JawaPos.com - Pembangunan Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) Surabaya diminta tidak dilakukan secara terpisah-pisah.
DPRD Surabaya menilai setiap ruas yang dibangun harus segera tersambung agar jalan tersebut bisa langsung dimanfaatkan dan memberikan dampak terhadap kelancaran lalu lintas.
Anggota Komisi C DPRD Surabaya sekaligus Ketua Fraksi PSI Josiah Michael mendukung percepatan pembangunan JLLB Surabaya.
Menurut dia, jalan tersebut memiliki peran penting untuk mengurangi beban lalu lintas dari kawasan utara, khususnya Teluk Lamong, menuju wilayah selatan Surabaya.
“Kami tentu dukung JLLB lebih karena bisa membantu mengurangi beban lalu lintas dari arah utara yaitu Teluk Lamong menuju ke selatan,” kata Josiah, Rabu (26/8).
Meski mendukung, Josiah meminta Pemkot Surabaya memperhatikan kesinambungan pembangunan.
Menurut dia, pembangunan bertahap bukan masalah selama jarak antar-ruas tidak terlalu jauh dan setiap bagian dapat segera terhubung.
“Pembangunan ini memang masih parsial, tapi kami harapkan jangan sepotong-sepotong jauh, saling jauh antara satu dengan yang lainnya,” ujarnya.
Ia menilai ruas yang telah selesai dibangun harus bisa segera digunakan masyarakat. Dengan begitu, manfaat pembangunan JLLB tidak harus menunggu seluruh proyek rampung.
“Kalau bisa memang dibuat jadi berurutan sehingga jalannya bisa benar-benar dimanfaatkan oleh warga,” tegasnya.
Salah satu proyek yang tengah dikerjakan Pemkot Surabaya pada 2026 adalah ruas Raya Sememi–Simpang Romokalisari sepanjang sekitar 1,65 kilometer. Ruas tersebut ditargetkan rampung pada Juli 2027.
Secara keseluruhan, JLLB diproyeksikan menjadi salah satu jalur penting di Surabaya Barat.
Jalan tersebut akan menghubungkan sejumlah kawasan, mulai Sememi, Gelora Bung Tomo (GBT), hingga Teluk Lamong.
Kehadiran JLLB juga diharapkan dapat menyediakan jalur alternatif bagi kendaraan berat dan angkutan logistik.
Dengan begitu, tekanan kendaraan di sejumlah jalan arteri dalam kota dapat dikurangi.
Namun, Josiah mengingatkan pembangunan konektivitas Surabaya Barat tidak cukup hanya mengandalkan JLLB.
Pemkot juga perlu memperhatikan jaringan jalan lain yang menjadi pendukung, termasuk Jalan Lingkar Dalam Barat (JLDB).
Menurut dia, JLDB saat ini juga menghadapi persoalan kemacetan. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena sejumlah bagian trase berada di kawasan lahan milik pengembang dengan ruang jalan yang relatif terbatas.
“Bukan hanya JLLB yang dikerjakan, tetapi JLDB ini kan memang PR karena lahannya banyak di daerah developer dan relatif lebih sempit. Ini harus diperhatikan oleh Pemkot supaya juga dikerjakan karena sekarang juga macet sekali kan untuk JLDB-nya,” pungkas Josiah.