JawaPos.com - Menjadi mahasiswa bukan sekadar soal mengejar nilai tinggi dan mendapatkan ijazah.
Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Prof. Tri Yogi Yuwono meminta mahasiswa baru mulai membentuk kebiasaan, karakter, dan kemampuan yang akan menjadi bekal setelah lulus.
Pesan itu disampaikan saat membuka Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Unusa 2026 di Kampus B Unusa, Senin (31/8). Tahun ini, PKKMB mengangkat tema “Level Up Our Future” dan “Gear Up for Impact”.
Di hadapan mahasiswa baru, Tri Yogi mengingatkan adanya perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa. Perubahan tersebut, kata dia, seharusnya diikuti dengan perubahan pola pikir dan tanggung jawab.
Baca Juga: Kisruh TKIP-SDIP Pamulang, Dewan Pendidikan Tangsel Minta Wali Murid Jangan Diseret ke Dalam Konflik
“Mulai hari ini, status kalian bukan lagi siswa, tetapi mahasiswa. Ada kata ‘maha’ di depan nama kalian, yang artinya cara berpikir, tanggung jawab, dan kedewasaan kalian harus naik kelas,” ujarnya.
Menurut Tri Yogi, kemampuan akademik saja tidak menjamin mahasiswa bisa menyelesaikan pendidikan dengan baik. Kemauan untuk bekerja keras, disiplin, tekun, dan tidak mudah menyerah justru menjadi modal penting selama menjalani perkuliahan.
Dia mencontohkan, mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik tinggi tetapi tidak memiliki kedisiplinan bisa saja kesulitan menyelesaikan kuliah tepat waktu. Sebaliknya, mahasiswa dengan kemampuan biasa-biasa saja tetap bisa berkembang apabila memiliki kemauan belajar dan daya juang.
“Mahasiswa yang pintar tetapi malas sering kali gagal di tengah jalan dan terlambat lulus. Sebaliknya, mahasiswa yang mungkin kemampuannya biasa saja, tetapi memiliki mental kerja keras, rajin, disiplin, dan pantang menyerah, mereka yang akan berhasil menaikkan kualitas dirinya,” katanya.
Tri Yogi juga meminta mahasiswa baru tidak menjadikan IPK sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan selama berada di kampus.
Menurut dia, dunia kerja dan masyarakat membutuhkan kemampuan yang tidak selalu diperoleh dari materi perkuliahan. Mahasiswa perlu melatih komunikasi, kepemimpinan, kemampuan bekerja dalam tim, berpikir kritis, hingga menyelesaikan persoalan.
Karena itu, mahasiswa didorong tidak pasif selama kuliah. Mereka bisa mendapatkan pengalaman tersebut melalui organisasi, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), kegiatan pengabdian masyarakat, maupun berbagai proyek.
“Soft skills seperti kemampuan berkomunikasi, kepemimpinan, kerja sama tim, berpikir kritis, dan kemampuan menyelesaikan masalah tidak akan kalian dapatkan jika hanya duduk diam mendengarkan dosen di dalam kelas,” tuturnya.
Bagi Tri Yogi, pengalaman berorganisasi dan berkegiatan di luar kelas juga menjadi ruang untuk belajar mengambil keputusan, bekerja bersama orang lain, sekaligus membangun kemampuan memimpin.
Baca Juga: Dilema Jukir Surabaya: Tarik Parkir Non-Tunai, tapi Setor Pakai Tunai
Namun, di tengah dorongan untuk meningkatkan kompetensi, dia mengingatkan mahasiswa agar tidak meninggalkan satu hal yang menjadi bagian penting dari pendidikan di Unusa, yakni adab.
Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, kata dia, harus diimbangi dengan karakter. Mahasiswa tidak cukup hanya dibentuk menjadi pribadi yang pintar, tetapi juga harus memiliki integritas, empati, dan rasa hormat kepada orang lain.
“Di kampus Unusa, kalian tidak hanya dicetak untuk menjadi orang pintar, tetapi ditempa untuk menjadi orang baik,” tegasnya.
Tri Yogi kemudian menekankan enam nilai yang perlu dijadikan pegangan mahasiswa Unusa. Yakni integritas, adab, sopan santun, empati, solidaritas, dan sikap menghormati sesama.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari karakter Rahmatan lil ’Alamin yang ingin ditanamkan kepada mahasiswa. Harapannya, lulusan Unusa tidak hanya memiliki kompetensi ketika masuk dunia kerja, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi lingkungan.
“Kepintaran kalian tidak akan ada gunanya jika kalian miskin adab. IPK 4,00 kalian akan menjadi lembaran kertas tidak berharga jika kalian kehilangan rasa hormat pada kemanusiaan,” katanya.
Pesan tersebut juga menjadi bagian dari makna tema PKKMB tahun ini. “Level Up Our Future” dimaknai sebagai ajakan kepada mahasiswa untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Sementara “Gear Up for Impact” menjadi pengingat agar kemampuan yang dimiliki nantinya bisa menghasilkan manfaat.
Tri Yogi berharap mahasiswa tidak hanya sibuk membangun masa depan untuk dirinya sendiri. Setelah memiliki kompetensi dan karakter yang kuat, mereka diharapkan mampu membawa perubahan positif ketika kembali ke masyarakat.
Baca Juga: Menlu Iran Sebut Netanyahu 'Ular', Hasut AS untuk Terus Berperang dengan Iran
“Karakter Rahmatan lil ’Alamin inilah bekal terpenting kalian agar kehadiran kalian di tengah masyarakat benar-benar membawa dampak kedamaian dan solusi, bukan justru menjadi beban,” ujarnya.
Di akhir pesannya, Tri Yogi meminta mahasiswa baru mengingat perjuangan orang tua yang telah mengantarkan mereka hingga perguruan tinggi. Menurutnya, menjalani kuliah dengan sungguh-sungguh menjadi salah satu cara menghargai pengorbanan tersebut.
Dia pun meminta mahasiswa mulai membangun kebiasaan positif sejak semester pertama, baik dalam belajar, berorganisasi, mengembangkan kemampuan, maupun menjaga sikap.
“Jangan pernah sia-siakan air mata dan keringat orang tua kalian,” pungkasnya.