kapok menerima MBG. Dia mengaku tetap senang mendapatkan makanan gratis karena program tersebut membantu mengurangi pengeluaran untuk uang jajan.
"Ya sebenarnya suka, soalnya buat menghemat uang jajan," ujar Zaidan.
Bagi Zaidan, perbaikan proses penyediaan makanan menjadi hal penting agar MBG tetap bisa dinikmati para santri dengan aman. Harapannya sederhana, makanan tetap gratis, tetapi kualitas dan waktu penyajiannya lebih diperhatikan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.